Dinamika Ospek Daring di UI

Rahayu Zahra, Trisha Dantiani H., 28 September 2020

Ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, mengumumkan bahwa kegiatan pembelajaran di berbagai universitas dan sekolah-sekolah di Indonesia akan berlanjut secara daring, berbagai rangkaian ospek harus beradaptasi dan membuat rancangan program perkenalan kampus yang online-based, tapi tetap efektif mengenalkan seluk-beluk kampus kepada mahasiswa baru.

Pandemi Covid-19 yang masih terjadi hingga saat ini berdampak pada berbagai bidang, termasuk pada kegiatan yang biasa dijalani mahasiswa baru. Mahasiswa baru angkatan 2020 harus melalui masa awal perkuliahan secara daring, mulai dari kegiatan pengenalan kampus hingga proses pembelajaran. Mengenai hal tersebut, Hasna Zahratil, mahasiswa Ilmu Politik 2020 menceritakan pengalaman masa pengenalan kampusnya. Menurut Hasna, ospek daring telah dilaksanakan dengan cukup efektif. Video penjelasan yang diunggah ke kanal Youtube sangat membantu karena bisa diakses kapan saja. Namun, karena pelaksanaannya daring, adanya post test mengenai fasilitas-fasilitas kampus membuatnya agak kesulitan karena ia sendiri belum pernah pergi ke UI. Keberadaan mentor menjadi sangat berperan dalam hal ini. "Para mentor punya engagement yang bagus banget sama para mentees-nya (adik bimbingan—red)! Dan kalo ditanya macam-macam, (mereka—red) responsif dan senang berbagi cerita."

Sayangnya, pelaksanaan kegiatan secara daring membuat Hasna merasa kewalahan akan banyaknya informasi yang ia terima serta kesulitan mencari peer group. “Sebetulnya semua info terkait UI sudah dijelaskan waktu PKKMB, tapi jujur informasinya sangat deras dan banyak jadi susah memprosesnya. Maksudnya, belum terbiasa jadi orang-orang pun beberapa masih bingung tentang aktivasi email UI, dan lain-lain. Tapi learning by doing sih, lagipula bisa nonton ulang videonya di Youtube dan tanya-tanya kating juga,” ujarnya.

Selain itu, Hasna juga mengungkapkan bahwa ospek daring terasa agak melelahkan. “Tentu rasanya beda jauh sama ospek biasa, ga bisa ketemu temen dan semua interaksi dilakukan secara online. Rasanya capek banget harus ketemu Zoom dan buka WA atau Line setiap saat, karena ga update sedikit pasti ketinggalan informasi. Tapi cukup excited karena ospek ini kan bagian dari selebrasi pencapaian diri sendiri karena sudah lolos ke UI!” jelas Hasna.

Selain mahasiswa baru, mahasiswa angkatan sebelumnya pun ikut berperan dalam pelaksanaan ospek daring. Mereka mendaftarkan diri menjadi mentor, mulai dari mentor ospek universitas, fakultas, jurusan, hingga PKKMB. Para mentor ini berperan penting dalam memandu mengenalkan lingkungan dan membantu mahasiswa baru untuk beradaptasi dengan kegiatan perkuliahan.

Syaimma Alia, Ilmu Komunikasi 2019, merupakan salah satu mahasiswa yang menjadi mentor di beberapa ospek. Syaimma menjadi mentor di OKK UI, Oweeks (ospek jurusan Ilmu Komunikasi), dan Inisiasi Komunitas Tari FISIP.

Menurut Syaimma, rangkaian ospek yang membahas mental health, perkenalan kampus, dan hal penting lainnya sudah berjalan dengan efektif dan beresensi. Sayangnya memang beberapa jadwal ospek-ospek daring tersebut ada yang bentrok, sehingga mahasiswa baru tidak bisa mengikuti acara ospek lainnya di waktu yang sama.

“Mungkin karena lagi karantina, ada kesan kalau ya udah, ospek itu kapan aja. Toh mereka di rumah ini, udah enak ga usah pergi-pergi. Padahal ikut ospek online juga capek, ceu. Gue bersimpati kalau ada rangkaian KAMABA daring yang jadwalnya itu fix banget pas weekend dan mentee ga bisa milih mau weekend atau engga,”  kata Syaimma.

Untuk membantu mengenalkan kampus pada mentee-menteenya, ia dan pasangan mentornya mencoba menghibur dan mengedukasi mentee-mentee dengan cara-cara kreatif dan menarik, seperti tur UI menggunakan Google Maps, ngobrol tentang stereotip-stereotip yang ada di setiap fakultas, dan berbagi cerita hantu dan rumor-rumor kocak tentang UI.

“(Usaha menghibur mentee tersebut—red) untuk memastikan bahwa mentee ga melihat tugas ospek sebagai beban. I can only do so much ketika mode komunikasi kita hanya chat dan video call. Gue sih mencoba untuk mengenalkan UI ke mentee-mentee gue dengan cara yang santai,” ujar Syaimma.

Lain lagi dengan Andhika Rafi Permana, seorang mentor PKKMB. Ia merasa rangkaian ospek daring cukup efektif. Mahasiswa baru dapat memperoleh banyak masukan dan materi dari orang-orang yang ahli di bidangnya, seperti dubes, CEO, dan petinggi-petinggi institusi negara. “Menurutku, kedua hal ini akan memunculkan rasa bangga untuk para maba karena mereka merasa, 'Wah, gue udah keterima di kampus nomor 1 di negara ini'. Di acara ini aja banyak diisi oleh orang-orang ternama,” kata Andhika.

Namun ia menyadari adanya berbagai kendala yang datang dari ospek daring. Salah satunya  tugas yang harus dikerjakan mentee yang belum tentu didukung oleh ketersediaan alat di tempat tinggal. Andhika menceritakan tentang salah seorang menteenya yang tinggal di Kepulauan Seribu, yang rela pergi ke pulau sebelah agar dapat mencetak tugas berwarna karena tingkat antusiasme yang tinggi.

Andhika merasa bahwa ospek tahun ini mengalami kekurangan SDM yang menyebabkan pekerjaannya sebagai mentor menjadi tumpang-tindih. Ia sendiri harus mengurusi tiga kelompok sekaligus yang totalnya berisi 45 orang. Mentor pun perlu menginput nilai post test setiap harinya untuk semua anggota kelompok. Hal ini cukup melelahkan bagi Andhika yang harus mengisi nilai untuk 45 anak selama 5 hari yang memakan waktu 7 jam saja.

“Kalau seandainya UI mempublikasikan PKKMB lebih luas ya bebannya akan lebih manusiawi sih, tapi sayangnya kondisi di lapangan kan UI cuma punya 1/3 dari jumlah SDM yang diperlukan untuk menjalankan acara sebesar ini dengan optimal supaya panitia-panitia  yang ada ga overload kerjaannya,” ujar Andhika.

Seperti Syaimma, Andhika berusaha memberikan informasi-informasi mengenai UI kepada mentee-mentee lewat sumber daya yang ada “Sejujurnya kurang sih, soalnya informasi yang mereka dapat tentang UI ya cuma berasal dari video-video yang dikasih selama PKKMB aja. Tapi ya sebenernya info dari situ pun udah sangat memadai sih, aku bahkan dapat info-info yang aku baru tau meskipun aku udah semester lima," tutupnya.

 

Teks: Rahayu Zahra, Trisha Dantiani H.
Foto: Chris Montgomery (Unsplash)
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas