Keberangkatan Mahasiswa KKI Tertunda Akibat COVID-19

Trisha Dantianti H., 14 April 2020

Sejak diterbitkannya Surat Edaran Nomor: SE-703/UN2.R/OTL.09/2020 yang tentang “Kewaspadaan dan Pencegahan Penyebaran Infeksi COVID-19 di Lingkungan Universitas Indonesia”, banyak perubahan terjadi, salah satunya adalah diberlakukannya PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) sampai akhir semester ini. Namun, poin nomor 9 dalam surat tersebut, yang berisi larangan bagi warga UI—baik mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan UI—untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, membuat mahasiswa program Kelas Khusus Internasional (KKI) mengkhawatirkan status keberangkatan mereka, terutama bagi yang memiliki jadwal berangkat di bulan Juni-Juli sampai dengan Agustus-September. Sejumlah negara tujuan universitas mitra luar negeri seperti Malaysia, Australia, Korea, dan negara-negara Eropa pun sedang memberlakukan lockdown atau travel ban bagi pengunjung sehingga  menambah ketidakpastian bagi mahasiswa KKI.

Kemungkinan PJJ di KKI FISIP UI

Dalam Surat Edaran Rektor, pihak UI menghimbau agar pimpinan Fakultas dan Program Studi berkoordinasi dengan perguruan tinggi mitra di luar negeri untuk mencari penyelesaian terkait situasi ini. Namun, beberapa mahasiswa masih belum mendapatkan informasi jelas mengenai status keberangkatan mereka yang berpotensi ditunda akibat wabah virus Corona. Banyak yang masih menunggu kabar lebih lanjut dari program maupun dari berita dunia.

“Gue sih jujur agak kecewa ya, karena kalau pun kita akan tetap berangkat juga, satu, kita sendiri gambling, apakah kita bisa tetap berangkat sesuai harapan, atau misalkan kalau pun kita harus mundur juga kan jatuhnya (lulusnya—red) mundur gitu loh, kita yang harus bisa lulus 3,5 jadi 4 tahun gitu kan,” ujar Duta Noor Vijaya, atau yang kerap disapa Bonie, seorang mahasiswa FISIP program Ilmu Komunikasi KKI angkatan 2018. Sejauh ini, informasi yang didapat menurutnya masih simpang siur. Terdapat solusi dari program KKI, berupa PJJ dengan universitas mitra, tapi banyak mahasiswa yang kurang setuju dengan tindakan tersebut.

“Gue ngeliatnya disini tuh kayak somewhat oke lah kita PJJ, dan bagi gue oke juga kita ga telat berangkat. Tapi disini permasalahannya bayaran semester kita kan tetap jadi di sini, kita ga menggunakan fasilitas di sana sama sekali tapi kenapa kita bayarnya tetap (sama dengan biaya kuliah di universitas mitra—red),” kata Bonie

KKI FEB Menunggu Kepastian

Masing-masing fakultas tentu memiliki sistem kepengurusan berbeda terkait Program Internasional yang dijalankan, sehingga solusi yang diberikan pun berbeda-beda. Hal ini dikatakan oleh Isfandiary Djafaar, Ketua Program Studi KKI Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI yang menjelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan pihak fakultas untuk menanggapi masalah ini, saat Suara Mahasiswa mewawancarainya pada tanggal 3 April silam.

Isfan mengatakan bahwa yang paling terdampak adalah 50 orang single degree yang seharusnya sudah berangkat ke Korea, terhambat akibat wabah Corona, sedangkan sebagian besar mahasiswa double degree sudah diberangkatkan di bulan Januari ke universitas mitra di Eropa dan Australia. Sementara itu, paruh selanjutnya menunggu keberangkatan di bulan Juni-Juli untuk tujuan Australia dan Agustus-September untuk Eropa.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa yang sudah terlanjur berangkat diberikan pilihan, apakah ingin tetap melanjutkan studi di sana atau kembali ke Indonesia untuk melanjutkan studi di FEB UI (dengan catatan dianggap sudah kuliah di luar) namun harus mengejar ketertinggalannya. Bagi kelompok yang belum berangkat, mereka diberi opsi melakukan wajib studi di luar negeri di semester pendek. Namun, menyusul revisi kalender akademik UI, maka keberangkatan saat semester pendek dipastikan batal. Mahasiswa KKI juga dapat memilih untuk blank atau cuti dengan diberikan bantuan 3 SKS di semester berikutnya.

