Kebaya, Gaun Berenda, dan Kopi Dalgona: Sebuah Renungan di Masa Swakarantina

Maitsa Hanifa Setyadi, 18 July 2020

Kalau sedang jenuh, saya sering berpikir mengapa saya ditakdirkan hidup di zaman ini, yakni zaman di mana semua orang bergerak cepat dalam arus. Orang-orang yang suka berkata “Jangan terbawa arus” pun sebenarnya juga produk dari kecepatan arus ini, hanya saja dia membuka jalur baru. Lelah, sangat melelahkan untuk terus mengikuti arusnya. Kita tidak bisa berhenti. Kalau diam, kita terbawa arus. Setiap orang terus bergerak, berlari, entah mengejar apa.

Mungkin itu menjadi alasan naif mengapa beberapa anak muda sekarang menikmati belajar sejarah, menyukai cerita-cerita klasik, film-film klasik, lagu-lagu klasik, pokoknya yang terkesan jadul. Di zaman sebelum semua serba grasah-grusuh ini, saya melihat bahwa orang-orang dapat lebih memaknai waktunya. Mereka makan dengan khidmat, memikirkan filosofi dari setiap masakan, menyeruput teh pelan-pelan hanya karena tahu tanaman teh cuma bisa tumbuh di dataran tinggi tanah tropis-subtropis, memakai gula tipis-tipis karena tahu dalam sekali penyulingan hanya sepertiga gentong yang menghasilkan gula berkualitas nomor satu. Makanan dan pakaian, seperti gula dan sutra, begitu dihargai karena proses pembuatannya yang tidak mudah. Para perempuan berpakaian dengan gaun-gaun renda yang cantik, memakai pita rambut, serta stocking dan baju dalam berlapis, setidaknya di Eropa karena memang iklimnya dingin. Di Nusantara? Perempuan memakai kebaya untuk kegiatan sehari-harinya: pergi ke pasar, ke sekolah, bahkan di rumah saja juga pakai kebaya. Kalau yang waktu TK pernah ikut pawai Hari Kartini, pasti tahu ribet dan lamanya memakai kebaya, dengan bawahan kain tak berjahit. Belum lagi hiasan rambut seperti sanggul atau kepang dua. Kepang dua! Maksud saya, kapan terakhir kali saya melihat secara langsung anak-anak berkepang dua? Saya tidak ingat, rasanya sudah lama sekali.

Baiklah, saya juga tidak akan lupa untuk menyebutkan kalau di zaman dulu ada kekhawatiran, seperti bahaya perang, kelaparan, penyakit yang alih-alih diobati malah dianggap sebagai kutukan, atau kemungkinan kamu dicomot dari rumah karena raja ingin kamu jadi selir keempatpuluhnya. Setidaknya ketika pecah perang di Baghdad, mereka yang tinggal di Bandung tidak akan ikut ketar-ketir karena memang arus informasi yang terbatas.

Kembali ke soal makna. Begini, ketika kita fokus berjalan dalam jalur kita, untuk segala sesuatu yang menjadi tujuan kita sendiri, rasanya segalanya lebih mudah dimaknai. Ketika di zaman ini setiap orang mengekspos dirinya, konon katanya untuk eksistensi. Sadar atau tidak, kita sedang mengejar sesuatu berdasarkan standar orang lain. Itu yang melelahkan. Andai saya lebih pintar sedikit dan menyadari ini lebih dulu, mungkin saya lebih suka menjahit renda di gaun saya sambil minum teh perlahan, daripada sibuk memikirkan rencana hidup untuk sepuluh tahun ke depan sambil tersedak ampas kopi pada jam dua pagi. Sayangnya, tidak. Kini ampas kopi adalah minuman kesukaan saya.

Sekitar empat bulan ke belakang, perubahan metode belajar di kampus menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena pandemi covid-19 membuat saya kembali merenungi ini semua. Apakah ini betul-betul saatnya untuk kembali? Ketika kita harus melambatkan ritme kerja, berdiam diri di dalam rumah, berarti benar ini saatnya mencari makna? Kini yang saya lihat berkeliaran bahkan bukan anak-anak berkepang dua, melainkan seluruh dunia berswasembada dari dapur masing-masing: membuat kudapan manis, memasak masakan spesial setiap hari, dan tentu saja kopi dalgona. Makanan yang selama ini kita pesan sambil lalu lewat aplikasi ternyata bisa kita bikin sendiri, asalkan mau sedikit saja meluangkan waktu untuk berkreasi. Namun, tidak berkreasi pun tidak apa-apa karena mereka membuat kopi itu untuk dinikmati sendiri, bukan pesanan yang mulia pemberi gaji.

Meskipun masih dikejar tugas-tugas seperti biasa karena ini bukan liburan, melainkan pembelajaran jarak jauh, setidaknya ini kesempatan kita. Bukan, bukan untuk membuat kopi dalgona sambil memakai kebaya atau gaun berenda, melainkan untuk menepi sebentar, sedikit saja menikmati jarak, menikmati jeda yang panjang antarketukan. Biar kau nikmati waktumu senikmat sepertiga gentong gula nomor satu.

 

Bogor, 7 April 2020

Opini ini pernah dipublikasikan di blog pribadi remehxtemeh.blogspot.com dengan perubahan seperlunya.

 

Teks: Maitsa Hanifa Setyadi
Foto: Istimewa

Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas