Pemberdayaan Perempuan dalam Balutan Disko yang Futuristik

Nabila Nurunnisa F., 03 July 2020

Nama Album    : Future Nostalgia

Artis                  : Dua Lipa

Genre               : Pop, Dance, Funk, Alternative

Label                : Warner Records

Tanggal Rilis     : 27 Maret 2020

 

Setelah sukses dengan album debutnya dengan judul namanya sendiri, Dua Lipa kini meluncurkan album keduanya bertajuk Future Nostalgia. Dalam albumnya tersebut, perempuan kelahiran 1995 ini menyuarakan isi pikirannya melalui lirik lagu dan alunan musik yang ciamik. Didominasi dengan gaya musik elektronik, Dua mengatakan bahwa ia mengambil banyak tantangan dalam proses pembuatan album ini. Selain itu, ia ingin membuat album ini terasa seperti nostalgia, tetapi tetap memiliki kesan segar dan futuristik. Hal tersebut menjelaskan gaya musik tahun 1980-an yang dipadukan dengan corak futuristik dalam lagu-lagunya.

Memiliki judul yang sama dengan album, “Future Nostalgia”, seperti namanya, terdengar sangat futuristik. Sebagai pengantar album, lagu ini dibuat ceria dengan instrumen yang sangat funky. Dalam situs genius, penyanyi berkebangsaan Inggris ini menyebutkan bahwa proses pembuatan lagu ini dibantu oleh Jeff Bhasker, seorang produser asal Amerika yang namanya juga turut hadir dalam lirik lagu ini,I know you like this beat 'cause Jeff's been doin' the damn thing”.  Pada bagian post chorus pada lagu ini, Dua menggunakan istilah female alpha. Tema pemberdayaan perempuan tampaknya menjadi pesan penting yang ingin disampaikan, terlihat dari lagu pertama tersebut. Istilah alpha biasanya identik dengan dominasi laki-laki, yakni male alpha. Komposisinya dengan female menunjukkan bahwa dominasi tidak hanya terjadi pada laki-laki, tetapi juga perempuan. Isu kesetaraan gender membuat album sophomore dari pelantun “New Rules” ini semakin menarik dengan keberaniannya untuk menyuarakan isu tersebut.

Ditulis bersama Tove Lo, “Cool” menceritakan tentang kehilangan ketenangan akibat kemunculan orang yang disukai. Didominasi dengan instrumen disko, Dua mengatakan bahwa lagu ini telah dibuat dua tahun sebelum perilisan. Namun, ia tidak suka dengan liriknya sehingga didaur ulang dengan lirik baru yang ditulis dengan bantuan Tove Lo. Masih didominasi dengan instrumen disko, “Don’t Start Now” adalah single yang mengawali album ini. Perilisannya pun dilakukan terlebih dahulu yaitu pada November 2019 silam.

Mengikuti “Don’t Start Now” dan “Future Nostalgia”, “Physical” menjadi lagu ketiga yang dibuat video musiknya. Mereferensikan single hit milik Olivia Newton pada 1981 dengan judul yang sama, Dua menggunakan satu bagian chorus yang sama berbunyi “Let’s get physical”. Seperti konsep albumnya, synth-pop tahun 1980-an terasa sangat kental pada instrumen lagu ini. Masih dalam warna musik 1980-an, “Break My Heart” menjadi lagu keempat sekaligus terakhir yang dibuat video musiknya. Pada bagian intro dan chorus, instrumen bass lagu ini menggunakan sampel yang sama dengan lagu “Need You Tonight” milik band rock asal Australia, INXS, pada 1977. Dalam lagu berdurasi 03.41 menit ini, Dua terlihat mempertanyakan hubungan percintaannya. 

Di antara kesebelas lagunya, “Levitating” terasa paling ringan dan segar. Kesan ceria dan menyenangkan dapat dirasakan dari tempo cepat musik instrumen serta paduan pop elektroniknya. Istilah-istilah yang berhubungan dengan benda-benda langit juga banyak digunakan sebagai metafora seperti galaxy, moonlight, starlight, sky, stars, mars di mana hal-hal tersebut identik dengan sesuatu yang futuristis. Menjadi urutan kesepuluh dalam album, “Good in bed” terdengar seperti lagu ceria. Siapa yang menyangka bahwa lagu ini bercerita mengenai toxic relationship. Melalui lagu ini pula, penyanyi yang telah memperoleh 19 penghargaan ini menyampaikan pesan bahwa hubungan yang hanya berupa keintiman secara fisik tidak akan bertahan lama dan seringkali mereka yang mengalaminya kesulitan untuk keluar dari hubungan seperti ini. 

Layaknya penegasan pernyataan, “Boys Will Be Boys” menjadi lagu terakhir. Berbeda dengan lagu-lagu lainnya, lagu terakhir ini lebih terdengar ballad dengan alunan instrumen orkestra. Bercerita mengenai bagaimana perempuan menangani kesulitan dalam menghadapi risiko catcalling bahkan sexual harassment, Dua menggunakan frasa idiom boys will be boys yang bermakna kelakuan kekanak-kanakan yang dilakukan oleh laki-laki. Seharusnya, hal ini tidak lagi mengherankan karena pada dasarnya begitulah sifat alamiah laki-laki. Namun, idiom ini seringkali disalahgunakan sebagai pembenaran tingkah laku tidak senonoh yang dilakukan laki-laki. Sementara tersebut ditoleransi, perempuan dipaksa untuk tumbuh lebih cepat akibat tekanan sosial serta standar yang diciptakan sehingga memotivasi mereka untuk bertindak lebih dewasa. Oleh karena itu, lewat lagu terakhir, Putri dari musisi rock Dukagjin Lipa ini menyuarakan pikirannya dan menyampaikan dukungannya terhadap para perempuan.

Penempatan “Future Nostalgia” di awal serta “Boys Will Be Boys” di akhir, di mana keduanya mengusung topik pemberdayaan perempuan, seakan-akan membingkai album kedua Dua Lipa. Keinginan untuk menyuarakan pendapatnya diperlihatkan melalui sisi-sisi terluar album agar siapa pun yang mendengarnya dapat dengan mudah menerima pesan yang tersimpan di dalamnya sejak awal hingga akhir mendengarkan. Hal tersebut membuat album ini tidak hanya memiliki fungsi menghibur, tetapi juga mengedukasi bagi para pendengarnya.

 

Teks    : Nabila Nurunnisa F.
Foto
    : Istimewa
Editor    : Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas