Kesadaran Mahasiswa UI Terkait Covid-19

Hani Nastiti, 20 April 2020

Persebaran virus Corona atau Covid-19 yang cepat dan sulit dideteksi membuat banyak orang lebih waspada. Dilansir dari CNBC News, gejala infeksi Covid-19 dapat terlihat pada dua hingga 14 hari setelah terpapar virus. Gejala awal dapat berupa demam, batuk kering, sesak nafas hingga sakit kepala. Hal ini mengakibatkan kekhwatiran akan tertular Covid-19. Terlebih lagi jika memiliki riwayat kontak dengan warga negara asing (WNA) dan bepergian ke luar negeri serta mengalami gejala terinfeksi virus.

Fachri Muchtar, mahasiswa FISIP UI 2016 mengikuti dengan cermat segala informasi penyebaran Covid-19. Pada saat itu, Fachri mengalami gejala infeksi Covid-19 seperti sesak pernafasan, demam, batuk, sakit tenggorokan dan lemas yang tidak lekas membaik walaupun telah mengonsumsi obat anjuran dokter. Kesadarannya akan potensi menjadi carrier virus bagi orang terdekat membuatnya memberanikan diri untuk melakukan tes kesehatan. Keresahannya selama pemeriksaan kesehatan dibagikannya di laman twitter pribadinya pada 16 Maret 2020. Fachri mengaku sempat melakukan rontgen dan melakukan swab test hingga berada di ruang isolasi selama semalam penuh pada tanggal 15 -16 Maret 2020.

Walaupun baru dinyatakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan), Fachri tidak ingin  membuat orang terdekatnya terinfeksi covid-19 yang kemungkinan ada di dalam dirinya. “Gue sadar ini penyakit beresiko dan infeksius banget, jadi gue gamau jadi carrier. Mungkin ya, emang bagi kesehatan anak muda, penyakit ini gak terlalu mematikan. Tapi tetep aja gua gamau jadi carrier, karena interaksi gue kan gak cuma sama yang muda, tapi juga yang tua,”.

Pemeriksaan kesehatan Fachri yang menyatakannya menjadi ODP menuai berbagai respon dari masyarakat. Banyak orang sekitarnya yang panik dan takut terinfeksi Covid-19. Hoax dan propaganda muncul terkait pemberitaan bahwa Fachri dibawa ambulans ke rumah sakit, positif corona, hingga berita daerah rumahnya telah diisolasi. Setelah pemeriksaan kesehatan, banyak pejabat setempat yang mengunjunginya selama dua hari berturut-turut. Menanggapi hal itu, Fachri mengaku tidak masalah melakukan klarifikasi berulang kali atas beredarnya berita bohong itu. Masyarakat setempat menjadi lebih aware dengan kesehatannya dengan melakukan penyemprotan disinfektan, mengurangi kegiatan ibadah di masjid dan memaksimalkan kegiatan di rumah.

Fachri kepada tim Suma UI menyampaikan bahwa masyarakat harus sadar jika virus Covid-19 sangat menular. Dalam melihat pasien, tidak perlu adanya stigma berlebihan terhadap pasien. Kewaspadaan harus, tetapi bukan berarti melakukan hal yang berlebihan hingga seperti memboikot mayat. Menanggapi kasus dimana banyak masyarakat yang masih berkegiatan di luar rumah, Fachri mengatakan bahwa himbauan dari tokoh masyarakat akan efektif dalam mengajak masyarakat mengikuti anjuran dari pemerintah.

“Kalo bisa galang solidaritas, bisa kasih makanan juga buat orang-orang yang diisolasi dan gaada penghasilan. Tentunya dengan jaga jarak.”

Hasil swab test Fachri selesai tiga hari setelah pemeriksaan dan menyatakan dirinya negatif Covid-19. Pihak puskesmas menyampaikan hasil pemeriksaan kesehatan melalui pesan whatsapp. Fachri mengatakan jika ia dinyatakan positif, akan ada ambulan yang menjemput. Walaupun sudah dinyatakan negatif, tetapi self isolation harus tetap ia lakukan selama 14 hari.

Serupa dengan cerita Fachri, Sandra Allison Fauziah semakin waspada terhadap virus ini setelah beredarnya kabar bahwa teman sekelasnya dinyatakan ODP (Orang Dalam Pengawasan) pada tanggal 16 Maret 2020. Sebelum adanya informasi mengenai temannya dinyatakan negatif Covid-19, kepanikan mahasiswi FEB UI 2019 tersebut sempat muncul karena mengalami gejala infeksi yang membuatnya melakukan karantina mandiri atau swakarantina di asrama UI.

Hingga keluarnya surat edaran 18 Maret 2020, pihak UI menghimbau mahasiswa di asrama UI atau kost yang merasa sedang sakit untuk tidak kembali ke rumah masing-masing. Teman-temannya di asrama yang sempat mengeluh mengalami gejala Covid-19 melakukan pemeriksaan kesehatan di klinik makara karena tidak bisa melakukan tes Covid-19 mandiri. Walaupun sempat panik, setelah pemeriksaan kesehatan, Sandra hanya dinyatakan flu saja. Sandra melakukan swakarantina di asrama selama seminggu. Tetapi, swakarantina masih dilakukannya hingga ia kembali ke rumah.

Kepada tim Suma UI, Sandra mengatakan, “Masyarakat umum harusnya lebih aware sama masalah ini, ada atau engga ada pasien suspect atau pasien positif corona di sekitar ya harus tetap waspada, ikutin himbauan pemerintah, jaga kesehatan. Kalo bisa saling tolong menolong sama yang lain, apalagi banyak yang kesusahan selama ada wabah ini”. Selain itu, Sandra menyampaikan bahwa terdapat banyak sekali hoax dan propaganda, pastikan kita mencari informasi mengenai penyebaran corona dari sumber yang valid.

 

Teks: Hani Nastiti
Foto: Istimewa
Editor: Faizah Diena Hanifa

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas!