Rektorat Melengos, UKT Terkatung-Katung?

Sultan F. Basyah, Sbastian Rai, 07 July 2020

Aliansi BEM se-UI bersama dengan BK MWA UI UM 2020 telah melakukan audiensi bersama dengan pihak rektorat UI terkait UKT UI di masa pandemi Covid-19 pada Senin (7/7). Dari pihak rektorat UI sendiri turut hadir Vita Silvira, S.E., MBA selaku Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Logistik UI dan juga dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D selaku Sekretaris UI, serta juga beberapa petinggi rektorat lainnya.

Audiensi ini pada mulanya akan dilakukan melalui Zoom milik BEM UI dengan disiarkan langsung melalui kanal Youtube BEM UI, tapi kemudian hal ini tidak dapat dilakukan karena audiensi dilakukan melalui Zoom milik rektorat. Selanjutnya, meskipun tidak diizinkan untuk melakukan siaran langsung melalui kanal Youtube, BEM UI tetap menginformasikan secara langsung kondisi audiensi dengan menerbitkan utas khusus di Twitter.

Dalam utas tersebut dikatakan bahwa dari pihak rektorat UI tidak mengizinkan penyiaran langsung karena audiensi ini dianggap sebagai pertemuan privat sehingga tidak bisa disiarkan ke publik. Selain itu, pada awalnya juga yang akan menghadiri audiensi adalah ketua-ketua BEM se-UI bersama dengan MWA UI UM 2020, tapi kemudian secara mendadak rektorat UI hanya mengizinkan lima belas mahasiswa saja yang dapat menghadiri audiensi, tentunya hal ini berimbas pada beberapa ketua BEM fakultas yang tidak dapat mengikuti audiensi.

Selanjutnya diinformasikan juga dalam utas tersebut bahwa audiensi dimulai dengan pemaparan hasil jaring aspirasi terkait dampak pandemi Covid-19 terhadap kondisi finansial mahasiswa UI yang dilakukan oleh Adkesma BEM se-UI dan BK MWA UI UM 2020. Dalam hasil survei tersebut diterangkan bahwa 82,9% dari 3.305 responden merasa pandemi Covid-19 berpengaruh terhadap kemampuan pembayaran BOP. Sementara itu, hasil survei yang dilakukan Pasca UI Gerak menunjukkan 86% responden mengakui bahwa sumber pendapatan pribadi atau orang tua terdampak langsung oleh pandemi Covid-19.

Berdasarkan survei tersebut, pihak mahasiswa mengajukan beberapa rekomendasi kebijakan kepada pihak rektorat UI yakni transparansi terkait pengalokasian BOP, evaluasi kegiatan belajar mengajar dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), pengalokasian anggaran biaya yang tidak digunakan selama masa pandemi untuk menunjang PJJ, penyesuaian biaya pendidikan semester ganjil, pembuatan SPO yang jelas dan komprehensif, dan perpanjangan masa pembayaran biaya pendidikan.

Setelah pemaparan hasil survei dan pengajuan rekomendasi kebijakan dari pihak mahasiswa, pihak rektorat selanjutnya menjawab bahwa respon tidak dapat diberikan karena perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam lagi setelah ini.

"Kita semua lagi kena musibah, kita bergotong royong menghadapi ini, kita harus menanggung beban bersama-sama. Jadi, tidak dibebankan ke satu pihak, tapi pihak lain tidak ikut memikul. Dosen juga kesusahan, bukan cuma mahasiwa," ujar Sekretaris UI, dr. Agustin.

Agustin selanjutnya mengatakan bahwa kemampuan dari UI sendiri terbatas karena pemasukan juga menurun. Ia menuturkan bahwa pengalokasian uang yang terbatas itu harus dilakukan oleh UI agar UI tetap bisa melangkah maju. Pengalokasian ini sebagaimana yang ia katakan berkaitan dengan segala bentuk kemudahan, subsidi, keringanan, beasiswa, dll. Ia menekankan bahwa segala bentuk pengalokasian tersebut harus tepat sasaran.

"Kata kunci pertama gotong royong, kedua tepat sasaran. Misal kalau saya mampu bayar, kenapa saya harus kurang. Mungkin ada penurunan namun saya masih mampu. Misal kalau saya masih bisa bayar 7,5 dan saya mampu, kenapa saya harus bayar kurang dari itu?" lanjutnya.

Selain itu, Vita Silvira selaku Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Logistik UI juga menuturkan bahwa ada penurunan bantuan dari pemerintah ke beberapa PTN-BH. Berlawanan dengan apa yang disampaikan oleh Vita, pihak BEM UI mengatakan dalam utasnya bahwa dalam RKAT UI tahun ini terjadi kenaikan bantuan dari pemerintah.

"UKT berubah maka bantuan dari pemerintah juga berubah. Dikbud bilang ga akan berikan bantuan subsidi lebih lagi ke UI. Kita tidak bisa menentukan UKT secara sembarangan, di tengah pandemi ini kita harus mendiskusikan item-item pembentuk UKT ini ke Dikbud terkait pengkategorian Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung. Tiap-tiap PTN memberikan item-item yang membentuk UKT kepada Dikbud,”  ujar Vita.

Dalam utas tersebut disebutkan juga bahwa pihak rektorat UI mengkritisi jumlah sampel survei jaring aspirasi mahasiswa UI yang tidak sampai 10% populasi. Hal ini selanjutnya disindir balik oleh BEM UI melalui utasnya bahwa justru pihak UI sendiri tidak pernah melakukan survei tersendiri untuk mengetahui dampak pandemi covid-19 terhadap kemampuan ekonomi mahasiswanya.

Selanjutnya, Vita mengatakan bahwa UI sudah sering melakukan transparansi data secara publik. Padahal menurut data yang ada, ringkasan laporan keuangan terakhir yang diunggah oleh UI adalah ringkasan keuangan tahun 2018. Pihak mahasiswa pun meminta agar UI memberikan transparansi perbandingan keuangan UI sebelum pandemi (Data RKAT 2019) dan ketika pandemi (Data RKAT 2020).

Setelah Vita berbicara, Agustin selanjutnya berbicara kembali dengan mengatakan bahwa UI sudah menyediakan mekanisme beasiswa bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan. Kemudian ia mengatakan bahwa terdapat alokasi dana yang dipindahkan untuk penanganan Covid-19. Ia mengatakan bahwa hal seperti itu tidak perlu diceritakan pada mahasiswa.

Terakhir, setelah Agustin berbicara, pihak rektorat mengakhiri audiensi secara sepihak tanpa penutup dan tanpa memberikan kesempatan kepada pihak mahasiswa untuk menyampaikan kesimpulan. Hal ini disebutkan dalam twit terakhir di utas khusus terkait audiensi tersebut dan telah mendapat perhatian besar dari pengguna Twitter dengan seribu like lebih dan juga retweet yang mencapai 1400an retweet. 

Aksi Tagar dalam Pengawalan Audiensi

Dalam mengawal audiensi tersebut, BEM UI mengajak seluruh mahasiswa Universitas Indonesia menggunakan tagar #UIBergerak dan #DiamBukanSolusi. Tagar tersebut pun ramai digunakan di Twitter hingga sempat menjadi trending topik. Aksi menaikkan tagar tersebut juga diusung oleh Aliansi Kolektif Mahasiswa (Akoma) UI. Akoma UI mempropagandakan aksi untuk menyuarakan keresahan mahasiswa dengan menyediakan templat cuitan yang sudah berisikan tagar #UIBergerak dan #DiamBukanSolusi, serta me-mention akun Akoma UI (@AkomaUi) dan akun Universitas Indonesia (@Univ_Indo). Aksi yang dijadwalkan pada pukul 19.00 WIB tersebut pun ramai diikuti oleh mahasiswa Universitas Indonesia dengan berbagai keresahan dan kekecewaan yang dimilikinya. 

“Fasilitas ngga dipakai, bayar kuota sendiri, usaha orangtua melamban sekali, UKT kami, bolehkah diturunkan UI?” cuit akun @howmoonsound

“Pas MPKT-A dijejelin 9 nilai UI, tp keterbukaan, kebersamaan, keadilan, sm kejujurannya kaya janji janji pejabat mahasiswa yg cacad pas eksplorasi,” tulis akun @Callme_aip

“Ga universitas ga pemerintah indonesia, sama-sama suka nutup telinga dan rangkap jabatan,” tulis akun @rafliest_

Setelah audiensi yang diberhentikan sepihak dan sampai aksi tagar yang trending, pihak Universitas Indonesia belum memberikan klarifikasi maupun penjelasan lebih lanjut terkait isu keringanan UKT di lingkungan Universitas Indonesia.

Teks: Sultan F. Basyah, Sbastian Rai
Foto: Sbastian Rai
Editor: Rifki Wahyudi

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas