Aroma Karsa: Ketika Aroma Membengkokkan Ruang dan Waktu

M. Aliffadli, 24 July 2020

Judul: Aroma Karsa
Pengarang: Dee Lestari
Jumlah Halaman: 701
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2018

Indra penciuman kita tak mungkin berbohong. Entah seseorang berbau keringat, wangi cokelat, bau sampah, atau harum bunga, hidung adalah insting purba yang jujur menilai apa yang nikmat, apa yang amis. Itulah tema utama yang digunakan Dee Lestari di novelnya, Aroma Karsa.

Dalam buku, diceritakan Jati Wesi. Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang tempatnya tumbuh, ia disebut si Hidung Tikus. Penciumannya supertajam. Melalui hidungnya, Jati mampu mendeskripsikan sebuah aroma yang tak mungkin dicium oleh hidung biasa sampai sedemikian jauhnya. 

Penggambaran objek yang dibaui Jati dibuat hingga mendetail. Sebuah aroma tak hanya ditulis harum atau busuk saja. Dee Lestari membuat para pembaca seolah-olah dapat berimaji menjadi Jati. Bahkan hanya dengan bau, dalam buku ini kita dibuat menjadi mengerti dan mengenal suatu karakter. Meski ada beberapa istilah kimia yang sulit dipahami, secara garis besar pendeskripsian suatu aroma mampu membuat pembaca tergugah.

Buku ini juga mengeksplorasi mitologi jawa yang rasanya belum pernah disajikan oleh penulis lokal lainnya. Dee membawa kita ke dunia yang ganjil dan menarik. Banaspati yang merupakan mitos digambarkan dengan penuh karakter. Alas Kalingga sebuah lokasi yang penuh misteri dibuat secara hidup. Akan tetapi, dongeng utama dalam buku merupakan bunga sakti bernama Puspa Karsa. Tanaman ini konon mampu mengendalikan kehendak dan hanya mampu diidentifikasi dengan bau. 

Raras Prayagung, seorang konglomerat pengusaha kosmetik ternama, yang terobsesi akan dongeng itu. Ia yakin Puspa Karsa bukan fiktif belaka. Tanaman ini tersembunyi di tempat rahasia dan hanya orang-orang pilihan yang bisa menghirup aromanya. Maka ketika suatu insiden mempertemukannya dengan Jati, ia yakin Jati adalah kunci demi menemukan bunga sakti tersebut. 

Tidak hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras juga mengajak Jati masuk ke kehidupan pribadinya. Di sana, Jati bertemu Tanaya Suma, anak tunggal yang diangkat Raras sejak bayi. Sama seperti Jati, Suma pun memiliki kemampuan penciuman yang serupa.  Semakin dalam ia masuk ke dalam keluarga Parayagung, semakin banyak misteri yang terkuak; baik tentang dirinya, keluarganya, maupun masa lalu yang tak pernah ia tahu. 

Teka-teki yang diberikan oleh Dee membuat pembaca terus menghasilkan hipotesis sendiri. Dee mampu memberikan kompleksitas alur yang mengejutkan dan susah untuk ditebak. Menurut saya, unsur misteri dan teka-teki yang ada dalam buku merupakan kekuatan utama Aroma Karsa. Walau buku ini memiliki halaman hingga tujuh ratus, rasa penasaran dari kelanjutan nasib pada karakter di buku bisa menyebabkan pembaca terus-menerus membalikkan halaman hingga lupa waktu. 

Latar dan karakter dari novel pun terlihat hidup dan nyata. Selain diajak singgah ke TPA Bantar Gebang, ada pula adegan dalam sirkuit di Sentul, pabrik parfum, sampai ke Gunung Lawu yang semuanya berisi plot dan tokoh-tokoh yang cocok dengan realitas sosial yang ada.  Hal ini tentunya karena riset dan dedikasi Dee Lestari untuk novel ini tidak main-main. Dee Lestari melakukan penelitian langsung ke Bantar Gebang, berusaha meracik parfum sendiri, hingga bercakap dengan juru kunci gunung demi mendapat adegan dan untaian kisah yang spesifik. 

Dedikasi yang diberikan Dee demi bukunya tentu berbuah hasil. Bagi saya, Aroma Karsa patut dijadikan karya sastra yang mampu mendobrak batasan antara sains, mitologi, dan kehidupan urban di Indonesia. Buku ini juga penuh dengan roman yang menarik serta tentu saja, akhiran yang klimaks. 

Teks : M. Aliffadli
Foto : Istimewa
Editor : Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas!