And Then There Were None: Mencekamnya Menunggu Giliran Kematian

Novia Sarifa Az-zahra, 10 July 2020

Judul                           : And Then There Were None (Lalu Semuanya Lenyap)

Pengarang                   : Agatha Christie

Jumlah Halaman          : 288

Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit               : 2017 (cetakan kedua belas)

 

 “Sepuluh anak Indian makan malam; seorang tersedak, tinggal sembilan. Sembilan anak Indian begadang jauh malam; seorang ketiduran, tinggal delapan. Delapan anak Indian berkeliling Devon; seorang tak mau pulang, tinggal tujuh…Seorang anak Indian yang sendirian; menggantung diri, habislah sudah.”

 

Apa yang sekiranya akan Anda rasakan jika satu persatu orang di sekitar Anda tewas secara tiba-tiba? Sepuluh orang asing harus menghadapi kenyataan mencekam yang meneror mereka sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Indian. Sepuluh orang dengan sejarah kelamnya masing-masing awalnya diundang dan datang tanpa rasa curiga. Mereka tidak tahu bahwa mereka datang untuk menunggu giliran kematiannya masing-masing.

 

And Then There Were None (Lalu Semuanya Lenyap) adalah novel karangan penulis misteri perempuan terkenal dari Inggris, Agatha Christie, yang pertama kali terbit pada 1939. Novel ini awalnya bernama Ten Little Niggers (Sepuluh Anak Negro) yang kemudian mengalami pergantian nama menjadi And Then There Were None dan nama lain yaitu Ten Little Indians (Sepuluh Anak Indian). Kisah dalam novel ini telah diadaptasi menjadi bermacam-macam film, pertunjukan teater, acara televisi, dan karya lainnya. Walaupun portal berita The Guardian mengatakan bahwa novel ini berhasil terjual sebanyak lebih dari seratus juta kopi dan dinobatkan menjadi novel kriminal terlaris sepanjang masa, novel ini tidak mendapatkan penghargaan khusus. 

 

And Then There Were None menempati urutan pertama dalam pilihan novel favorit pembaca Christie sedunia dan diikuti dua novel terkenal lainnya yaitu Murder on the Orient Express serta The Murder of Roger Ackroyd. Namun, And Then There Were None cukup berbeda dengan dua novel tersebut karena tidak melibatkan aksi karakter detektif terkenal Christie, baik Hercule Poirot maupun Miss Marple. Dalam bagian sinopsisnya, penerbit Gramedia bahkan menyebut novel ini sebagai novel detektif tanpa detektif.

 

Kisah misteri yang disajikan And Then There Were None memang tidak melibatkan detektif. Novel ini menceritakan sepuluh orang asing—tanpa detektif di antara mereka—dengan sejarah kelamnya masing-masing diundang untuk datang ke sebuah pulau terkenal oleh sepasang suami istri. Anehnya, sepasang suami istri itu tidak pernah muncul. Lalu kejadian-kejadian aneh lain mulai terjadi hingga salah seorang di antara mereka ditemukan tewas. Tidak hanya berhenti di situ, rupanya kematian juga menghampiri orang-orang lainnya satu persatu. Cara mereka tewas pun mirip dengan isi sajak “Sepuluh Anak Indian”. Orang-orang yang tersisa akhirnya mencurigai satu sama lain. Kecurigaannya juga selalu berganti seiring dengan munculnya kematian-kematian yang baru. Nahasnya lagi, mereka terperangkap di sana—tanpa jalan keluar dari pulau.

 

Ide cerita yang disajikan dalam novel ini memang sukses membuat pembaca tercekam. Ketegangan yang disajikan melalui kematian satu persatu para tokohnya membuat pembaca ikut terbawa suasana dan di sisi lain terus-menerus penasaran dengan akhir penyelesaiannya. Ceritanya juga mengalir dengan sangat efisien. Tidak ada adegan yang tidak penting dan terasa janggal. Jika memang ada yang janggal, maka itu bagian dari misteri yang harus dipecahkan oleh para tokoh. Karakterisasi masing-masing tokoh juga dilakukan dengan baik oleh Agatha Christie. Walaupun berjumlah sepuluh orang, para pembaca bisa dengan cepat membedakan masing-masing tokoh utama dengan ciri khasnya.

 

Menurut saya, plot twist ending yang dipilih Christie untuk menjadi akhir penyelesaian novel ini terkesan sangat tajam. Boleh jadi semua kemungkinan dugaan yang Anda pikir akan berbeda jauh dengan kebenaran yang disajikan di akhir cerita. Hal tersebut mungkin akan membuat beberapa pembaca kagum, akan tetapi saya malah merasa sia-sia telah berpikir keras untuk dugaan yang keliru.

 

Bagaimanapun novel dengan plot twist ending memiliki penggemarnya masing-masing. Bagi pembaca yang menyukai akhir tak terduga, maka novel ini harus masuk ke dalam daftar bacaan Anda. Jika mengesampingkan kekurangpuasan saya terhadap plot twist ending yang terlalu tajam, maka novel ini sebenarnya sangat bagus. Kesan yang mencekam pun terasa melalui ide ceritanya yang unik. Saya rasa novel ini pantas menempati urutan pertama novel favorit pembaca Christie sedunia.

 

Teks: Novia Sarifa Az-zahra

Foto: Istimewa

Editor: Ruth Margaretha

Pers Suara Mahasiswa UI 2020

Independen, Lugas, dan Berkualitas