Pihak FEB UI juga memeriksa dengan universitas mitra apakah biaya perkuliahan yang tidak jadi diambil dapat diganti sebagian atau sepenuhnya.

”Kami nggak bisa menggaransi bahwa semuanya akan beres, kenapa? Karena ini namanya force majeure, dalam arti tentu ada cost yang harus dibayar yang di luar kemampuan kita bersama untuk menyelesaikan itu semua,” tutur Isfan.

Isfan menambahkan bahwa skenario ini berlaku pada saat kasus virus Corona masih di tahap-tahap awal memasuki Indonesia, sehingga perlu dirapatkan kembali dengan Wakil Dekan mengenai solusi default bagi mahasiswa KKI.

“Kami engga (bisa—red) putuskan itu sekarang karena kami masih lihat perkembangannya seperti apa. Tapi saya bilang ke mahasiswa, kalian tetap daftar saja as if nothing happens ya. Tapi kita lihat kalau misalnya ternyata di luar negeri itu ditutup karena ternyata mereka masih khawatir, ya kita perlu rapatkan lagi ke dalam apakah mereka wajib ke luar negeri ataukah kewajiban itu menjadi gugur karena bukan kesalahan mereka,” tambahnya.

Isfan mengatakan bahwa ia belum bisa memberikan jawaban pasti karena solusi yang dirangkai pun dapat mengalami banyak perubahan. “Bukan hanya semester pendeknya yang terancam tidak berjalan, tapi juga bisa jadi mahasiswa-mahasiswa kami bukan hanya short semester (yang—red) engga bisa ke luar negeri, tapi bahkan di semester-semester depannya juga belum tentu mereka bisa ke sana,” jelas Isfan.

Reyna Pratita, seorang mahasiswa KKI double-degree FEB UI 2018 mengkonfirmasi bahwa dia memang masih menunggu informasi lebih lanjut terkait keberangkatannya 

“Belum ada info samsek (baca: sama sekali) sih dari KKI-nya juga dan gue belum dapet LOA (Letter of Acceptance—red) sampai sekarang dari pihak Australi juga” kata Reyna. Ia berharap ketentuan yang diberikan UI akan bersifat lebih lunak terhadap kondisi KKI dan agar FEB UI cepat memberikan informasi mengenai apa yang harus ia lakukan kedepannya terkait penerimaan LOA universitas mitra.

KKI FT Memilih untuk Meninjau Per Kasus

Fakultas Teknik (FT) yang memiliki hampir 500 mahasiswa KKI di berbagai jurusan memilih untuk meninjau per kasus, yakni memberikan izin keberangkatan bagi mahasiswa tahun terakhir yang memang butuh ke luar negeri karena syarat kelulusan. Bagi mahasiswa yang belum bisa berangkat dapat melakukannya di semester lain, yaitu dengan mengganti kuliahnya di Indonesia maupun lewat summer school.

Rithwik Nathani, selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Program Internasional (IMPI) FT 2020 telah ada koordinasi dari himpunannya dengan pihak Dekanat FT terkait pemberangkatan mahasiswa KKI. “Kalau dari kita sendiri, dari IMPI, lewat bidang akademis dan keprofesiannya itu udah bantu nyalurin ke Dekanat dari kasus per kasus ini. Terus, kita pas himbauannya keluar, kita langsung koordinasi nih ke koordinator KKI sama Wakil Dekan. Nah dari situ, koordinasinya, keputusannya itu keluar,” katanya.

Ia merasa bahwa mahasiswa KKI FT cukup puas dengan solusi yang diberikan pihak fakultas mengenai situasi ini, tapi yang menjadi kekhawatirannya adalah perpanjangan waktu perkuliahan di semester genap hingga 31 Juli 2020.

