Notes on a Conditional Form: Sebuah Catatan dan Pengingat

Putri Melina, 19 June 2020

Nama Album: Notes on a Conditional Form

Artis: The 1975

Genre: Indie Rock

Label: Dirty Hit

Tanggal Rilis: 22 Mei 2020

Sempat mengalami beberapa kali penundaan waktu perilisan, akhirnya pada 22 Mei 2020, The 1975 resmi merilis album keempat mereka bertajuk Notes on a Conditional Form. Sebelum merilis albumnya secara keseluruhan, band rock asal Britania Raya ini telah meluncurkan beberapa single yang kini menjadi bagian dari album tersebut.

“People” merupakan single pertama yang dirilis pada Agustus 2019. Lagu ini berisi sebuah kritikan mengenai kondisi politik dan ajakan untuk bergerak sekaligus sadar mengenai isu tersebut. “People” dibuka dengan teriakan dari sang frontman, Matty Healy, dan menyadarkan pendengar dengan lirik-lirik menyentil di dalamnya. “Wake up, wake up, wake up; We are appalling and we need to stop just watching sh*t in bed … The economy's a goner, republic's a banana, ignore it if you wanna”.

Single ketiga yang dirilis berjudul “Frail State of Mind”, yang mengangkat isu kecemasan secara universal. Matty Healy membagikan pengalamannya saat mengalami gangguan kecemasan dan cara mengatasinya dalam lagu ini. Gangguan kecemasan yang pernah dialami Matty membuatnya tidak ingin bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Healy mengemukakan alasannya dalam lirik, “Go outside?; Seems unlikely; I'm sorry that I missed your call; I watched it ring”.

Band yang memulai debut pada tahun 2002 ini menyajikan 22 track dalam Notes on a Conditional Form atau yang disingkat NOACF. Seperti tiga album sebelumnya, dalam NOACF, lantunan bertajuk “The 1975” kembali menjadi pembuka. Matty Healy dalam sebuah wawancara dengan Pitchfork mengatakan alasan band-nya selalu menempatkan lagu berjudul “The 1975” pada urutan pertama adalah untuk membangun ulang suasana dan menciptakan memori khusus di telinga pendengar. Sang vokalis mengumpamakan suasana tersebut dengan suara PlayStation atau suara komputer era 2000-an ketika dihidupkan. Matty ingin lagu pembuka “The 1975” berhasil membangun atmosfer dan tetap terngiang di telinga pendengar.

Berbeda dengan album-album sebelumnya, dalam “The 1975” versi album keempat ini, Matty mengajak seorang aktivis lingkungan muda ternama, Greta Thunberg, untuk berkolaborasi di dalamnya. Greta merupakan seorang siswa yang vokal terhadap isu perubahan iklim dan lingkungan. Matty pun menyebut Greta sebagai “The most punk person” yang pernah dia temui. Greta membangun kesadaran dan mengajak para pendengar untuk membuat perubahan demi mengatasi perubahan iklim.

Dalam NOACF, Matty membawakan lagu yang ditulis oleh ayahnya, Tim Healy. Lagu ini berjudul “Don't Worry” dan ditulis sekitar tahun ‘90-an. Matty mengungkapkan alasannya memasukkan “Don't Worry” ke NOACF karena ia ingin memberitahu kepada pendengar mengenai sosok yang memengaruhinya dalam bermusik sekaligus sebagai salah satu lagu pertama yang didengarnya.  Tim dan Matty Healy berduet dalam lagu ini. 

NOACF ditutup dengan lagu berjudul “Guys”, yakni salah satu lagu paling sentimental dalam album ini. “Guys” menceritakan persahabatan antara Matty Healy (vokal/gitar), Adam Hann (gitar), George Daniel (drum), dan Ross MacDonald (bass), khususnya dalam karier bermusik mereka. Perjalanan bermusik The 1975 telah dirintis sejak sekolah menengah. Ini merupakan perjalanan yang cukup panjang bagi sebuah grup musik. Kebahagiaan tersebut dituangkan dalam lagu ini. "The moment that we started a band … It was the best thing that ever happened to me".

Sebagai album teranyar The 1975, NOACF membawa sebuah gaya baru. Banyak perbedaan yang terasa dalam album ini dan menunjukkan pendewasaan The 1975 dalam bermusik. Band ini tetap vokal dalam melihat isu-isu yang terjadi di masyarakat, seperti politik dan lingkungan, serta membawanya dalam setiap lagunya. Selain itu, hal menarik dapat ditemukan pada sampul album ini.

Di era saat ini, iTunes mengharuskan untuk menyediakan artwork dari album, enam bulan sebelum rilis. Menurut pengakuan Matty Healy dalam sebuah wawancara dengan Pitchfork mengatakan bahwa artwork dari album keempat ini selalu berubah setiap minggunya. The 1975 memilih artwork dengan model yang paling minimalis. Awalnya, cover album memiliki tekstur dan berwarna coklat seperti paper bag. The 1975 mengusung konsep wabi-sabi dalam menentukan artwork untuk album keempat ini. Dalam estetika tradisional Jepang, wabi-sabi merupakan pandangan dunia yang terpusat pada penerimaan terhadap kefanaan dan ketidaksempurnaan.

Sayangnya, total durasi untuk satu album ini terlalu panjang, yakni 76:30. Durasi yang cukup panjang ini membuat munculnya kemungkinan beberapa pesan yang hendak disampaikan gagal diterima oleh pendengar karena terlewat di tengah album atau bagian lainnya. Terlepas dari durasi yang cukup lama ini, The 1975 tetap konsisten dalam memberikan sebuah catatan bagi para pendengar untuk tetap melek mengenai isu-isu yang terjadi di dunia melalui lagu-lagunya.

 

Teks: Putri Melina
Foto
: Istimewa
Editor: Ruth
Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas