Pengalamanku Menjadi Korban

Anonim, 11 May 2020

Artikel ini mengandung deskripsi peristiwa kekerasan seksual yang mungkin dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi beberapa orang.

Jujur kaget pas buka twitter dan liat muka dia di “Sexual Predators Hall of Fame.” Saya gak bisa percaya… tapi kenyataannya yang saya alami memang seharusnya masuk thread itu.

Saat thread tersebut muncul di Twitter, kepala saya langsung pusing dan tubuh saya seakan-akan flashback ke malam itu. Saya berada di sebuah ruang yang sangat amat tidak familiar bagiku dan saya terpaksa menghadapi situasi yang saya terjebak di dalamnya; namun satu pertanyaan yang muncul di benakku, apakah saya termasuk korban ataukah yang saya percayakan selama ini benar, bahwa itu semua berkat kebodohanku sendiri.

semua ini dimulai dari keinginan saya waktu itu mencari teman. Saya yang saat itu sering merasa sedih dan kesepian sering melampiaskannya dengan minum alkohol. Itu yang melandasi niat saya mengajak seseorang yang sudah lama saya kenal, sebut saja si A, untuk minum bersama. Kami memang sudah beberapa kali ikut kegiatan bersama, jadi meskipun kami tidak berteman secara dekat, saya cukup mempercayai dia tidak punya niat buruk.

Saya sempat heran saat ia menolak untuk minum di kantin sebagaimana yang lazim dilakukan mahasiswa di fakultas kami. Alasannya, ia mengaku punya tempat yang lebih nyaman untuk minum-minum. Karena niatku memang hanya untuk minum, saya pun mengiyakan. Namun, saya kaget saat kami sampai, karena tempat yang ia maksud ternyata kosannya sendiri.

Perasaan gelisah dan ingin kembali pulang pun mulai muncul saat itu. Namun, saya mencoba merasionalisasi perasaan-perasaan tersebut. Saya yang sangat jarang main ke kosan orang, apalagi lawan jenis, mulai berpikir kalau hal itu sebenarnya merupakan hal biasa yang dilakukan oleh mahasiswa. Sampai di kamarnya, saya berusaha betingkah se-casual mungkin, takut dianggap cupu atau lebay hanya karena saya merasa seharusnya saya tidak berada disitu.

Setelah beberapa jam minum bersama sambil saling berkeluh kesah, handphone saya sudah menunjukkan jam 23.00. Saya langsung bergegas dan mengatakan ingin pulang ke kos. Tetapi A bersikeras agar saya tidak pergi karena pintu kukusan teknik (kutek) jam 23.00. Menurutnya, saya juga sudah terlalu mabuk untuk bisa pulang, padahal saya merasa masih cukup sadar. Akhirnya saya setuju, namun menolak jika harus menetap di kos A.

A pun menyarankan kami untuk pergi ke tempat lain yang ternyata, lagi-lagi di luar dugaan saya, merupakan sebuah penginapan. Saya pun kembali merasa panik saat kami diberikan kunci oleh orang di meja depan. Berulang kali saya mengatakan ingin pulang, namun ia hanya tertawa dan mengajak saya minum lagi. Karena ingin memendam perasaan paranoid dan ketakutan yang mulai muncul, saya pun menenggak minuman lagi. Saat ingin berhenti karena tidak ingin melebihi batas toleransi alkoholku, ia tetap memaksa dan memintaku minum lagi. 

Saya sempat meminta untuk tidur di lantai saja, namun ia meminta untuk tidur bersama. Ia lalu mulai minta dipeluk dan cuddling. Saya menolak sambil berusaha menjaga jarak dengannya. Saat saya mencoba menelpon teman saya, ia mengambil hapeku dan berkata kita sedang berada di bar. Lalu ia tetap merengek ingin tidur sambil cuddling namun saya dengan tegas menjawab tidak. Ia meminta berkali-kali untuk meremas tanganku saat tidur, akhirnya saya mengalah karena sudah lelah dan terganggu juga dengan permintaan-permintaan dia. Ia memeluk tangan kiriku dan mulai menciumnya hingga saya akhirnya menarik tangan itu kembali. Akhirnya, beberapa detik setelahnya, ia tertidur. Sebaliknya, saya yang sudah amat ketakutan tidak bisa tidur sedikitpun sampai keesokan harinya.

Anehnya, pada pagi harinya, A bertingkah seakan tidak terjadi apa-apa, sementara saya masih merasakan beratnya konsekuensi dari kejadian malam sebelumnya. Namun, saya tetap memaksakan diri untuk memperlakukannya secara normal.

Setelah sarapan, saya langsung kembali ke kostanku dan mengunci diri di kamar, lalu mulai menangis dan berteriak, menyadari semua hal yang telah terjadi dan menyalahi diri sendiri atas kejadian tersebut. Saya menelpon teman yang sama yang saya telpon malam sebelumnya dan menceritakan semua yang terjadi kepadanya. Ia mulai mengumpat si A dengan kata-kata ‘bangsat’, ‘brengsek’ dan sebagainya. Tapi saya hampir tidak mendengarkannya karena terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri. Waktu itu, saya percaya situasi tersebut adalah salahku yang tidak bergegas pulang saat warning signs mulai muncul. 

Pemikiran itulah yang saya pegang erat selama setahun ke depan. Saat bertemu dengannya di kampus secara tidak sengaja, saya berusaha untuk tetap bertingkah seolah malam itu tidak terjadi agar tidak ada yang mencurigai apa-apa. Saya juga sadar posisiku di sini jika cerita ini tersebar, karena saya takut dicap macam-macam karena minum alkohol dan mengikuti seseorang ke tempat yang kurang jelas. Seharusnya saya bisa pulang, seharusnya saya bisa menolak.

Pola pikir inilah yang membuatku tidak berani melapor. Tidak aneh, sebab berdasarkan riset yang dilakukan American College of Health pada 215 mahasiswa di lingkungan kampus, rasa malu dan bersalah merupakan salah satu dari tiga penghambat terbesar korban kekerasan seksual tidak melaporkan kasus kepada pihak yang berwenang, alasan kedua dan ketiga merupakan ketakutan tidak dipercaya dan kekhawatiran tentang konfidensialitas. (Sable, Danis, Mauzy, & Gallagher, 2006). Di Indonesia sendiri, menurut survey daring Lentera Sintas Indonesia dan Magdalene.co di tahun 2016 sebanyak 93 persen dari kasus penyintas kekerasan seksual tidak dilaporkan. Dan menurut survei yang dilakukan Tirto.id, dari 68 dari 174 kasus kekerasan seksual pelaku adalah mahasiswa. (Tirto, 2019)

Namun itu bukan satu-satunya alasan mengapa saya tidak mau melapor. Saya juga bingung itu masuk kekerasan seksual atau tidak, dan apakah itu memang salahku? Di otakku hanya muncul kalimat ini, “Udah lah, gak usah membesarkan masalah. Entah kan lu yang milih untuk minum sama dia. Dia engga salah disini. Kan dia juga engga sampai memperkosa atau hal yang separah itu, kenapa harus dipermasalahkan?” 

Sexual Assault Research Initiative di Indiana University menemukan bahwa korban banyak yang tidak menganggap kasus mereka sebagai kekerasan seksual karena mereka merasa situasi tidak tergolong cocok dengan klasifikasi stereotip kekerasan seksual atau pemerkosaan yang ada di masyarakat. Tiga faktor di antaranya adalah sang pelaku tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku kekerasan seksual mereka (misal, teman dekat atau orang terpandang di kampus), mereka khawatir tingkah laku mereka saat kejadian itu terjadi tidak tergolong ‘normal’ bagi seorang korban (seperti merasa salah mereka sendiri karena mabuk), dan mereka tidak disakiti secara fisik (BBC, 2018).

Namun, yang jelas ditegaskan oleh Zoe Peterson, direktur Sexual Assault Research Initiative, adalah “Whether or not someone labels a sexual assault or rape as a sexual assault or rape, it doesn’t necessarily influence whether or not it’s traumatic.” (BBC, 2018)

Trauma yang dimaksud dibahas di kajian End Violence Against Women International (EVAWI) mengenai dampak kekerasan seksual pada korban. Di antaranya ada beberapa yang mungkin tidak banyak orang tahu seperti psychological disorganization yang menyebabkan korban kesulitan mengingat apa yang terjadi karena trauma yang dialami, guilt dan self-blame di mana korban kerap menyalahkan diri sendiri, denial, atau saat korban mencoba menyangkal apa yang terjadi dan mengesampingkan dampak yang ia rasakan, serta rationalizing what happened, yaitu korban berusaha merasionalisasikan apa yang terjadi dengan mencari penyebab utama dari kejadian yang seringkali berujung ke self-blame. (EVAWI, 2019)

Dalam kasusku, hal-hal ini memang terjadi; lama-kelamaan terasa seperti otakku mulai memblokir pengalaman itu dan jika itu kembali ke permukaan, suara hatiku seakan-akan mengingatkan bahwa itu semua bukan salah dia tapi salahku sendiri. Setahun penuh saya mempercayai itu. Bahwa saya yang salah dan saya yang bodoh.

Kembali ke hari thread itu viral, saya membaca cerita-cerita korban lain yang disakitinya dan memang bervariasi. Tidak semua cerita berakhir ekstrim, namun banyak juga hal-hal yang sebelumnya saya pikir tidak mungkin ia lakukan namun kenyataannya berbeda. Yang semula saya pikir dia hanya mesum atau tidak punya decency terhadap cewek, terbongkar bahwa ia sebenarnya jauh lebih parah daripada asumsiku. 

Satu hal yang terulang-ulang terus di otakku seperti kaset rusak, “If I had just a little bit more to drink, if I had not been sober enough, saya bisa aja mengalami hal lebih buruk.”

Kondisi yang saya alami merupakan fenomena self-blame yang terkait dengan victim blaming yang sudah lama tertanam di masyarakat. Hal ini juga disebabkan oleh agent-regret yang diterapkan seorang korban pada dirinya sendiri, meskipun ia tidak bersalah. 

Agent-regret adalah kondisi ketika seseorang merefleksikan tindakannya di masa lalu dan memposisikan dirinya sebagai partisipan aktif, ia berfokus pada kemungkinan ia bisa mengambil tindakan berbeda. Hal ini dialami oleh sebagian besar korban kekerasan seksual yang berusaha mencari kesalahan di dirinya, baik itu tindakan, perkataan, pakaian ataupun keputusan lain yang ia buat untuk meyakinkan kepercayaannya bahwa ia yang salah di situasi itu, meskipun sebenarnya bukan salah dia sama sekali. Pola pikirnya yang terus-terusan membayangkan skenario ‘what-ifs’, di mana kemungkinan ia bisa menghindari terjadinya kekerasan seksual tersebut membuatnya semakin yakin bahwa ia harus bertanggung jawab atas kesalahannya (meski tidak salah). Ia mencoba merasionalisasikan apa yang terjadi dengan cara menyalahkan diri sendiri. Misplaced agent-regret ini yang seringkali menyebabkan pelaku tidak mendapat sanksi atau blame karena korban menyalahkan diri sendiri padahal seharusnya kebalikannya. (Snow, 1994)

Meringkas kembali dampak dari kejadian itu, saya menjadi trauma akan minum-minum lagi ataupun pergi dengan teman ke kosan mereka atau tempat yang menyerupai penginapan. Saya menjadi curiga dengan orang-orang terdekatku dan terus-menerus second guess myself dan keputusan-keputusanku. Terkadang banyak orang lupa bahwa kekerasan seksual tidak selalu dilakukan seorang yang tidak kita kenal ataupun orang dengan otoritas atau senioritas lebih tinggi dari kita. Kadang pelaku adalah orang yang kita anggap teman dan kita trust, dan ini membawa dampak emosional yang lebih menyakitkan karena kita awalnya percaya ia tidak mungkin melakukan hal-hal buruk seperti itu.

Berdasarkan klasifikasi West Virginia Foundation for Rape Information & Services, ada istilah yang disebut Non-stranger Sexual Assault yang terjadi ketika pelaku merupakan teman dekat atau orang yang cukup dipercaya namun memaksa atau memanipulasi korban tanpa adanya consent dari pihak yang bersangkutan (FRIS, 2005). Bahkan New York Times pernah merilis opini yang merupakan perkumpulan kisah-kisah korban kekerasan seksual yang pernah mengalaminya dan baru buka suara setelah bertahun-tahun diam diri. (New York Times, 2018)

