Defisit Menjadi Kendala Pemberian Subsidi UKT

Rifki Wahyudi, 04 August 2020

Pada Senin, 3 Agustus 2020 telah dilaksanakan audiensi lanjutan oleh mahasiswa UI yang tergabung dalam Aliansi Kolektif Mahasiswa (AKOMA UI) dengan pihak rektorat. Pada kesempatan ini, pihak rektorat turut menghadirkan Devie Rahmawati selaku Direktur Kemahasiswaan UI, Rosari Saleh selaku Warek Bidang Akademik dan Kemahasiswaan,  Vita Silvira sebagai Warek Bidang Keuangan dan Logistik, dan Gede Harja Wasistha yang menjabat sebagai Wakil Dekan II FEB dan menjadi perwakilan dari pihak rektorat yang memaparkan mengenai analisis keuangan di UI.

Pada awal audiensi yang dimulai pukul 19.30, Prof. Wasis menjelaskan hal-hal mendasar mengenai laporan keuangan UI tahun 2017-2020. Dari slide yang dipaparkan, beliau menampilkan keadaan UI selama dua tahun terakhir yang mengalami defisit. 

Dalam pemaparannya disebutkan bahwa ketersedian kas di UI cenderung menurun. Oleh karena itu, untuk menambal celah kebutuhan akibat defisit tersebut diambillah dana dari tabungan. Jika defisit ini terjadi dalam tiga tahun secara beruntun, maka konsekuensi yang akan diterima oleh UI adalah dikeluarkannya dari status Go Public.

“Di dalam kas, paling penting adalah ketersediaan kas. Kalau UI defisit maka untuk menutup defisit tersebut akan digunakan tabungan,” terang Wasis.

Beliau menyampaikan beberapa penyebab terjadinya defisit di UI. Pertama ialah menurunnya dana hibah yang diikuti dana operasional yang terus meningkat. Kedua adalah menurunnya  pendapatan dari BOP.

Tak bisa dipungkiri, pendapatan terbesar dari UI masih bergantung pada BOP yang dibayarkan mahasiswa pada tiap semesternya.

Prof. Wasis dalam pemaparannya juga menjelaskan, jika di UI terjadi subsidi silang yang mana mahasiswa dengan BOP-P mensubsidi mahasiswa dengan BOP-B dan jumlahnya empat kali lebih banyak dari yang disebutkan di Anggaran Rumah Tangga (ART) UI.

“Di sini, di S1 reguler ada sistem subsidi silang, dari gambar ini dapat diketahui (seraya menampilkan slide - red) di ART 25% (mahasiswa yang disubsidi - red), di sini 10 persen mahasiswa mensubsidi 90%,” jelasnya.

Selain faktor-faktor penyebab defisit, Prof Wasis juga menjelaskan mengenai struktur biaya operasional di UI. Gaji dan honor pendidikan menempati puncak tertinggi biaya operasional, yakni sebesar 78%,  disusul dengan penunjang akademik 13%, dan pengelolaan manajemen 9%.

Pihak Dirmawa mengakui bahwa UI sudah mengalami defisit sejak sebelum adanya pandemi yang berdampak pada tiap elemen masyarakat. “UI secara keuangan itu defisit, bahkan sebelum covid.”

Prof. Wasistha juga mengajak para peserta audiensi untuk menggunakan skala prioritas di tengah situasi sulit ini. Ia menyatakan dengan melihat kondisi keterbatasan dana UI saat ini, diperlukan prioritas agar penggunaan dana tepat sasaran.

“Kalau punya uang, pengen gue bantuin nih. Masalahnya kita ga punya kondisi seperti itu. Uang kita terbatas,” imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa sebagai institusi pendidikan, UI harus lebih mengutamakan pendidikan dibandingkan social responsibility.

Fajar Adi Nugraha, ketua BEM UI 2020, mempertanyakan hak-hak mahasiswa yang seharusnya didapatkan. Menurutnya, di masa pandemi seperti ini tidak semua hak mahasiswa terpenuhi, sehingga ia meminta kejelasan mengenai hal itu.

“Dapat dilihat dari UU perlindungan konsumen, dengan demikian kami ingin meminta info pelayanan publik sebagai klien. Kami mempertanyakan masterplan, bagaimana dengan realisasi selama pandemi, bagaimana mahasiswa mendapat manfaat sebagai konsumen dan klien?” tanya Fajar.

Hal senada juga diungkapkan oleh Leon Alvinda, Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) BEM UI 2020. Ia menuturkan bahwa transparansi dan kejelasan mengenai keuangan perlu dilakukan oleh pihak rektorat, terutama di masa pandemi seperti saat ini yang mewajibkan adanya pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pengeluaran dana untuk berbagai fasilitas yang seharusnya diperoleh mahasiswa menjadi tidak diperoleh selama dilakukannya PJJ.

"Rektorat hanya menjelaskan di tahun 2018 dan 2019, namun menurut kami kondisi di masa PJJ berbeda, sehingga penting bagi rektorat untuk memberikan penjelasan mengenai pos-pos anggaran yang membuat defisit," terang Leon.

 

Teks: Rifki Wahyudi
Foto: AKOMA UI
Editor: Faizah Diena

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, Berkualitas!