Cinta Bukan Cokelat, Apakah Jatuh Cinta Selalu Manis?

Satrio Alif, 07 October 2020

  

Akhir pekan merupakan salah satu waktu paling ditunggu sepanjang minggu. Waktu yang paling asyik untuk merefleksikan diri dan rehat sejenak dari rutinitas padat di hari-hari lain. Akhir pekan biasanya dihabiskan untuk melakukan hal-hal ringan yang menenangkan diri seperti menonton film, membaca buku, bahkan bertamasya. Pada akhir pekan lalu, penulis berkesempatan untuk menghabiskan waktu senggang dengan membaca buku yang berjudul Cinta Bukan Cokelat.

Buku tersebut merupakan karya dari Ketua Program Studi Filsafat Fakultas Ilmu Budaya UI, Dr. L.G. Saraswati Putri atau yang lebih dikenal dengan nama Saras Dewi. Buku yang memiliki ketebalan 127 halaman ini menghadirkan kepada pembacanya pembahasan komprehensif  mengenai cinta dalam filsafat. Bukunya tidak terlalu tebal membuat materi tersajikan secara singkat, padat, dan jelas dengan penuh makna pada setiap kata yang ada di dalamnya.

Buku terbitan Kanisius di tahun 2009 ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan, baik yang memiliki ketertarikan di dalam mendalami bidang filsafat ataupun masyarakat awam dengan kisah cintanya masing-masing. Buku ini akan membawa pembacanya untuk memaknai lebih dalam hal-hal yang dialami di dalam kisah cintanya sehari-hari. Penjelasan logis dan teoritis yang menjadi landasan dari kalimat-kalimat penuh makna yang dirangkai dengan apik oleh Saras Dewi membuat pembacanya larut di dalamnya dan mendefinisikan ulang apa itu cinta.

 

Cinta Tidak Selamanya Manis      

Buku ini membahas cinta dari beragam perspektif. Mulai dari cinta di dalam sudut pandang kemerdekaan sampai dengan cinta di dalam perspektif pengorbanan, semua dibahas di dalam buku ini. Buku ini diawali dengan membahas perbandingan antara cokelat dengan cinta, dua hal yang sering dikaitkan satu sama lain. Cokelat identik dengan rasanya yang manis, lalu apakah cinta pun sama? Belum tentu. 

Akan tetapi, ada satu hal yang pasti yaitu cinta lebih misterius daripada cokelat. Jika ditanya mengenai apa itu cokelat manusia dapat menjawab dengan fasih dan lantang, apakah saat ditanya tentang apa itu cinta manusia dapat melakukan hal yang sama? Tidak. Dalam buku tersebut Saras Dewi mengatakan bahwa faktanya banyak di antara kita yang mengernyitkan dahi dan terdiam berpikir saat ditanya tentang cinta.

Cinta bukan hanya tentang rasa, apakah itu pahit, manis, bahkan masam. Cinta juga bukan hanya tentang simbol-simbol seperti perayaan hari kasih sayang maupun bait-bait puisi. Orang-orang sangat terobsesi dengan rasa dan simbol yang ada di dalam cinta. Padahal, cinta lebih dari itu, sekali lagi cinta lebih dari itu. 

Saras memaparkan di dalam buku Cinta Bukan Cokelat bahwa pengalaman cinta lebih penting daripada sekadar rasa dan simbol cinta. Pengalaman cinta akan mengantarkan manusia terhadap pemahaman terhadap esensi cinta itu sendiri. Sebab cinta sejatinya bukanlah bait-bait puisi yang ada dan bukan pula yang ada di layar kaca, cinta adalah perpaduan maha dahsyat dari upaya, penantian, dan tantangan. Karena hakikatnya cinta jauh lebih misterius dari sebatang cokelat.

 

Cinta Itu Permainan Peran

Legenda-legenda yang menceritakan soal cinta kebanyakan menceritakan tentang kisah manis cinta putri dan pangeran seperti kisah Cinderella dengan sepatu kacanya yang tertinggal. Hal yang wajar jika menyukai kisah legenda, yang jadi masalah ialah saat kita terobsesi dengan cerita tersebut, seolah kebahagiaan baru diraih saat pangeran datang. Kebanyakan orang selalu ingin dipuja dan diselamatkan dalam percintaan seperti Cinderella yang ada di dalam cerita tersebut.

Memang, kebudayaan sangat memengaruhi persepsi kita tentang cinta. Sadar atau tidak, respon kita terhadap peran seperti Cinderella merupakan wujud penjelmaan respon yang memengaruhi tabiat kita saat merespon suatu hubungan percintaan. Contoh sederhananya dapat kita temui dalam kisah cinta kita masing-masing. Dulu, sewaktu remaja kita sering naksir sama seseorang karena ‘perannya’.  Peran tersebut balik lagi ke selera masing-masing seperti ada yang tertarik dengan seseorang yang andal di bidang olahraga ataupun seseorang yang pandai membuat bait-bait puisi. 

 

The Heart was Made to be Broken

Sepotong kata dari seorang sastrawan terkemuka di dunia, Oscar Wilde, mencerminkan bahwa patah hati merupakan konsekuensi dari mencintai. Bagi sebagian besar orang, jatuh hati memang hal terbaik yang pernah mereka alami. Oleh karena itu, patah hati menjadikan mereka jatuh amat dalam. Tengok saja orang-orang di sekitar kita kala patah hati, tentu mereka tidak sedang baik-baik saja. Kita dapat melihat sendiri terjadi banyak perubahan akibat patah hati. 

Memang berada di dalam rasa mencintai seperti berada di tengah badai. Rasanya tak karuan, campur aduk. Saat merasa patah hati, ada rasa benci terhadap mantan kekasih, tapi rindu juga tak kalah hebat. Ada rasa marah atas apa yang telah terjadi, tetapi selalu ingin bertemu dengan sang mantan. Orang yang patah hati meskipun merasa tersakiti, di dalam hati kecilnya rasa cinta itu masih ada meskipun hanya sececah. 

Banyak sekali teori maupun buku tentang bagaimana caranya mengobati patah hati yang mungkin terlihat bagus dan ampuh meredam luka sekaligus rasa kecewa, namun belum tentu dalam pelaksanaannya berjalan sebagaimana yang diharapkan. Obat utama dari patah hati dari stendhal adalah memiliki kemauan untuk melangkah lagi. Dalam mengatasi patah hati, diperlukan determinasi dan kebulatan tekad untuk melepaskan cinta. 

Buku Cinta Bukan Cokelat bukan hanya memaparkan filsafat cinta dalam bahasa yang ringan, buku ini juga menghadirkan pembahasan makna dari cinta dengan berbagai perspektif mencintai. Buat kamu yang sedang patah hati, buat kamu yang sedang mencari tambatan hati, dan buat kamu yang sedang menjalani kisah cinta, buku ini sangat tepat untuk menjadi refleksi tentang segala hal tentang cinta yang kita pahami hingga detik ini.

 

Teks: Satrio Alif
Ilustrasi: Goodreads 
Editor: Rifki Wahyudi

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas