Kendala Penerapan PJJ

Giovanni Alvita, 10 August 2020

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang saat ini diterapkan sebagai alternatif pembelajaraan di tengah wabah Covid-19 ini. Menteri Pendidikan saat ini, Nadiem Makarim, telah menyatakan bahwa PJJ, khususnya bagi para mahasiswa, diberlakukan hingga awal tahun 2021. PJJ akan menggunakan media elektronik sebagai sarana pembelajaran.

Pembelajaran daring dinilai efektif untuk mencegah menyebarnya wabah Covid-19. Dosen dapat memberikan materi di mana saja dengan waktu yang fleksibel. Selain itu, mahasiswa dan dosen pun tak perlu datang ke tempat yang sama sehingga memperkecil risiko penyebaran virus. Berbagai platform pun tersedia untuk pembelajaran daring, mulai dari Zoom, Skype, Google Classroom, Google Meet, hingga WhatsApp Group. Kuncinya hanya satu: internet yang stabil. Namun, tidak sepenuhnya pembelajaran online membawa dampak positif. Beberapa dampak negatif pun mulai dirasakan oleh para pelajar yang saat ini sedang dalam PJJ. Mulai dari masalah internet hingga konsistensi dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran.

Kendala yang paling sering dialami adalah masalah kuota internet. Tidak semua wilayah di Indonesia memiliki jaringan internet yang baik dan stabil. Hal ini pun menjadi kendala besar bagi pembelajaran daring. Selain itu, harga kuota yang relatif mahal juga membebani para mahasiswa sedangkan tak seluruh universitas memberikan subsidi kuota bagi mahasiswanya.

Kendala  berikutnya adalah berkurangnya konsistensi dan sikap disiplin baik dari dosen maupun mahasiswa. Tak jarang jumlah pertemuan dalam pembelajaran pun dipangkas untuk menghemat kuota internet. Selain itu, tidak semua mahasiswa nyaman dan dapat menerima materi dari pembelajaran daring. Kerap kali terjadi di mana mahasiswa mematikan mikrofon dan kamera, sehingga tidak diketahui apa yang sedang dilakukannya, apakah ia menyimak pembelajaran atau malah melakukan aktivitas lain yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran. Sedangkan dari pihak dosen, tak jarang dosen hanya memberi materi bacaan saja, sehingga diskusi dan proses belajar mengajar menjadi tidak hidup. Pembelajaran hanya menjadi satu arah saja. Padahal yang sangat dibutuhkan adalah jalannya proses diskusi antara dosen dan mahasiswa. Kondisi seperti ini membuat mahasiswa kehilangan orang yang ahli untuk membimbingnya. Materi yang dirasa tidak diterima secara efektif oleh mahasiswa, membuat mahasiswa hanya memenuhi satu target, yakni memenuhi absensi saja.

Kendala-kendala tersebut menyebabkan mahasiswa menjadi sulit berinteraksi secara sosial. Kendala seperti itu juga tidak membangun skill mahasiswa untuk public speaking. Terkadang kegiatan presentasi pun tidak berjalan secara maksimal karena suasana diskusi antara presenter dan audiens tidak hidup.

Dilansir dari Kompas.com, ketika ditanya Najwa Shihab mengenai evaluasi PJJ, Nadiem Makarim menjawab saat ini kendala yang terjadi adalah: 1) Pembelajaran nomor satu adalah terjadi gap atau ketidakrataan pendidikan di Indonesia. Ada beberapa daerah (seperti daerah tertinggal) yang perlu dibantu. 2) Pembelajaran jadi tidak optimal. Tentu karena wabah ini mengharuskan dilakukan pembelajaran daring. Pembelajaran tatap muka langsung memang jauh lebih efektif. Selain itu, Nadiem juga menyebutkan adanya daerah-daerah yang tertinggal yang belum terdapat listrik dan jaringan internet. Hal ini menyebabkan adanya bagi para pelajar yang tinggal di daerah tertinggal untuk mengikuti pembelajaran daring.

Kegiatan bersosialisasi bagi para mahasiswa pun tak luput dari kendala. “Mengurangi sekali (intensitas bersosialisasi -red), koordinasi dengan kepanitiaan dan organisasi jadi terhambat. Belum lagi di rumah harus membantu kegiatan rumah sehingga kurang fokus dalam mengerjakan kegiatan kampus,” ungkap Khalid, mahasiswa Sastra Arab 2018. Rasa kurang produktif dan fase membutuhkan refreshing pun juga mulai dirasakan. “(Saya -red) merasa masih kurang produktif dan kurang bugar, masih mencoba menyesuaikan diri dengan situasi, sebenarnya. Dan rasa bosan juga seperti sudah menggunung. Rasanya butuh refreshing di alam terbuka bersama orang orang yang sudah lama tidak ketemu agar bisa saling menyerap energi positif,” lanjut Khalid.

Namun, sivitas akademika tetap bisa meminimalisir dampak negatif dari PJJ. Menurut dosen Psikologi UI, Inge Uli Wiswanti, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak tersebut. Pertama, manajemen waktu menjadi hal yang amat penting. Kita harus memiliki jadwal yang teratur untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kita perlu membiasakan diri untuk mengatur diri kita sendiri. Kedua, menyesuaikan diri dengan target kerja. “Menyesuaikan target kerja atau dapat dikatakan do your best tapi jangan ngoyo (memaksakan -red). Misalnya sekolah saat ini tidak lagi menuntut agar siswa untuk menyelesaikan tugas sebanyak saat offline class, tetapi lebih menekankan pada insight yang didapat dari materi yang dipelajari, sehingga yang semula dari kuantitas bergeser ke kualitas,” terangnya. Ketiga, usahakan tetap melakukan kegiatan rekreasional, seperti main game atau menonton film, dengan catatan harus tetap ingat waktu.

Keempat, untuk menghindari kelelahan, kita dapat melakukan break singkat, contohnya kita melakukan istirahat selama 15 menit setelah 2 jam kerja. Kelima, manfaatkan platform daring bukan hanya untuk bekerja saja, tapi kita juga perlu mengadakan pertemuan virtual dengan teman atau kerabat. Terakhir, jadilah netizen yang kritis. “Kita harus memilah informasi yang diterima terutama bila informasi itu terkait pandemi saat ini. Perlu dipastikan bahwa berita tersebut berasal dari sumber yang kredibel,” saran Inge. Di samping itu, perbanyak berfokus pada berita yang positif. Hal ini agar kita tidak menjadi cemas berlebihan.

Meski PJJ memuat berbagai dampak negatif, namun di satu sisi kita dapat memanfaatkan masa PJJ itu untuk lebih mengenal diri kita dan melakukan me time yang mungkin selama ini tidak sempat dilakukan, “Karena jadi lebih banyak di rumah maka individu bisa memiliki kuantitas dan kualitas waktu lebih banyak untuk berefleksi dan menggali potensi-potensi yang selama ini mungkin tidak sempat terasah, misalnya bercocok tanam, menjadi YouTuber, berbisnis online dll serta menurunkan resiko terpapar virus atau bakteri di luar rumah,” tutup Inge.
 

Sumber rujukan:

https://bebas.kompas.id/baca/bebas-akses/2020/07/13/siswa-alami-dampak-psikologis-pembelajaran-jarak-jauh-paling-nyata/

 

Teks: Giovanni Alvita
Kontributor: Ahmad Thoriq
Foto: Jurnas.com
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas