PJJ di Mata Dosen: Dari Persiapan hingga Kendala

Muhammad Riyan Rizki, Sultan F. Basyah, 15 October 2020

 

Pandemi Covid-19 di seluruh penjuru dunia dan khususnya di Indonesia sejak bulan Maret 2020 telah mengubah cara kita dalam hidup bermasyarakat. Diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat beberapa rutinitas yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka, kini dilakukan secara daring. Hal ini menimbulkan beberapa istilah baru seperti Work From Home (WFH) dan juga Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

PJJ sendiri diterapkan oleh sebagian besar institusi pendidikan sejak mewabahnya Covid-19 di bulan Maret. Tidak terkecuali di Universitas Indonesia (UI) yang telah menerapkan Perkuliahan Jarak Jauh (PJJ) sejak bulan Maret yang dilanjutkan sampai pada semester ganjil ini. PJJ yang sejauh ini sudah berjalan selama lebih dari satu semester ini pun mengharuskan mahasiswa melakukan banyak perubahan dan persiapan, mulai dari penyediaan layanan internet, tugas yang dikerjakan secara daring, hingga diskusi yang hanya bisa dilakukan melalui panggilan video. 

Namun, tentu bukan hanya mahasiswa yang harus beradaptasi menghadapi PJJ ini. Suara Mahasiswa mencoba melihat Perkuliahan Jarak Jauh (PJJ) ini dari kacamata para pengajar, karena sebagai pihak yang berperan langsung dalam penyelenggaraan pendidikan di perguruan tinggi, tentu banyak perubahan dan persiapan yang perlu mereka lakukan. Salah satunya dosen tersebut adalah Nurul Dina Rahmawati, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), yang sudah mempersiapkan PJJ ini semenjak mahasiswa menyelesaikan studi semester genap.

“Untuk persiapan sendiri ini, kami semenjak kalian liburan. Kita sebagai staff pengajar rapat untuk persiapan, seperti bikin video pembelajaran yang mungkin akan butuh, menurut kita, waktu yang sangat lama,” jelasnya.

Selain itu, karena Fakultas Kesehatan Masyarakat merupakan prodi ilmu sains dan teknologi (saintek), persoalan lain muncul karena pembelajaran membutuhkan alat-alat untuk praktikum. Nurul pun menjelaskan bahwa mahasiswa sendiri tidak diminta untuk membeli peralatan karena itu akan memberatkan mahasiswa itu sendiri.

“Kita kan ga prediksi kalau mahasiswa harus dipulangkan dan engga bisa makai alat-alat yang ada di lab yang seharusnya mereka harus bisa pakai untuk praktikum, jadi kita gak minta mereka untuk beli apa apapun, cukup kita tampilkan gambar alat alatnya dan fungsinya,” ujarnya.

Selain Nurul, persiapan menghadapi PJJ juga telah dilakukan salah satu dosen Fakultas Ilmu Bahasa, Harumi Manik Ayu. Ia bercerita bahwa persiapannya sendiri bervariasi, seperti membuat silabus untuk kelas daring dengan format yang lebih spesifik, hingga mencari alternatif platform yang akan digunakan agar perkuliahan berjalan lebih menarik juga.

Ia mengakui bahwa kendala selama perkuliahan jarak jauh tentu pasti ada. Dosen yang biasa disapa Ibu Memmy ini membagikan ceritanya mengenai kendala selama perkuliahan jarak jauh ini sendiri.

“Memang kondisi di rumah tidak selalu ideal (untuk mengajar -red), misal kayak anak di rumah yang berisik, atau enggak meminta perhatian, itu pasti terjadi,” jelasnya.

Selain itu, perbedaan antara perkuliahan tatap muka dan daring sendiri menurutnya sendiri juga sangat terasa. Salah satunya adalah dalam mempersiapkan bahan ajar yang sebelumnya memang sudah ada, namun saat ini ada beberapa materi yang tidak bisa langsung diberikan karena itu akan membuat perkuliahan berjalan membosankan.

“Segi persiapan sih paling ngaruh ya, karena kelasnya kalau tatap muka kan, semua bahannya saya sudah ada ya, sedangkan untuk yang keadaan seperti ini, tidak semua bahan bisa langsung diberikan sedemikian rupa. Misalnya, walaupun saya sudah mempunyai power point slides untuk semua topik, tapi kemudian kan tidak mungkin juga untuk satu semester isinya hanya penjelasan power point atau zoom,” ujar Dosen Prodi Inggris tersebut.

Selain melakukan persiapan yang sudah sedemikian rupa dan dipersiapkan secara matang, ia juga menyimpan harapan untuk mahasiswa selama pelaksanaan PJJ ini. Salah satunya, ia berharap sistem perkuliahan daring ini dapat memupuk kemandirian mahasiswa untuk mau belajar dan juga mencari bahan ajar dari sumber yang lain.

“Jadi saya berharap bahwa walau mereka lebih sepi proses belajarnya, tapi mereka tetap bisa mengatur waktu belajarnya dan juga bisa tetap termotivasi untuk tetap belajar, walaupun sekarang banyak latihan yang sifatnya mandiri.”

Di balik semua persiapan, kendala dan harapan, semoga pandemi ini dapat diatasi dan cepat selesai agar semua kondisi dan keadaan dapat kembali seperti semula, khususnya bagi kita sebagai sivitas Universitas Indonesia dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya. Amin!

 

Teks: Muhammad Riyan Rizki, Sultan F. Basyah
Foto: Pixabay

Editor: M. I. Fadhil

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas dan Berkualitas!