“Masa adaptasi dunia kampus kan semuanya diundur ya, sampai semesteran kita juga diundur. Karena semesteran diundur ini juga gatau, kan biasa kalau misalnya mau berangkat kan pasti butuh transkrip, kan? Nah ga tau hasil dari transkrip-transkrip ini bakal bisa keluar ga kalau misalnya mahasiswa semester selesai 31 Juli, mahasiswa udah harus berangkat 3 Agustus, nah itu kan mepet banget, kan?” ujar Rithwik

Salah satu mahasiswa KKI FT double degree yang ingin melanjutkan studinya di Monash University, Michael Jehan, menjelaskan bahwa jika ingin berangkat mahasiswa membutuhkan empat surat: surat persetujuan dari orangtua, surat yang menyatakan di negara tujuan tidak ada travel ban, surat penerimaan universitas mitra dan surat dari pembimbing akademis

“Make sense, karena kalau negaranya masih travel ban ya gimana mau berangkat. Kalo application-nya ga diterima, ya masa mau kuliah ke sana. Tapi kan emang harusnya guarantee kan, kalau misalnya requirement nilai sama requirement IELTS tuh tercapai gitu. Alternatifnya adalah online class sih, tapi kan kita tahu tuition fee partner (universitas—red) itu lebih mahal significantly dari yang di UI. Jadi gimana caranya gitu, bayar sekian banyak duit untuk online class. Meanwhile Skillshare (baca: website pembelajaran online) itu (biayanya—red) 5 dolar bisa satu bulan. Cuma, (itu—red) kan ga bisa dibandingkan kan, lo bisa ngerasa kerugiannya kan,” kata Jehan

Ia sendiri berharap UI akan menyesuaikan perpanjangan waktu semester dengan kebutuhan anak KKI agar pengiriman transkrip ke mitra tidak tertunda. 

“Kan gara-gara begini, ngambil data jadi makin susah jadi need more time lah, Cuman ya, I think itu possible banget buat treatment-nya dibedakan. Tahun terakhir diperpanjang semesternya, tahun yang 1 sampe 3 ditetapkan yang biasa gitu. Harusnya possible banget dan dengan kayak gitu, nilainya bisa diproses, bisa dikirim ke partner uni, aplikasi bisa diproses, terus visa, dengan adanya application yang udah diterima, gampang dong harusnya,” ujar Jehan.

KKI di FH dan FPsi

Untuk program KKI Fakultas Hukum, Rafi Y. Hanif, seorang mahasiswa FH KKI angkatan 2018, mengatakan bahwa pihak fakultas belum memberikan solusi terkait halangan ini namun tetap menyatakan keberangkatan sesuai jadwal.

“Informasi yang sejauh ini telah diberikan oleh pihak fakultas mencerminkan bahwa keberangkatan KKI tetap sesuai jadwal atau dengan kata lain business as usual. Namun, hal ini belum pasti dikarenakan belum adanya keterangan secara resmi dari pihak Dekanat,” kata Rafi.

Sementara itu, Fakultas Psikologi (FPsi), yang hanya memiliki satu universitas mitra yaitu University of Queensland untuk double degree, telah menginformasikan tertundanya keberangkatan di SIAK-NG bagi mahasiswa KKI. Namun, menurut Rika Yuri Yamada, mahasiswa KKI angkatan 2018, pihak fakultas belum memberi kepastian tentang diadakannya kelas online atau tidak.

“Wajar sih, kita dilarang keluar karena siapa tau kan tiba-tiba kena, itu bagus sih menurut gue. Tapi saya harap sih UI ke depan udah lebih siap gitu. Saya rasa tuh, pas kita dapat pengumuman tuh kayak last minute gitu, tiba-tiba dilarang keluar. Kayanya UI sih belum pernah dapet pandemic sih, ga pernah dapet situasi kayak gini jadi mereka juga agak bingung sih mau gimana,” kata Rika.

 

Teks: Trisha Dantiani H.
Kontributor: Zalfa R., Dimas A., Fira Izdihar
Foto: Istimewa
Editor: Nada Salsabila