Never Have I Ever: Berdamai dengan Masa Lalu

Hani Nastiti, 24 December 2020

Judul: Never Have I Ever

Sutradara: Mindy Kaling, Lang Fisher.

Genre: Remaja, Drama, Komedi, US.

Tahun rilis: 2020

Jumlah episode: 10 

Pemain: Maitreyi Ramakrishnan, Poorna Jagannathan, Darren Barnet, Jaren Lewison.

 

“Tapi itu karena aku takut. Tiap saat”. 

Never Have I Ever merupakan salah satu serial Netflix teen-comedy yang berhasil meraih respons positif para penggemar film. Pasalnya, serial ini terasa begitu dekat dengan keseharian remaja, khususnya yang memiliki trauma di masa lalu. Melalui serial berjumlah sepuluh episode ini, sang sutradara, Mindy Kaling, mengungkap masa kecilnya sebagai gadis keturunan India yang tumbuh besar di Boston.

Never Have I Ever menceritakan kehidupan remaja seorang siswi sekolah menengah atas bernama Devi (Maitreyi Ramakrishnan). Hubungan ibu dan anak, tekanan lingkungan sebagai minoritas, tuntutan pergaulan anak remaja, hingga menyembuhkan luka dari rasa trauma juga diungkapkan dalam serial ini.

Luka maupun duka dalam film ini mulai tampak ketika Devi sangat terpukul atas kepergian sosok Ayah yang menjadi figur idolanya. Tidak hanya itu, Devi juga menyaksikan langsung kematian Mohan (Sendhil Ramamurthy) di atas panggung pertunjukan musik. Memori buruk akan peristiwa itu membuatnya tidak lagi sanggup bermain harpa. Sulit bagi Devi untuk menerima keadaan, hingga dirinya sempat mengidap gangguan psikosomatik dan mendadak lumpuh. 

Kenyataan berat yang dihadapi Devi turut menuai kesedihan dalam dirinya. Tidak hanya dihantui bayang-bayang Mohan, tetapi Devi juga perlu beberapa waktu berjalan dengan kursi roda, trauma bermain harpa, hingga dirundung teman sekolahnya. Ketika pulih dari kelumpuhannya, Devi bertekad mengubah image-nya yang dikenal berkursi roda dan ditinggal ayahnya saat acara sekolah menjadi siswa populer. Bersama sahabatnya, Fabiola (Lee Rodriguez) dan Eleanor (Ramona Young), segala cara dilakukan demi mendapatkan pacar, melakukan hubungan seks, dan mabuk di sebuah pesta.

Drama komedi berlatar high school tidak lengkap rasanya tanpa kisah cinta remaja. Kehadiran Paxton (Darren Barnet) menjadi fokus Devi dalam meraih popularitas di sekolah. Paxton mengalihkan dunia Devi dari ingatan buruk. Tidak disangka sebelumnya, sosok lelaki idaman para wanita seperti Paxton menyambut baik kehadiran gadis nerd. Kehadiran Paxton menguji hubungan pertemanan Devi dengan Fabiola dan Eleanor. Seiring meningkatnya popularitas Devi, ia sering kali berlaku egois dan abai akan permasalahan sahabatnya. 

Tidak hanya soal cinta, persaingan akademik dan perbedaan latar belakang keluarga antara Devi dan Ben Gross (Jaren Lewison) juga memicu pertengkaran. Ben Gross–yang butuh kehangatan keluarga–dan Devi–yang ingin hidup bebas–perlahan saling melengkapi hingga Ben membantunya melewati masa sulit.

Sosok Devi merupakan representasi sosok remaja umumnya yang ingin mencoba hal baru, melanggar peraturan, memiliki emosi membara, labil di antara banyak pilihan, dan berusaha mencari jati dirinya. Ketidakstabilan emosi Devi pun kerap memicu konflik keluarga dan pertemanan. Sang ibu, yaitu Nalini (Poorna Jagannathan), memiliki aturan tegas yang membatasi Devi mengikuti pergaulan bebas. Tradisi keluarga dan aturan yang berlaku membuatnya tidak merasa bebas. Kehadiran sang sepupu, Kamala (Richa Moorjani), pun merefleksikan keterikatan adat di tengah keluarga Devi. Kebohongan dan siasat Devi lainnya memicu konflik di antara keluarga ini. 

Perlakuan tegas dan ketegaran Nalini adalah topeng yang menyamarkan kesedihannya. Di balik ketegarannya, ada luka, kesepian, dan rasa takut kehilangan orang terkasih. Sepeninggalan Mohan, Devi maupun Nalini belum sanggup menghadapi perpisahan. Beberapa scene yang menunjukkan benda kesayangan Mohan menjadi jembatan kilas balik semasa Mohan hidup. 

Bayangan Mohan yang selalu menghantui Devi adalah bentuk kilas ingatan traumatis Devi yang belum siap melepas kepergian sang ayah. Nalini menyiapkan seorang psikolog (Niecy Nash) yang membantu Devi melalui situasi sulit. Konseling dan menulis jurnal keresahan dalam jurnal kesedihan saja tidak cukup membuatnya berdamai dengan luka masa lalu. 

Kebohongan, kesedihan, dan kekecewaan datang silih berganti mewarnai dunia remaja Devi. Segala konflik yang hadir adalah proses Devi mencari jati dirinya. Devi hanya ingin diterima dan dikuatkan untuk bangkit dari rasa trauma. Lambat laun ia mendapatkan kekuatan untuk berdamai dengan masa lalu. Kehadiran dan dukungan orang terdekatnya mampu membuat Devi berani mengucapkan “maaf” dan ikhlas menerima kepergian Ayahnya. Bukan tidak bisa melupakan, hanya saja butuh waktu menguatkan diri dan bangkit dari luka masa lalu. 

Bagian menarik dari film ini dapat ditemukan pada bagian awal dan beberapa scene yang  memunculkan narasi dari sudut pandang John McEnroe. Pada awalnya, mungkin penonton akan bertanya, mengapa harus ada John McEnroe?  Di episode akhir, penonton bisa mendapatkan jawabannya. Kisah cinta menjadi penghibur kisah traumatis Devi dalam Never Have I Ever, meskipun dijalani oleh lelaki populer dan gadis nerd yang terdengar klise. Namun, pernyataan tersebut tidak pernah gagal dalam menggaet para penonton remaja. Serial ini sangat cocok bagi penonton yang tengah bergelut dengan keresahan dan terjebak trauma masa lalu, yakni dengan melihat dan mengikuti bagaimana Devi melaluinya.

 

Teks: Hani Nastiti
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas