Coco: Tentang Keluarga, Mimpi, dan Cinta

Alya Fadhoil Hanifah, 27 July 2020

Judul Film     : Coco
Sutradara
      : Adrian Molina, Lee Unkrich
Produser       : Darla K. Anderson
Genre Film     : Animasi/Keluarga
Tanggal rilis   : 22 November 2017 (Indonesia)
Durasi             : 109 menit
Pemain           : Anthony Gonzalez, Gael García Bernal, Benjamin Bratt, dll.

 

“That is what families are supposed to do, support you.”

Cerita dimulai dengan sebuah narasi oleh Miguel, seorang anak dari keluarga pengrajin sepatu di Meksiko yang dihadapkan pada dua pilihan antara keluarga atau mimpinya menjadi musisi. Miguel menyukai musik dan mengidolakan seorang musisi legendaris bernama Ernesto de La Cruz. Miguel percaya ada jiwa seorang musisi dalam dirinya, sekalipun keluarganya menentang keras impian sederhana bocah tersebut.

 

Konon, keluarga mereka memiliki pengalaman tidak menyenangkan yang berhubungan dengan musik. Akar permasalahan berawal ketika ayah dari nenek buyut Miguel, yang dipanggilnya Mama Coco, meninggalkan beliau (Mama Coco) dan ibunya karena ingin mengejar impiannya menjadi musisi. Ibu Mama Coco akhirnya memutuskan hidup mandiri dan memulai usaha menjadi pengrajin sepatu yang diwariskan secara turun temurun kepada anak dan cucunya. Meskipun keluarga ini memiliki kebencian yang besar pada musik, Miguel tidak menyerah atas mimpinya. Hingga suatu hari ia mengetahui bahwa Ernesto de La Cruz adalah kakek buyutnya yang dulu meninggalkan Mama Coco dan ibunya.

Masyarakat Meksiko percaya bahwa orang yang telah meninggal akan menjalani kehidupan baru di alam lain bernama Dia de los Muertos / Land of the Dead. Untuk menghormati para leluhur, mereka mengadakan perayaan yang disebut Day of the Dead serta memajang foto agar keturunan mereka selalu mengingat kakek dan nenek moyangnya. Di sini, terlihat film Coco mengangkat tradisi Meksiko yang kental. Faktanya, proses pembuatan film ini memang sangat panjang karena mempertimbangkan seluruh detail cerita dan menjaga keaslian tradisi yang akan diangkat. Pixar Animation Studio memulai proses produksi film pada 2011. Tim mereka bahkan melakukan kunjungan penelitian ke Meksiko, berkolaborasi dengan tim konsultan budaya, hingga mengunjungi museum, pasar, plaza, gereja, dan kuburan di Meksiko yang menjadi inspirasi untuk menciptakan kota fiksi Santa Cecilia yang menjadi latar cerita tersebut.

Singkat cerita, Miguel terseret ke alam tersebut karena mengambil gitar milik Ernesto yang disimpan di sebuah museum. Di sana ia bertemu dengan kakek dan nenek buyutnya yang selama ini hanya bisa dilihat dari selembar foto. Ia juga bertemu dengan Hector, seorang gelandangan yang hampir menghilang dari Land of the Dead karena keluarga yang telah melupakannya dan tidak pula memajang fotonya. Petualangan Miguel semakin seru karena ia harus segera mendapatkan restu dari nenek moyangnya untuk kembali ke dunia nyata. Jika tidak, ia akan menetap di alam itu selamanya. Namun, nenek moyangnya tidak bersedia memberikan restu jika Miguel tetap bersikeras ingin bermain musik. Sebuah ide pun terlintas. Miguel memutuskan untuk meminta restu dari Ernesto de La Cruz yang ia yakini adalah kakek moyangnya. Dibantu oleh Hector, ia akhirnya berhasil menemui Ernesto de La Cruz. Pertemuan inilah yang akhirnya mengungkap berbagai misteri dan kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu.

Coco merupakan film yang dikemas secara apik dengan menyajikan cerita yang menarik untuk diikuti serta didukung oleh animasi yang memanjakan mata penonton. Film ini disutradarai oleh Lee Unkrich yang sebelumnya sukses menggarap film animasi Finding Nemo (2003), Toy Story 3 (2010), dan Monster, Inc (2001). Alur cerita dan pengembangan watak tokoh terjadi secara natural dan tidak terkesan terburu-buru. Miguel, yang pada awalnya sangat keras kepala ingin menjadi musisi, perlahan mulai luluh dan paham akan pentingnya keluarga dalam hidupnya.

Perjalanan Miguel di Land of the Dead menyadarkannya betapa keluarga adalah support system terbaik yang akan selalu menjadi tempat ternyaman untuk pulang. Keluarga Miguel yang awalnya mati-matian melarangnya bermain musik pun mulai memahami bahwa mereka seharusnya mendukung keinginan Miguel, bukan menentangnya setelah tahu kebenaran di balik masa lalu buyut mereka.

Suasana sepanjang film terasa begitu kompleks. Emosi bahagia, marah, sedih, semuanya ditampilkan dengan baik. Tidak lupa twist yang membuat film ini semakin menarik untuk diikuti. Soundtrack yang disajikan pun kental dengan nuansa Meksiko, tetapi tetap easy listening untuk semua orang. Salah satu soundtrack-nya yang berjudul “Remember Me” meninggalkan kesan yang mendalam bagi penonton karena memiliki makna yang mengharukan dan mampu membuat penonton merasakan emosi yang sama dengan para tokoh.

Pengenalan alur dan hubungan antartokoh diceritakan di awal film dengan rinci, sehingga terlihat jelas apa masalah yang akan diangkat dan tidak membingungkan penonton. Film ini mengangkat isu sosial mengenai impian yang tidak disetujui orang terdekat. Bayangkan, keluarga yang seharusnya memberikan dukungan terbaik bagi seseorang untuk meraih mimpi justru tidak menyetujui, bahkan menolaknya. Ini juga secara tidak langsung menjadi sindiran terhadap kenyataan zaman sekarang ketika masih ada orang tua/keluarga yang memaksakan keinginan mereka kepada anaknya.

Walaupun mengangkat tradisi masyarakat Meksiko yang unik, tidak semua kalangan bisa menerima hal tersebut dengan baik, khususnya anak-anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk tetap membimbing anak-anaknya ketika menonton Coco. Film ini memang sudah cukup lama dirilis, tetapi pesan moral yang disampaikan tidak akan pernah “kedaluwarsa” dan cocok untuk menemani waktu santai dengan keluarga selama #dirumahaja.

 

Teks: Alya Fadhoil Hanifah (Kontributor)
Foto: Istimewa

Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas