Hujan Bulan Juni: Mengenang Sapardi melalui Bait-Bait Puisi

Aniesa Pramitha, 14 August 2020

Judul                       : Hujan Bulan Juni: Serpihan Sajak

Pengarang              : Sapardi Djoko Damono

Jumlah Halaman     : 120

Penerbit                  : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit            : 2015 (cetakan keenam)

 

Beberapa waktu yang lalu, hujan yang katanya tabah itu luruh menjadi lara. Bukan di bulan Juni, melainkan bulan Juli. Hujan itu meniadakan seseorang yang disanjung segala umat. Kata-kata yang ditulisnya telah membuat banyak pasang kekasih jatuh cinta. Tak jarang pula karyanya terpampang nyata di undangan pernikahan, membuat semua yang membacanya terbawa hawa romantis dalam setiap diksinya.

Sapardi Djoko Damono, begitulah nama sosok yang kini telah meninggalkan dunia fana ini. Raganya memang sudah tak ada, tetapi karya-karyanya akan selalu dapat kita nikmati. Salah satunya adalah kumpulan puisi Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak. Buku tersebut merupakan antologi yang memuat 102 puisi karya Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI periode 1995—1999 tersebut. Semua puisinya ditulis pada tahun 1959—1994.

Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tersebut merupakan cetakan keenam yang diperbarui sedemikian rupa, termasuk sampulnya. Pada cetakan terbaru tersebut, buku ini dicetak dengan sampul hard cover bergambar bias percik air hujan dan daun berwarna kecokelatan di pojok kanan bawah. Hanya dengan melihat sampulnya, kita sudah dapat membaca suasana dari puisi-puisi karya sastrawan tersohor ini.

Gaya penulisan Sapardi yang khas dengan pemilihan kata yang sederhana mampu membuat siapa pun yang membaca terpana pada bait-bait puisinya. Sapardi tidak membutuhkan kata-kata rumit untuk mendeskripsikan rasa sedih, galau, cinta, atau rindu. Pun tak perlu menuliskannya dalam bait yang panjang. Seperti pada sajaknya yang berjudul Tuan (1980).

Tuan Tuhan, bukan?

Tunggu sebentar, saya sedang keluar

 

Di antara 102 puisi tersebut, setidaknya ada empat puisi yang sampai saat ini akrab di berbagai kalangan, yaitu Yang Fana Adalah Waktu (1978), Aku Ingin (1989), Hujan Bulan Juni (1989), dan Pada Suatu Hari Nanti (1991). Dari empat puisi itu saja, kita sudah tahu bahwa puisi-puisi Sapardi memiliki makna yang dalam tanpa harus menggunakan kata-kata yang rumit. Dari puisi itu pula, kita tahu bahwa puitis itu jelas lebih luas dari sekadar senja dan kopi.

Buku tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Jepang, Arab, dan Mandarin. Tidak hanya itu, tak jarang puisi Sapardi juga dialihwahanakan ke bentuk lain. Puisi Hujan Bulan Juni misalnya, telah dialihwahana dalam bentuk lain, seperti komik, buku mewarnai, novel, dan film. Selain itu, puisi Aku Ingin juga dilagukan oleh duet Ari Malibu dan Reda Gaudiamo.

Selain kumpulan puisi Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak, Sapardi juga meninggalkan “warisan” lain yang berharga untuk sastra Indonesia, baik buku fiksi maupun nonfiksi. Beberapa buku fiksinya yang terkenal antara lain Duka-Mu Abadi (1969), Perahu Kertas (1983), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002), Melipat Jarak (2015), dan Yang Fana Adalah Waktu (2018). Sementara itu, beberapa buku nonfiksinya yang terkenal dan sering dijadikan sumber bacaan oleh mahasiswa Sastra Indonesia yaitu Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999), Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999), Bilang Begini Maksudnya Begitu: Buku Apresiasi Puisi (2010), dan Alih Wahana (2016).

Kini, sastrawan bangsa itu telah meninggalkan kita semua. Kepergiannya menyisakan duka yang mendalam. Puisi-puisinya merupakan salah satu kenang-kenangan yang dapat terus kita nikmati. Memang benar yang fana adalah waktu, tetapi nama dan karyanya akan tetap abadi. Selamat jalan, Eyang Sapardi.

 

Teks: Aniesa Pramitha
Foto: Istimewa

Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI
Independen, Lugas, dan Berkualitas