Menilik Halaman Belakang Ardhito dalam Kumpulan Lagu

Arneta Iftita P., 22 May 2020

Nama Album : Craziest thing happened in my backyard
Artis : Ardhito Pramono
Genre : Jazz-pop
Label : Sony Music Entertainment
Tanggal Rilis : 28 Februari 2020

 

Setelah sukses dengan “Bitterlove” dan salah satu soundtrack film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, “Fine Today”, Ardhito Pramono kembali merilis mini-album bertajuk Craziest thing happened in my backyard. Melalui lima buah lagu, penyanyi yang hari ini tepat berusia 25 tahun tersebut terkesan lebih gamblang dalam menceritakan pengalaman yang pernah ia alami di masa lalu. Dalam sebuah siniar (podcast), Ardhito mengakui bahwa konsep album ini terinspirasi dari dua film hits tahun 2019, yaitu Midsommar dan Parasite.

Nuansa misterius nan horor terlihat dari rangkaian video musik yang telah dirilis seluruhnya secara bertahap. Kelima video musik tersebut memiliki plot cerita berkaitan, menceritakan tentang Ardhito yang sangat posesif hingga dia rela membunuh kekasihnya demi memilikinya seutuhnya dan berujung penyesalan. Judul Craziest thing happened in my backyard dipilih karena lagu-lagu dalam album ini menggambarkan tentang “halaman belakang” dari sang musisi. Permasalahan yang pernah dilaluinya di masa lalu serta beberapa peristiwa yang membentuknya hingga saat ini dituangkan dalam lagu-lagu jazz yang berpadu dengan pop, ballad, dan rock.

Lantunan pertama dalam daftar lagu, “Trash Talkin’”, bercerita tentang kebencian pada seorang teman dan perselingkuhan. Di awal lagu, pendengar seperti diajak kembali ke era 1940-an dengan adanya narasi seperti pada pembukaan acara lawas di televisi. Berbanding terbalik dengan makna gelap yang diangkat, video musik dari lagu ini terkesan santai dan klasik. Hal tersebut ditunjukkan melalui akting Ardhito yang berjalan dan berlari sempoyongan di sebuah taman sambil membawa tas kerja, lengkap dengan setelan jas coklat.

Lagu kedua berjudul “925” menceritakan tentang seorang pekerja biasa yang bekerja dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Kental dengan iringan gitar dan saksofon, lagu ini semakin unik dengan adanya suara falseto. Pada video musiknya, Ardhito terlihat sedang frustrasi mencari pekerjaan, lalu bertemu dengan kekasihnya.

Diawali dengan iringan gitar dan piano, “Here We Go Again / Fanboi” terdengar ringan dan indah di telinga. Lagu tersebut mengisahkan fantasi seorang penggemar terhadap idola yang tak bisa ia miliki dan tergambar dari liriknya, “I’m just a fan livin’ my fantasy. Fallin’ in love with the girl I can’t see”. Meskipun terdengar ceria, video musiknya mulai menghadirkan nuansa thriller, yakni dengan menampilkan Ardhito yang berjalan-jalan dengan kekasihnya, tetapi di akhir cerita dia membunuh sang kekasih dengan memberi segelas minuman beracun. Video ini telah ditonton lebih dari dua juta kali dalam kanal YouTube.

Pada video musik “Plaza Avenue”, pemeran Kale dalam film NKCTHI ini tampak berjalan-jalan sambil tertawa setelah membunuh sang kekasih. Ia juga merayakan kebahagiaannya dengan meneguk minuman keras. Lagu ini terinspirasi dari kecintaan manusia terhadap benda mati. Contohnya adalah Ardhito sendiri yang sangat menyukai minuman beralkohol. “I couldn’t make you happy, I should’ve makes you happy”.

Penyesalan datang terakhir bersama lantunan terakhir bertajuk “Happy”. Dengan irama ballad, lagu ini berisi rasa sesal yang mendalam karena gagal membahagiakan orang tercinta. Kesan thriller kembali hadir dalam video musiknya. Ardhito terlihat kesusahan menyeret koper mengelilingi kota. Koper tersebut berisi mayat kekasihnya yang telah mati. Melalui Craziest thing happened in my backyard, Ardhito Pramono ingin melestarikan musik jazz Indonesia. Hal tersebut tercapai dengan dimainkannya mini-album tersebut secara perdana, tepat sehari setelah dirilis, dalam Java Jazz Festival 2020. Dengan memadukan lagu-lagunya bersama genre lain, dia berharap karyanya lebih mudah diterima oleh anak muda Indonesia. Selain itu, konsep video musik yang unik dan cukup matang menambah daya tarik dari karyanya kali ini.

 

Teks: Arneta Iftita P.
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas