Enola Holmes: Ketika Dunia Holmes “Dipinjam” Feminisme

Novia Sarifa Az-zahra, 16 October 2020

Judul: Enola Holmes
Genre film: Petualangan, Misteri, Drama
Sutradara: Harry Bradbeer
Produser: Millie Bobby Brown, Mary Parent
Tanggal rilis: 23 September 2020 (Netflix)
Durasi: 123 menit
Pemain: Millie Bobby Brown, Henry Cavill, Sam Claflin, Helena Bonham Carter, Louis Partridge, dan lainnya

“Lukis gambarmu sendiri, Enola. Jangan mau dipengaruhi oleh orang lain, terutama pria.”

Sehari setelah perilisannya, Enola Holmes langsung berhasil memasuki daftar sepuluh tontonan terpopuler Netflix. Walaupun menceritakan mengenai kisah adik perempuan Sherlock Holmes, film ini tidak murni berasal dunia misteri Sir Arthur Conan Doyle. Enola Holmes diadaptasi dari novel seri Young Adult karangan Nancy Springer yang “meminjam” dunia Sherlock Holmes asli untuk menciptakan dunia misteri baru dengan sasaran penikmat yang berbeda.

Film ini menceritakan Enola Holmes (Millie Bobby Brown dari serial Netflix Stranger Things) yaitu gadis berusia 16 tahun yang cerdas, berani, dan karismatik. Sejak kecil, ia dididik mandiri oleh ibunya yang bernama Eudoria Holmes (Helena Bonham Carter). Walaupun hanya mendapat edukasi dari ibunya yang janda, Enola berhasil tumbuh dengan pengetahuan-pengetahuan seputar sastra, sains, bela diri, serta nilai-nilai feminisme.

Suatu ketika, ibu Enola tiba-tiba menghilang tanpa pamit. Di saat Enola kebingungan akan keberadaan ibunya, ia kedatangan kedua saudaranya, Mycroft Holmes (Sam Claflin) dan Sherlock Holmes (Henry Cavill). Selepas mengetahui bahwa Eudoria menghilang, Mycroft berniat mengirim Enola ke asrama perempuan agar Enola mampu bersikap seperti kebanyakan perempuan di Inggris lainnya. Enola yang tidak setuju lantas meminta tolong Sherlock Holmes—sang detektif terkenal—untuk menjadi walinya dan menolongnya. Namun, Sherlock menolak.

Merasa tidak bisa bebas mengatur hidupnya, Enola pun berencana kabur dari rumah. Rencana itu muncul setelah ia mendapat dorongan dari pesan tersembunyi yang ibunya berikan. Setelah berhasil kabur, Enola berencana mencari ibunya. Namun, di tengah perjalanan, ia malah bertemu Tewkesbury (Louis Partridge)—seorang bangsawan muda yang sedang dikejar masalah.

Alur film ini mengalir dengan seru berkat cara Enola memecahkan dinding keempat. “Dinding keempat” adalah dinding imajiner yang membatasi penonton dan para pemain. Dengan memecahkan pembatas itu, sang pemain pun seakan mampu berinteraksi dengan penontonnya. Efeknya, penonton merasa akrab dan seperti ikut terlibat dalam cerita. Selain dalam Enola Holmes, teknik ini pernah sukses dipakai Harry Bradbeer ketika menjadi sutradara serial BBC Fleabag (2016-2019).

Selain itu, teknik pengambilan gambar dan pengaturan set film Enola Holmes cukup memuaskan. Suasana Inggris pada abad ke-19 cukup berhasil digambarkan melalui permainan kostum dan perlengkapan set lainnya. Bahkan, upaya tim produksi menyiapkan set film ini menjadi topik tersendiri yang sering dibahas warganet pada situs Twitter. Beberapa orang mengaku ingin menonton film lain berlatar era Victoria setelah menonton film ini.

Namun, kekuatan film ini yang utama terletak pada keberhasilannya menyampaikan pesan. Nilai-nilai feminisme sangat kental dibawakan dari awal hingga akhir film. Dalam dua menit pertama contohnya, penonton sudah disuguhkan dengan kebiasaan Enola yang membaca kisah Joan of Arc sejak kecil. Seluruh nasihat dan ilmu yang diterima Enola, pemberonta kan Enola ketika dimasukkan ke asrama perempuan, bahkan detail lain seperti kemunculan tempat pelatihan bela diri khusus perempuan menunjukkan keberpihakan film dalam melawan konsep perempuan di Inggris masa itu. Terdapat pula pesan lainnya yang kemungkinan besar ditujukan kepada remaja secara umum, seperti pesan untuk menentukan hidup sendiri.

Walaupun diisi oleh aktor-aktor terkenal, penempatan tokoh dalam film ini terasa kurang berhasil. Sherlock dalam Enola Holmes cukup berbeda dengan adaptasi Sherlock lain, contohnya kedua sekuel Sherlock Holmes (2009, 2011) milik Guy Ritchie atau serial Sherlock (2010-sekarang) dari BBC. Sherlock pada film ini selalu terlihat elegan, memiliki suara tenang berwibawa, beberapa kali menunjukkan sisi emosionalnya, dan—yang paling aneh—terlihat sangat bugar. Siapa yang akan mengira bahwa pesona Sherlock akan sama dengan pesona Superman? Penampilannya seakan-akan membuat kita berpikir bahwa Sherlock memiliki waktu untuk berolahraga di tengah-tengah kesibukannya menyelidiki kasus.

Sejujurnya, film ini banyak menjatuhkan ekspektasi—khususnya bagi penikmat cerita Sherlock Holmes versi Sir Arthur Conan Doyle. Film ini memang hanya “meminjam” cerita dari dunia Sherlock Holmes yang asli, tetapi ekspektasi orang-orang yang telah akrab dengannya tentu tidak bisa dibendung. Penampilan fisik Sherlock adalah poin pertama yang menjatuhkan ekspektasi penikmat Sherlock Holmes asli. Poin berikutnya adalah perubahan karakter Sherlock yang tiba-tiba menjadi sangat emosional di Enola Holmes. Padahal, Sherlock biasanya dikenal tidak memiliki waktu untuk hal-hal emosional. Nilai-nilai emosional lainnya—seperti ikatan antara Enola dan ibunya atau hubungan asmara antara Enola dan Tewkesbury—memang mendukung unsur drama yang diusung film ini, tetapi lagi-lagi menjatuhkan ekspektasi penikmat Sherlock Holmes asli.

Pada akhirnya, perlu untuk ditekankan sekali lagi bahwa Enola Holmes tidak sepenuhnya datang dari cerita Sherlock Holmes milik Sir Arthur Conan Doyle. Elemen-elemen khas Sherlock hanya “dipinjam” untuk dibuat menjadi dunia misteri baru dengan sasaran penikmat yang berbeda—dalam kasus ini, remaja. Dunia baru dalam Enola Holmes membawa isu-isu yang juga tak kalah penting untuk diingat dan diperjuangkan, seperti feminisme dan kesetaraan gender.

Teks: Novia Sarifa Az-zahra
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas dan Berkualitas!