Apa Kabar Pemira UI 2020?

Fadila Ardana,  Sbastian Rai, 08 September 2020

Pemilihan Raya Universitas Indonesia atau yang dikenal dengan Pemira UI merupakan sarana suksesi lembaga kemahasiswaan yang dilaksanakan di lingkungan Universitas Indonesia yang bertujuan untuk memilih Ketua dan Wakil Ketua BEM UI secara berpasangan, Anggota MWA UI UM dan Anggota DPM UI yang bersifat perseorangan. Pemira UI 2020 tak lama lagi akan digelar dan siap meregenerasi kepemimpinan lembaga kemahasiswaan yang ada. Namun, sistem Pemira kali ini rasanya akan berbeda dari Pemira tahun 2019. Pemberlakuan pembelajaran jarak jauh (PJJ) memaksa berbagai kegiatan di universitas untuk beralih ke daring, tak menutup kemungkinan Pemira 2020 mendatang harus menyesuaikan keadaan saat ini.  

Pemira: Dari E-Voting ke Paper Voting
Pemira secara daring dan menggunakan e-voting ternyata bukanlah hal yang baru. Bahkan sistem ini sudah dimulai sejak tahun 2015 hingga terakhir pada Pemira 2018 lalu.  Mekanisme e-voting pada 2018 masih terbatas karena para pemilih diharuskan tetap datang ke bilik suara yang telah disediakan perangkat elektroniknya. Selain itu, berbagai mata acara lain, seperti kampanye dan eksplorasi fakultas masih dilaksanakan secara langsung atau offline.

Pemira 2019 kemudian membawa perbedaan dalam sejarah Pemira-Pemira sebelumnya karena sistem pada Pemira tersebut beralih dengan menggunakan sistem pemilihan berbasis kertas, layaknya sistem pemilihan di Komisi Pemilihan Umum. Pergantian ini dilakukan dikarenakan adanya audit terkait sistem e-voting pada Pemira tahun sebelumnya.

Pergantian sistem yang menjadi pemilihan berbasiskan kertas merupakan tantangan pada saat itu. Fachri Muchtar, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik selaku Project Officer (PO) Pemira 2019, membeberkan kendala utama yang dihadapi oleh dirinya dan panitia Pemira tahun itu. Baginya, tolok ukur sangat diperlukan dalam sistem pemilihan yang baru tersebut. “Karena ini pertama kali setelah sekian lama kita menggunakan e-vote, jadinya Pemira 2019 harus mencari benchmark (tolok ukur-Red). Nah, kami menggunakan sistem pemilihan KPU sebagai benchmark kami,” beber Mijo.

Perjalanan Pemira 2019 lalu nyatanya tak semulus yang dibayangkan. Pemira 2019 bahkan terlambat dari jadwal yang diperkirakan dan harus meniadakan berbagai mata acara, seperti Debat tematik dan Eksplorasi Fakultas. Hal ini tidak lain disebabkan kekosongan peserta Calon Ketua dan Wakil BEM 2019. “Kendala yang mungkin dirasakan oleh temen-temen panitia adalah tidak adanya calon eksekutif (BEM) hingga perpanjangan waktu terakhir.  Sehingga harus beberapa kali melewati mekanisme kongres,” sambung Mijo.

Akan tetapi, Pemira harus tetap berjalan, bahkan tak terasa ikatan keluarga mahasiswa (IKM) UI sudah akan menghadapi Pemira 2020. Pemira 2020 mendatang sepertinya tidak mungkin untuk dilaksanakan seperti Pemira-Pemira sebelumnya, mengingat situasi pandemi yang belum usai dan pemberlakuan PJJ di Universitas Indonesia. Fawzi Muhtadi, selaku Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UI, menuturkan bahwa jadwal pelaksanaan Pemira tahun ini akan tetap dimulai dari Oktober hingga Desember sesuai peraturan rektor yang membahas tentang organisasi dan tata laksana. 

“Nah, kalau tahun ini kita konsepkan mulai full daring mulai dari pemilihannya yang nanti bisa lewat handphone. Eksplorasi fakultas juga bakal digelar secara online, mungkin teknisnya mirip sama webinar. Kemudian konsep kampanyenya kita juga usahakan untuk online seluruhnya,” Jelas Fawzi.

Adapun untuk merencanakan sistem e-voting ini, Fawzi menyebut bahwa pihak DPM akan mencoba bekerja sama dengan pihak Direktorat Sistem dan Teknologi Informasi (DSTI) UI serta Ikatan Alumni (ILUNI) UI.

Pemira 2020 di masa pandemi: Era baru, Masalah lama (lagi)
Konsep baru yang diusung pada Pemira tahun ini tentu membawa kendala baru, terutama tentang sistem yang akan digunakan dalam e-voting. Sejauh ini, DPM UI sudah mencoba menjangkau pihak DSTI. Namun, Fawzi menyebut belum ada tanggapan yang diberikan padahal pihak mereka sudah mencoba mengontak DSTI melalui pihak Direktur Kemahasiswaan sebanyak 5 kali.

Tidak hanya kendala dalam sistem yang akan digunakan nanti, pihak DPM juga masih menanti-nanti sosok yang akan menempati posisi Project Officer Pemira 2020. Bahkan semua mekanisme pemilihan telah dilakukan oleh pihak DPM UI namun hingga saat ini belum ada satupun yang mendaftar posisi tersebut. 

Partisipasi Politik di Pemira 2020 mendatang
Tingkat partisipasi politik di kalangan mahasiswa di universitas dalam hal pelaksanaan Pemira bisa dikatakan relatif. Menurut Geraldi Ryan Wibinata, Mahasiswa Ilmu Politik 2017 apabila sistem e-voting ini benar-benar dilaksanakan, tingkat partisipasi politik akan meningkat. Peningkatan ini karena dengan sistem e-voting ini mahasiswa mudah untuk menggunakan hak pilihnya. Kemungkinan ini diperkuat jika dibandingkan dengan Pemira dengan menggunakan sistem offline banyak mahasiswa yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam melaksanakan Pemira tersebut. Misalnya, seperti banyak mahasiswa yang malas untuk datang ke tempat pemungutan suara. Apabila sistem e-voting ini diterapkan, dalam hal pemilihan calon kandidat akan lebih mudah. Dalam hal ini, dilihat dari segi efektif atau tidaknya memiliki dua kemungkinan, sedangkan dari segi tingkat partisipasinya juga terdapat dua kemungkinan, “Tapi bisa jadi ga efektif juga (online voting-Red) atau bisa jadi partisipasi nya malah makin turun. 2 peluang itu ada, dia naik karena gampang, atau dia sulit karena orang mager juga sebenernya buat harus input data,” tutur Geraldi

Dalam hal ini, menurut Geraldi adalah bagaimana cara panitia Pemira ini meningkatkan partisipasi dengan propaganda yang baik, alurnya juga tidak boleh tergesa-gesa serta harus lebih kreatif. Selain kandidatnya harus gencar kampanye, panitia Pemiranya juga harus gencar sosialisasi mengenai Pemira pada tahun ini. 

Dosen Ilmu Politik, Cecep Hidayat menjelaskan untuk meningkatkan partisipasi politik pada Pemira tahun ini, kandidat calon dapat mengkampanyekan seluruh program kerjanya dengan menggunakan media yang anti mainstream, misalnya melalui channel youtube,  podcast dan dikemas dengan kreatifitas kandidat calon tersebut. Selain itu, Cecep juga menambahkan contoh strategi yang dapat dilakukan oleh calon kandidat. “Kira-kira apa saja isu yang dapat diolah oleh calon ketua, isu-isu apa yang bisa mereka mainkan, misalnya bagaimana strategi pembelajaran PJJ. Bisa membahas challenge dan cara mengatasi pembelajaran PJJ atau bagaimana mencari kerja setelah lulus di masa pandemi katakan masalah ekonomi, jadi isu-isu yang memang muncul pasca pandemi ini. Selanjutnya, bagaimana kegiatan kedepannya sepanjang 2021 yang harus dikemas,” Sambung Cecep 

Harapan untuk Pemira 2020

Pemira yang rencananya diadakan secara daring ini dengan menggunakan sistem e-voting bagi Fawzy dapat menjadi pilihan baru untuk kedepannya karena dinilai praktis dan tidak memakan waktu. Selain itu, sistem e-voting ini sendiri memunculkan tantangan baru yang harusnya dicermati panitia Pemira. “Harus diseriusin hal seperti ini, jangan cuma memikirkan teknis administrasinya seperti tetapi panitia Pemira juga harus fokus dengan masalah integritas Pemiranya, terutama dengan konteks e-voting,” jelas Gege

Cecep, selaku Dosen ilmu Politik juga mengapresiasi jika sistem e-voting ini benar-benar dilaksanakan. kemudian ia menuturkan “Servernya gimana, masalah server gitu ya. ya ini kalo semua mahasiswa UI melek politik, maksudnya mau partisipasi semua itu kan harus diperhitungkan gitu, segala kemungkinan terburuk harus diperhitungkan,” jelas Cecep.

Harapan juga datang dari Fawzi, Ketua DPM UI 2020. Ia memiliki harapan yang besar teruntuk mahasiswa dan direktur kemahasiswaan dalam menyukseskan Pemira 2020 mendatang. “Untuk IKM, kita minta support, kritik, doa dan dukungan agar nantinya kita bisa memberikan yang terbaik dalam Pemira ui, kita berharap ikm ui dapat turut kontribusi dan juga bisa menjadi oposisi dari kami agar nantinya kami bisa memberikan yang terbaik untuk IKM UI maupun IKM fakultas,”  harapnya.

 

Teks: Fadila Ardana,  Sbastian Rai
Foto: Anggara Alvin
Editor: Faizah Diena Hanifa

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas dan Berkualitas!



include('analytics') @