Seperti yang pernah diutarakan di artikel Suara Mahasiswa yang berjudul “Pendidikan Tinggi dan Kekerasan Seksual, Berkorelasikah?”, kekerasan seksual yang terjadi di kampus juga membuktikan bahwa kekerasan seksual dapat dilakukan oleh siapapun dengan tingkat pendidikan apapun. Selain itu, efek domino yang lahir dari munculnya banyak kasus-kasus di media sosial menyebabkan lebih banyak orang untuk akhirnya buka suara tentang kasus-kasus lama yang pernah mereka alami (Suara Mahasiswa, 2020)

Akhirnya saya memberanikan diri setelah sudah agak sedikit lebih tenang untuk menelpon teman-teman dekatku dan menceritakan apa yang terjadi padaku setahun yang lalu. Sebagian dari mereka juga sudah melihat threadnya. Satu per satu dari mereka semua meyakinkanku bahwa ini bukan salahku dan saya jangan menyalahkan diri sendiri karena harusnya hal ini tidak terjadi. Ketika melewati ini, saya berusaha meyakinkan diriku bahwa ini bukan salahku, dan saya harus berhenti menyalahkan diriku terus-menerus. Teman-temanku yang akhirnya menyadarkanku akan hal itu.

Satu-satunya hal positif yang didapat dari pengalaman ini adalah saya menjadi sadar ada banyak orang yang peduli padaku dan siap mendampingiku melalui semua ini. Bahwa ada banyak sekali orang yang ingin mensuportku, bersedia mendengarkan dan benar-benar memahami situasiku.

Pesanku untuk survivors lain: Jangan ragukan atau salahkan dirimu ketika sesuatu terjadi padamu yang seharusnya tidak terjadi. Jangan berusaha mengesampingkan atau mengecilkan kejadian itu. Bicaralah pada orang lain. Yang penting kamu punya keberanian untuk memberitahu satu orang saja itu sudah menjadi langkah pertama untuk mendapatkan closure. Jika tidak memiliki orang yang cukup dipercaya untuk diceritakan, bisa menghubungi HopeHelpsUI atau institusi perlindungan/advokasi kekerasan seksual lain. Memang tidak mudah dan butuh keberanian untuk meminta bantuan. Tapi secepatnya itu dilakukan semakin baik. Kamu akan kagum dengan banyaknya orang di sekitarmu yang siap membantu dan supportmu dengan apapun yang kamu butuhkan.

 

Referensi:

Zuhra, W. U. N., & Adam, A. (2019, April 25). Testimoni Kekerasan Seksual: 174 Penyintas, 79 Kampus, 29 Kota. https://tirto.id/testimoni-kekerasan-seksual-174-penyintas-79-kampus-29-kota-dmTW

Ro, C. (2018, November 6). Why most rape victims never acknowledge what happened. BBC Future. https://www.bbc.com/future/article/20181102-why-dont-rape-and-sexual-assault-victims-come-forward

Lonsway, K. A., & Archambault, J. (2019, May). Victim Impact: How Victims Are Affected by Sexual Assault And How Law Enforcement Can Respond. https://www.evawintl.org/Library/DocumentLibraryHandler.ashx?id=656

n.d. (2018, October 4). Opinion | When Your Friend Is Your Rapist. Google. https://www.google.co.id/amp/s/www.nytimes.com/2018/10/04/opinion/rape-friend-sexual-assault.amp.html.

Sable, M. R., Danis, F., Mauzy, D. L., & Gallagher, S. K. (2006). Barriers to Reporting Sexual Assault for Women and Men: Perspectives of College Students. Journal of American College Health, 55(3), 157–162. doi:10.3200/jach.55.3.157-162 

Snow, N. (1994). Self-Blame and Blame of Rape Victims. Public Affairs Quarterly, 8(4), 377-393. Retrieved May 3, 2020, from www.jstor.org/stable/40435895 

West Virginia Foundation for Rape Information and Services. Acquaintance Rape | Sexual Violence | West Virginia … - FRIS. Non-Stranger Sexual Assault. http://fris.org/SexualViolence/Acquaintance.html

Febriyanto, S. A & Nadia. (2020, May 1). Pendidikan Tinggi dan Kekerasan Seksual, Berkorelasikah? Suara Mahasiswa UI. https://suaramahasiswa.com/pendidikan-tinggi-dan-kekerasan-seksual-berkorelasikah/.