Kontradiksi Perilaku Aktivis Anti Kekerasan Seksual

Giovanni Alvita, M.I. Fadhil, 07 September 2020

Dewasa ini seiring dengan semakin maraknya kasus kekerasan seksual, semakin marak juga munculnya pihak-pihak yang paham dan progresif terhadap kasus kekerasan seksual, terutama di kalangan mahasiswa. Mulai bermunculan komunitas-komunitas yang aware terhadap kasus kekerasan seksual di beberapa kampus. Tak jarang komunitas ini diisi oleh mahasiswa progresif yang gencar menyuarakan masalah kekerasan seksual dan edukasi seksual.

Namun, bagaimana jadinya bila kekerasan seksual tersebut malah dilakukan oleh seseorang yang progresif menyuarakan anti kekerasan seksual? Pertanyaan itulah yang muncul pada awal bulan Agustus 2020, saat sebuah thread di Twitter yang mengungkapkan kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang aktivis kekerasan seksual yang dianggap progresif di kampus terhadap pacarnya. Hal ini mengejutkan khalayak umum, dan banyak yang tidak menyangka bahwa pelaku melakukan tindakan kekerasan seksual.

Terlebih lagi, kekerasan seksual yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki reputasi sebagai aktivis pencegahan kekerasan seksual memberi dampak yang besar terhadap korbannya. Adanya relasi kuasa dan ketimpangan antara posisi korban dengan pelaku menyebabkan korban menjadi sulit untuk speak up karena reputasi pelaku yang dianggap baik. Hal ini menyebabkan korban menjadi susah untuk dipercaya oleh khalayak umum yang masih sering memiliki miskonsepsi mengenai kekerasan seksual. 

Kekerasan seksual sebenarnya dapat datang dari mana saja dan siapa saja. Pelaku kekerasan seksual tidak memandang tingkat pendidikan atau latar belakang organisasinya. Menurut HopeHelps, segi pendidikan dan komunitas tidak mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan kekerasan seksual atau tidak, karena semua itu kembali lagi kepada seseorang tersebut untuk mengontrol dirinya sendiri dan bagaimana seseorang aware terhadap hak atas tubuh orang lain.

Meskipun seseorang memahami teori-teori seputar kekerasan seksual, namun belum tentu seseorang itu mampu menginternalisasikan nilai-nilai tersebut ke dalam dirinya. “Jadi, semua orang itu bisa jadi pelaku dan yang bisa menentukan orang itu mengerti atau engga dengan kekerasan seksual adalah ketika mereka sudah benar-benar dihadapkan dengan aktivitas seksual. Bagaimana dia ber-manner dalam aktivitas seksual tersebut, apakah dia meminta consent terlebih dahulu. Intinya, mungkin secara substansi mengerti tapi nilai-nilainya itu gak diinternalisasikan gitu,” ungkap Prilia, direktur lokal HopeHelps.

Menanggapi masalah tersebut, Prilia juga menyebutkan bahwa yang perlu dibenahi untuk meminimalisir kasus kekerasan seksual adalah sex education sejak dini. Proses internalisasi mengenai pengetahuan seks akan lebih maksimal jika ditanamkan sejak dini, sehingga  internalisasinya menjadi lebih mudah dikarenakan masih belum teredukasi oleh hal lain. 

Terjadinya kekerasan seksual sendiri memiliki banyak faktor, salah satunya hasrat. Dengan adanya sex education, seseorang mampu memahami akan hak tubuh orang lain dan menahan hasratnya untuk tidak merugikan orang lain “Jadi, sebenarnya dari gue sendiri yang paling penting itu adalah sex education-nya dulu diperbaiki dan harus dimulai dari sejak dini gak baru sekarang-sekarang terus baru dimasukin pendidikan tentang seks itu,” Ungkap Prilia

Namun, tidak menutup kemungkinan edukasi seksual dilakukan meskipun sudah di usia dewasa. Contohnya adalah adanya lembaga yang memberikan sosialisasi tentang edukasi  seks, gender, seksualitas dan kekerasan seksual. Lembaga seperti itu dapat membuat suatu informasi atau edukasi semudah mungkin untuk diterima masyarakat.

Bila di lembaga, komunitas maupun gerakan anti kekerasan seksual terdapat anggotanya yang melakukan kekerasan seksual, lembaga tersebut harus berani mengambil sanksi tegas dan nyata seperti pemutihan anggota. Lembaga tersebut juga harus mampu mengembalikan kepercayaan khalayak umum terhadap lembaga tersebut. Lembaga tersebut harus memiliki peraturan yang menyatakan bahwa lembaga tersebut tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan seksual yang terjadi di organisasi tersebut, meskipun hal itu dilakukan oleh fungsionaris atau orang di dalam lembaga tersebut. Melalui tindakan tersebut, publik dapat menilai sejauh mana organisasi tersebut peduli dengan isu kekerasan seksual tanpa melihat jabatan atau posisi orang tersebut di dalam organisasi. “Publik bakal menilai sendiri oh iya ternyata dia anak organisasi ini aware akan KS, gak memandang siapapun itu,” Ungkap Wulan, Wakil Direktur Lokal Hope Helps.

Adapun langkah preventif yang dapat dilakukan oleh lembaga tersebut, yakni dengan mengadakan program kerja dan diskusi rutin mengenai kekerasan seksual. Dengan adanya diskusi rutin, diharapkan perspektif dari para anggota dapat terlihat sehingga dapat dilakukan tindakan preventif jika ada indikasi anggota lembaga tersebut rawan melakukan kekerasan seksual.

Namun, jika pada akhirnya masih terdapat anggota lembaga anti-kekerasan seksual yang melakukan kekerasan seksual, hal tersebut kembali lagi dari pihak pelaku. Setiap lembaga anti kekerasan seksual selalu memiliki tujuan, yakni mengedukasi dan memberi pendampingan kepada korban. Tujuan itulah yang harus dipegang teguh terlepas dari salah satu anggotanya ada yang melakukan kekerasan seksual. 

 

“Ya misalnya itu terjadi pada Hopehelps sebenarnya bisa dibilang yah tujuan kami itu adalah murni untuk memberikan kalau kita sebenarnya adalah pendampingan untuk korban. Ketika kita memberikan edukasi tentang kekerasan seksual, tujuan kami sepenuhnya adalah untuk masyarakat umum dan di dalam lembaga. Kamu sudah berupaya agar nilai-nilai tersebut dapat diterapkan. Namun, apabila ternyata sampai ada kasus diluar kehendak kami, kami akan mengeluarkan bukti konkret (awareness-Red) yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan sanksi tegas misalnya langsung dikeluarkan dari HopeHelps,” ungkap Prilia.

 

Teks: Giovanni Alvita, M.I. Fadhil
Kontributor: Fadila Ardana, Zuhairah Syarah
Editor: Faizah Diena Hanifa

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas dan Berkualitas!



include('analytics') @