Paradoks Intervensi Pemerintah dalam Upaya Penciptaan Pasar Bebas

Mohamad Mohan Pebriansyah, 12 November 2020

Pasar bebas selalu di kritik sebagai sebuah sistem yang tidak efektif dalam menangani kesejahteraan dan kemiskinan. Banyak dari kita mendengar kata “pasar bebas” langsung menganggap sebagai sesuatu yang mengerikan walaupun mereka sebenarnya tidak mengerti bagaimana pasar bebas bekerja. Yang mereka tahu hanyalah bahwa di dalam pasar bebas tidak ada intervensi negara sehingga mereka berpikir bahwa sistem ini menghasilkan kekacauan karena tidak ada yang mengatur pasar dengan undang-undang. Pemikiran hal ini wajar saja karena memang ketika kita melihat sesuatu yang teratur seperti tatanan sosial di dalam pasar pasti kita berfikir bahwa tatanan itu di desain oleh seseorang. Layaknya mesin yang didesain oleh seorang mekanik atau teknisi maka mereka menganalogikan fenomena tatanan sosial di dalam pasar sebagai hal yang sama seperti mesin. Tetapi jika analogi itu diterapkan di dalam realitas pasar ekonomi maka hal tersebut salah besar. 

Pada kenyataannya, tatanan sosial di dalam pasar yang teratur tidaklah diciptakan oleh sosok politisi maupun birokrat melainkan tatanan sosial tersebut muncul secara spontan. Bagaimana caranya pasar bebas bisa menghasilkan keteraturan, padahal sama sekali tidak ada politisi yang mengaturnya. Jawabannya adalah harga pasar, harga pasar yang membuat pasar bebas menjadi teratur secara spontan. Dalam harga pasar tersimpan pengetahuan yang penting bagi individu-individu yang  berada di dalam pasar. Setiap orang di dalam pasar berkontribusi terhadap proses jual-beli di dalam pasar dan melalui itu mereka menciptakan harga pasar serta masing-masing individu itu mempunyai sepotong kecil informasi yang akan memandu individu lain untuk bertindak. 

Dengan adanya harga pasar, maka informasi harga tersebut akan memandu serta mengkoordinasi tindakan setiap individu lain di dalam pasar, mereka semua bertindak berdasarkan hubungan mutualistik yang saling menguntungkan di dalam pasar. Sehingga, untuk itulah pasar tidak memerlukan seorang politisi yang mengatur-atur segalanya. Asal terdapat hak milik maka pasar akan berjalan dengan sendirinya karena masing-masing dari kita tahu batas mana milik aku dan mana milik kamu sehingga terjadi transaksi ekonomi jual beli. 

Perdagangan memang merupakan transaksi perpindahan hak milik barang dari satu individu kepada individu lain. Jadi, intinya pasar bebas mempunyai logikanya sendiri sehingga tidak perlu diatur-atur oleh seorang birokrat. Inilah yang disebut oleh ekonom Adam Smith sebagai invisible hand atau tangan tak terlihat.  

Nah, sekarang seandainya kita berfikir untuk mengintervensi pasar maka apakah pasar itu tetap teratur sebagaimana semulanya jika tidak di intervensi? Yang saya bisa katakan adalah jika negara ataupun seorang politisi mengintervensi pasar maka pasar akan menjadi chaos atau tidak teratur. Beberapa negara berkembang menganggap bahwa pasar bebas berbahaya karena tidak memihak orang miskin dan menghasilkan ketidakteraturan maka mereka berpikir untuk mulai mengadakan intervensi dengan cara menurunkan harga pasar. 

Negara berkembang menggunakan kekuasaannya dan kedaulatannya untuk memaksa para pedagang menurunkan harga komoditas tertentu misalnya susu. Mereka berpikir dengan intervensi itu akan membuat pasar menjadi semakin baik dan berpihak terhadap orang miskin serta akan berjalan dengan teratur. Tetapi, ternyata beberapa hari setelah kebijakan tersebut dilaksanakan, justru yang terjadi adalah banyak anak mengalami stunting akibat kekurangan asupan susu. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukankah dengan menurunkan harga susu seharusnya banyak yang semakin bisa mendapatkan akses terhadap susu? 

Situasi yang akan terjadi adalah ketika harga susu di pasar turun maka penawaran yang dilakukan oleh para pedagang susu berkurang atau suplai susu di pasaran berkurang. Hal ini terjadi karena tidak ada pedagang yang mau menjual susunya pada harga rendah. Dampaknya, mereka mengurangi suplai susu sambil menunggu situasi di mana harga susu dinormalkan kembali oleh pemerintah. 

Akibat dari suplai susu di pasaran berkurang dan tidak dimbangi dengan permintaan akan susu yang besar dibandingkan penawarannya sehingga banyak dari mereka yang membutuhkan susu ternyata tidak bisa mendapatkannya akibat persediaan susu di pasaran berkurang walaupun harganya rendah. Orang-orang yang tidak mendapatkan susu di pasaran ini akan mencari alternatif lain untuk  mendapatkan susu kebutuhannya, dengan seperti apa? Tentu mereka akan mencarinya di dalam pasar gelap. Hal ini logis karena susu di pasaran akan terbatas, sementara mereka membutuhkannya. Maka, mereka mencarinya di dalam pasar gelap yang mana kualitas susu di dalam pasar gelap itu bisa saja sangat jelek ataupun harganya lebih mahal daripada harga normal. Inilah yang terjadi sehingga wajar banyak anak-anak mengalami stunting akibat tidak mendapatkan susu yang layak karena mereka membelinya di pasar gelap. Kebijakan yang dilakukan oleh negara tersebut yaitu menurunkan harga pasar susu justru bukannya membuat kebaikan malah menghasilkan kekacauan dibandingkan pemerintah tidak melakukan intervensi pasar. Jadi pasar itu tidak perlu di intervensi oleh pemerintah maupun birokrat karena pasar memang bekerja dengan sendirinya, justru intervensi akan menghasilkan kekacauan yang sebenarnya tidak diniatkan. Laissez Faire, Laissez Passer (Biarkan dan lepaskan, pasar akan bekerja dengan sendirinya). Intinya pasar bebas bekerja lebih baik untuk menghasilkan keteraturan tanpa intervensi negara dalam bidang ekonomi.

Penulis: Mohamad Mohan Pebriansyah (Philosophy Students University Indonesia 2019)
Ilustrasi: Istimewa
Editor: Faizah Diena

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas dan Berkualitas!

 

Catatan: Tulisan ini adalah hasil kontributor eksternal dan belum tentu mencerminkan sikap Redaksi Pers Suara Mahasiswa UI 2020.

Daftar Referensi

Tom G Palmer.2017. Politik dan Kebebasan (Judul Asli: Why Liberty: Your Life Your Choice and Your Future). Terjemahan oleh Djohan Rady. Indonesia: Suara Kebebasan.
Muchtar, Adinda Tenriangke dkk.2019. Libertarianisme: Perspektif Kebebasan atas Kekuasaan  dan Kesejahteraan. Indonesia: Suara Kebebasan.