Road to IBOMA 2020: Industri Film Indonesia Semakin Berkembang

Trisha D. H., 13 March 2020

Pada Kamis (27/2), UKM Senimatografi UI menyelenggarakan acara Road to Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) yang kelak akan diselenggarakan tanggal 20 Maret mendatang. Acara yang diselenggarakan di Auditorium Juwono Sudarso, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia tersebut dimulai dengan pemutaran film Dua Garis Biru—yakni salah satu dari sepuluh film terbaik tahun 2019. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu Masterclassdengan judul “Menjaga Masa Depan Film Indonesia”, bersama Putut Widjanarko dan Darius Sinathrya. Putut merupakan VicePresident dari Mizan Publika dan telah memproduksi beberapa film termasuk Laskar Pelangi, Madre dan Perahu Kertas. Sedangkan, Darius terkenal sebagai presenter, aktor, dan produser film tanah air. Salah satu film yang diproduserinyaberjudul Night Bus.

Putut menjelaskan bahwa market share film Indonesia saat ini sudah meningkat menjadi 35 persen dari seluruh industri, yang merupakan angka yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan industri film negara-negara Asia Tenggara. “Dari 2016 marketshare kita naik terus, sampai dengan 2019 memuncak menjadi 35 persen,” kata Putut

Menurut sebuah survei, alasan utama orang tidak gemar pergi ke bioskop bukanlah karena kualitas film Indonesia, namun karena bioskop yang jauh dan harga tiket yang mahal. Dengan meningkatnya industri perfilman Indonesia, meningkat juga jumlah bioskop yang sudah hadir di lebih dari 300 kota maupun kabupaten.

Putut menuturkan bahwa industri film di indonesia sedang dengan sangat baik maka membutuhkan sumber daya yang lebih banyak. “Ini kesempatan kalian yang mau masuk ke dalam industri film, salah satunya kekurangan penulis naskah yang baik; agar storytelling-nya semakin beragam. Kesulitan itu,” kata Putut. Ia juga menambahkan, “Tidak hanya penulis, juga berbagai unsur lainnya dibalik layar.”

Darius menjelaskan bahwa industri film Indonesia sudah semakin dewasa di era modern. “Ini adalah era dimana film indonesia semakin dewasa, di era modern. Dimulai akhir 90-an sampai 2000-an, film-film Indonesia berhasil rantai bioskop yang eksklusif dan mulai menghadirkan film dengan warna berbeda-beda,” kata Darius

Saat ditanya tentang peluang bersaing dengan film-film Hollywood—layaknya film Parasite dari Korea Selatan yang berhasil masuk nominasi Oscar dan memenangkan banyak penghargaan—Darius mengatakan bahwa fenomena tersebut membutuhkan proses yang lama, yakni menjalin relasi dengan pemangku kebijakan dan unsur politik yang diperhitungkan. Ia menambahkan Korea Selatan sendiri sedang naik daun di berbagai industri multinasional lain seperti musik dan bisnis, sehingga mulai mendominasi dunia internasional. Ia mengatakan terdapat banyak sekali faktor yang menyebabkan kemenangan Parasite. Saat ini, Indonesia harus memajukan perfilmannya dari segi industri agar suatu saat dapat meraih prestasi tersebut. Menurut Darius, perpindahan pengambilan gambar dari analog ke digital mempermudah proses pembuatan film.

“Kan pada akhirnya ratusan juta sampai milyaran film output-nya bentuknya sekarang digital, dalam satu hard disk copy gitu. Engga ada nilainya itu hard disk kecuali diputar di bioskop. Itu pun di bioskop ada cost yang harus ditanggung oleh pemilik bioskopnya, baik untuk karyawannya yang bersih-bersih, untuk tempatnya, ac-nya, listriknya dan segala macem. Jadi ini adalah industri, dan produser pasti berpikir bagaimana caranya supaya investasinya kembali. Ya tentu menarik penonton yang banyak, apapun yang dibuat,” ungkap Darius

 

Teks: Trisha Dantiani H
Foto: Trisha Dantiani H
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas!