Rasisme Sistemik: Tapak Tilas Kolonialisme yang Menggilas Keadilan Rasial

Ahmad Thoriq, Sbastian Rai, 23 June 2020

Ketika seseorang terlahir ke dunia, ia memiliki anugerah dari Sang Pencipta. Di antara  berbagai anugerah tersebut adalah panca indra atau kedua orang tua yang menyayanginya, juga termasuk warna kulitnya. Pada hakikatnya, kita semua adalah sama, manusia, sebelum kita menjadi apapun yang kita internalisasikan. Meskipun begitu, ada beberapa orang yang tidak berpandangan demikian. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Amerika. Terjadi pembunuhan terhadap seorang pria African-American, George Floyd. Peristiwa yang terjadi pada 25/5/2020 lalu, menjadikan momentum bagi warga Amerika dan dunia untuk melawan bentuk rasisme. Lantas, apa sebetulnya yang dimaksud rasisme? Apakah rasisme alami? atau memang buatan dan diajarkan serta ditanamkan dalam kelompok masyarakat tertentu?

Rasisme atau rasialisme menurut pengertian KBBI adalah prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda. Ada dua pembahasan ras yang sering kita dengar. Dalam pembahasan akademis, kita mengenal pembahasan ras terutama dalam lingkup ilmu biologi. Sedangkan dalam istilah politik, ras menjadi sebuah alat politik. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Tommy Awuy, selaku salah satu dosen filsafat FIB UI dalam wawancara telewicara pada 10/7/2020. 

“Cirinya itu ada gerakan yang jelas, ada komando, dan melembaga,” ujar Tomi mengenai rasisme yang sistematik dalam telewicara. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa peristiwa seperti ini terjadi tidak hanya di luar negeri seperti Amerika saja, melainkan di negara kita tercinta juga.

Jika menilik kepada sejarah, maka masa kolonial adalah zaman ketika Indonesia dikenalkan dengan rasisme itu sendiri. Pemerintahan Belanda membagi masyarakat ke dalam 3 kelas masyarakat, mulai dari Eropa, Timur Asing, dan Pribumi. Sedangkan di Amerika, pembagian kelas masyarakat lebih ekstrim lagi, yakni orang kulit putih dan orang kulit hitam,  ketika itu mereka banyak dijadikan budak untuk membangun negara Amerika yang merdeka seperti kita lihat sekarang. 

Semuanya memiliki kesamaan, yakni penggunaannya dalam hal politik kekuasaan, membagi kelas masyarakat untuk mengukuhkan legitimasi salah satu ras. Ketika sebuah bangsa merasa maju dan memiliki keunggulan dalam ekonomi maupun ilmu pengetahuan, ada kecenderungan bahwa mereka melihat ras mereka “lebih” dari ras lain.

Semenjak revolusi industri pula, kemajuan ilmu pengetahuan menjadi sangat pesat di barat. Dari hal ini pula muncul rasa superior dari orang ras kulit putih.

“Sampai-sampai, ada istilah ‘White man burden’,” rinci Tomi. Artinya, ras kulit putih merasa berhak untuk memimpin peradaban, dan terkadang dalam caranya memang memasukkan unsur rasisme.

Unsur rasisme tersebut sampai sekarang pun masih eksis karena merupakan akibat dari praktik rasisme yang sistemik. Rasisme sistemik ini dipelihara dan dilembagakan melalui kebijakan, praktik, dan aturan yang memang diciptakan untuk membedakan kedudukan antara ras-ras yang ada. "Jim Crow Law" kemudian menjadi satu dari sekian banyak hukum yang mendorong segregasi rasial di Amerika sejak 1870-an hingga 1950-an.

Pemisahan atau segregasi inilah yang menjadi akar permasalahan ras di Amerika. Hal ini dijelaskan oleh Orlando Patterson, Profesor Sosiologi John Cowles, dalam interviewnya bersama The Harvard Gazette, “Salah satu aspek mendasar dari masalah ras di Amerika adalah segregasi. Populasi orang berkulit hitam sekarang hampir sama terpisahnya seperti di tahun 60’s, hal ini yang memperkuat bahwa orang berkulit hitam adalah outsider.”

Rasisme sistemik yang terjadi di Amerika dirincikan secara jelas oleh Race Forward, organisasi yang aktif dalam gerakan keadilan rasial. Dalam kanal digitalnya, raceforward.org, Race Forward menunjukkan rasisme sistemik di Amerika dapat dilihat dari; diskriminasi ketenagakerjaan, diskriminasi perumahan (housing discrimination), kesenjangan kekayaan (wealth gap), pengawasan oleh pemerintah (government surveillance), tingkat penahanan (incarceration), penahanan atas kepemilikan obat-obatan (drug arrest), kebijakan imigran (immigrant policy), dan tingkat kematian bayi (infant mortality).

Rasisme yang terjadi pada aspek di atas menempatkan orang berkulit hitam dan non white lainnya pada kondisi yang buruk dan merugikan. Sebagai contoh, masih dilansir dari Race Forward, tunakarya berkulit hitam lebih tinggi dua kali daripada tunakarya berkulit putih, dan apabila melamar kerja dengan nama yang terdengar seperti orang berkulit putih (a white sounding name) maka kemungkinan untuk dipanggil kembali adalah 50% dibanding nama yang terdengar seperti orang berkulit hitam (a black sounding name). Selain itu, kematian ibu berkulit hitam saat proses melahirkan lebih tinggi 3 kali dengan penerimaan perawatan parental yang 2 kali lebih rendah.

Diskriminasi yang dirasakan oleh ras berkulit hitam di Amerika tentu menjadi luka yang masih dirasakan oleh mereka hingga sekarang, dan juga dirasakan ras atau kelompok minoritas lainnya di berbagai dunia, seperti penindasan yang dirasakan rakyat Palestina, rasisme terhadap penduduk asli Aborigin di Australia, dan rasisme terhadap orang-orang Papua di Indonesia.

Ada dua hal penting bagi Tomi yang harus dilakukan oleh sebuah bangsa, khususnya bangsa Indonesia untuk menuntaskan rasisme. "Sadar sejarah, hindari penggunaannya dalam kampanye, maupun ujaran-ujaran yang senada dengannya," pungkas Tommy. Sudah saatnya kita memberangus rasisme dari dunia karena tidak ada alasan untuk melakukan diskriminasi berdasarkan ras yang hakikatnya adalah anugerah dari Sang Pencipta.