Maraknya Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) di Kalangan Pengguna Media Sosial

Rifki Wahyudi, 15 March 2020

Era ini, di mana teknologi dan informasi semakin berkembang, telah memberikan efisiensi dan kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini juga sejalan dengan semakin bertambahnya perilaku kejahatan yang kerap terjadi di era serba digital ini. Semakin pesatnya perkembangan teknologi maka menghadirkan pula jenis kejahatan baru seperti kekerasan berbasis gender online (KBGO). 

Pada Senin (2/3), telah dilaksanakan diskusi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial (HMIKS) UI. Fokus bahasan yang dibawakan pada diskusi tersebut ialah “Jaga Sosmed Bareng Jaga Ruang Online Kita”. Hal ini dilatarbelakangi oleh keresahan beberapa pengguna media sosial yang kerap mengalami bentuk kekerasan semacam ini. Sebuah kejahatan dapat dikategorikan dalam bentuk kekerasan ini apabila terjadi kekerasan yang sifatnya langsung dilakukan pada korban atas dasar gender atau seks, disertai ancaman dan difasilitasi oleh teknologi. 

“Ada yang dalam posisi rentan, ada yang di posisi dominan, korban merasa takut, tidak bisa berkutik, ada pelaku yang bisa mengancam, mengintimidasi, mengeksploitasi korban itu sendiri, dan lingkupnya di media sosial,” jelas Nopitri Wahyuni, salah satu koordinator On Women Indonesia yang juga mengisi acara.

Bentuk tindakan kejahatan ini dapat mengakibatkan beberapa hal, seperti penderitaan psikologis berupa depresi, takut, rasa cemas berlebihan, hingga keinginan bunuh diri. Lalu, dampak lain dari KBGO yakni keterasingan sosial, hal ini terjadi karena ranah privasi korban disebarkan tanpa adanya persetujuan, hingga korban merasa enggan untuk berinteraksi sosial karena merasa dipermalukan. Bahkan, kerugian ekonomi pun dapat terjadi akibat bentuk kekerasan gender ini, misalnya kehilangan pekerjaan akibat dianggap nista oleh orang-orang sekitar atau memilih berhenti akibat tekanan psikis dari orang sekitar. 

Komisi Nasional Anti Kekerasan pada Perempuan (KomnasPerempuan) memaparkan pada data catatan tahunan di tahun 2019. Selama 2018 ada 97 orang melapor terkait adanya kejahatan berbasis gender online. Bentuk-bentuk kasus kekerasan ini diantaranya adalah pendekatan untuk memperdaya(cyber-grooming), pelecehan online (cyber harassment), peretasan (hacking), konten ilegal (illegal content), pelanggaran privasi (infringment of privacy), ancaman penyebarannfoto/video (malicious distribution), pencemaran nama baik (online defamation), dan rekrutmen online (online recruitment).

Umumnya yang menjadi korban adalah perempuan dan kasusnya berupa penyebaran gambar/video milik pribadi di media sosial dengan tujuan pornografi. Dalam penyebaran konten tidak ada kesepakatan dan sering diiringi dengan ancaman dari pelaku terhadap korban, hingga tak jarang para korban dengan berat hati menerima permintaan pelaku demi tetap terjaganya privasi pribadinya.

“Distribusi konten-konten atau gambar intim yang tidak ada persetujuan, di situ poinnya adalah non-konsesnsual, jadi kalau misalkan disebut non-konsensual berarti tidak ada persetujuan untuk menyebarkan itu, berarti itu ada faktor mengancam dan mengeksploitasi,” jelas Nopitri.

Nopitri berpesan agar setiap penguna media sosial selalu berhati-hati terhadap bentuk kejahatan ini, “Lebih aware dengan media sosial, selalu mencari tahu bagaimana cyber security di media sosial, dan hindari hubungan-hubungan yang toxic.”

 

Teks: Rifki Wahyudi
Foto: Rifki Wahyudi
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas!



include('analytics') @