Pentingnya Perubahan Perilaku Hadapi Covid-19

Faizah Diena, 29 April 2020

Pada Selasa, 28 April 2020, diadakan audiensi antara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dengan BEM se-UI. Audiensi ini difasilitasi oleh Ikatan Alumni (ILUNI) UI untuk memberikan pemahaman dan menjawab beberapa pertanyaan dari pihak mahasiswa UI, dan membahas kondisi penyebaran Covid-19 saat ini, di mana tentunya Indonesia membutuhkan kerjasama dari semua elemen masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19. 

Audiensi dibuka dengan pemaparan dari pihak BEM se-UI terkait kajian tentang Covid-19 yang mereka rilis pada 13 April 2020. Proses pembuatan kajian ini melibatkan BEM se-UI, BEM dari universitas lain, Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia dan Ikatan Mahasiswa Farmasi se-Indonesia. Kajian ini membahas beberapa upaya yang sudah diambil pemerintah seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan Rapid Test.

Pada sesi tersebut, mahasiswa yang diwakili oleh BEM UI, BEM FK, BEM FKM dan BEM Psikologi menyoroti penyebaran Covid-19 dan penanganan yang seharusnya dilakukan setiap elemen yang bertanggung jawab. “Kami menyoroti terkait bagaimana penanganan Covid-19 dilihat dari UU atau peraturan yang sudah ada. Ada empat regulasi yang mengatur penanganan penyebaran penyakit di Indonesia, wabah penyakit menular, penanggulangan bencana, kesehatan dan kekarantinaan kesehatan,” ujar Fajar Adi Nugroho, ketua BEM UI 2020

Dalam pemaparannya, BEM se-UI memberikan pandangannya terkait tumpang tindih peraturan, ketepatan kebijakan PSBB, rekomendasi karantina wilayah dan rumah serta perihal kesehatan mental selama masa pandemi ini. Terkait karantina, BEM se-UI menekankan kewajiban pemerintah untuk menjamin hak-hak warga negara selama karantina berlangsung.

Untuk menjawab pertanyaan dan usulan dari pihak mahasiswa, Prof. Wiku Adisasmito selaku Ketua Tim Pakar dalam Gugus Tugas memaparkan secara umum mengenai situasi saat ini. Dalam menghadapi Covid-19, terdapat banyak pakar dari Indonesia di berbagai bidang seperti medis, psikologi, teknologi lab, dan bidang lainnya. Ia memaparkan pendekatan yang digunakan di Gugus Tugas adalah menggunakan pendekatan pentahelix berbasis masyarakat atau komunitas yang menggabungkan seluruh potensi komponen bangsa, baik dari pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. 

Dalam menghadapi Covid-19, Prof. Wiku mengaitkannya dengan resilience atau ketahanan suatu negara. “Kalo dilihat dari resilience, ketahanan Indonesia lumayan. Coba lihat di web www.covid19.go.id. Ini web yang mencakup transparansi data,” jelasnya. 

Prof. Wiku juga menjelaskan mekanisme diagnosis penderita Covid-19. Selain itu, ia juga menjelaskan alasan durasi PSBB lama sekali. Menurutnya, hal ini berkaitan dengan menyiapkan suatu daerah dalam menghadapi pandemi secara bertahap. Ia juga menyatakan bahwa setiap orang harus menyiapkan diri menghadapi pandemi Covid-19. Agar dapat bertahan, semua orang harus melakukan perubahan perilaku dalam hal kesehatan. 

Satu hal penting yang disampaikan oleh Prof. Wiku adalah perubahan perilaku jika seandainya virus ini ada selamanya. Maka, perubahan perilaku akan bersifat tetap hingga selamanya. Otomatis perilaku lama kita harus ditinggalkan. Dengan cara ini virus diharapkan dapat segera hilang karena tidak memiliki tempat penyebaran lagi.

“Nah, itu (perubahan perilaku -red) yang harusnya dilakukan selama PSBB, itu yang dilakukan selama dilarang mudik, pulang kampung dan seterusnya,” tuturnya.  Menurutnya, perubahan perilaku ini, apabila dapat diterapkan dari mulai ranah paling rendah yakni keluarga, akan menjadi kunci kesuksesan di tingkat nasional. 

Dengan melakukan perubahan perilaku, kita dapat melindungi orang-orang yang memiliki risiko tinggi tertular covid-19. Melindungi kelompok rentan juga dapat diartikan sebagai mencegah jatuhnya korban jiwa. Perubahan perilaku ini jika dilakukan dengan serius, dampaknya akan terasa signifikan di berbagai bidang. Dalam bidang pelayanan kesehatan, pengeluaran pun menjadi lebih hemat jika pasien semakin sedikit. Hal ini pun bisa berpengaruh dalam bidang ekonomi sehingga dapat berjalan kembali dengan normal.

Ia mengharapkan BEM dapat melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat untuk merubah perilaku sesuai yang diminta oleh presiden. Pada saat PSBB berakhir dan semua aktivitas bisa berjalan dengan normal, social distancing harus tetap dilakukan. Ia juga menekankan jangan sampai terjadi PSBB kedua dikarenakan tidak adanya perubahan perilaku kesehatan di masyarakat yang tentunya berbahaya bagi kesehatan.

Apabila perubahan perilaku tidak dilakukan, dampaknya akan berlanjut dari ekonomi hingga sosial. Dampak secara sosial ini berbahaya karena indikasinya saat ini sudah mulai muncul. “kebijakan kesehatan, kebijakan ekonomi, kebijakan sosial harus dibahas jadi satu, melindungi manusia itu nomor satu, tapi tidak berarti mengorbankan ekonomi dan sosial karena korbannya nanti juga besar. Jadi, dengan cara preventif-promotif itu lebih efektif dari sekadar kuratif,” tutup Prof. Wiku.

Teks: Faizah Diena
Foto: Istimewa
Editor: M.I. Fadhil

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas!