Sputnik: Debut Egor Abramenko yang “Terlalu” Mendunia

Novia Sarifa Az-zahra, 28 August 2020

Judul: Sputnik
Sutradara: Egor Abramenko
Produser: Mikhail Vrubel, Alexander Andryushchenko, Fyodor Bondarchuk, Ilya Stewart, Murad Osmann, Pavel Burya, dan Vyacheslav Murugov
Genre film: Fiksi ilmiah, Thriller, Horor
Tanggal rilis: 14 Agustus 2020 (Amerika Serikat)
Durasi : 113 menit
Pemain: Pyotr Fyodorov, Aleksey Demidov, Fyodor Bondarchuk, dan Oksana Akinshina.

“…di planet ini, kita—manusia—adalah juaranya ketakutan.”

Sputnik menandai debut Egor Abramenko sebagai sutradara film layar lebar. Mengikuti genre film pendek yang disutradarainya pada 2017 lalu, The Passenger, Abramenko kembali menyelami fiksi ilmiah dengan sentuhan thriller-horor dalam Sputnik. Selain sukses dalam pasar domestik Rusia, film debutnya ini pun mendapat nominasi serta direncanakan tayang perdana dalam Tribeca Film Festival 2020 dan L’Étrange Festival 2020.

Walaupun mengambil latar perlombaan antariksa khas Perang Dingin, kata Sputnik dalam film ini tidak mengacu pada satelit Uni Soviet yang diluncurkan 1957 silam. Film besutan Egor Abramenko ini menceritakan misi angkasa Uni Soviet yang lain.

Kisah Sputnik Abramenko dimulai dengan kemunculan dua astronaut Uni Soviet bernama Konstantin Veshnyakov (Pyotr Fyodorov) dan kopilot Kirill Averchenko (Aleksey Demidov) yang sedang melaksanakan sebuah misi angkasa. Pesawat yang mereka tumpangi tiba-tiba mengalami kendala dan mendarat dengan buruk di Kazakhstan pada 1983. Setelah pendaratan itu, Konstantin adalah satu-satunya pilot yang selamat dan ia kehilangan sebagian ingatannya.

Adegan berlanjut pada kemunculan tokoh Komandan Semiradov (Fyodor Bondarchuk) yang menemui dr. Tatyana Klimova (Oksana Akinshina dari The Bourne Supremacy)—seorang dokter yang terlibat masalah karena berani mengambil risiko dalam menangani pasien. Semiradov meminta dr. Tatyana untuk menangani Konstantin yang tampaknya amnesia dan sedang diasingkan dalam fasilitas tempat Semiradov mengawas. Semiradov tidak memberitahu alasan pengasingan Konstantin kepada dr. Tatyana. Namun, setelah beberapa kali memeriksa Konstantin, dr. Tatyana sadar bahwa astronaut itu membawa pulang masalah lain ke bumi.

Masalah sebenarnya terungkap: Konstantin membawa “teman” kecil dari luar angkasa di dalam tubuhnya (fakta menarik: kata sputnik dalam bahasa Rusia tidak hanya bermakna satelit, tetapi juga bermakna teman). Alien itu dapat keluar masuk tubuh Konstantin dan menimbulkan teror di sekitarnya. Uniknya lagi, sang alien ternyata memakan hormon kortisol—hormon yang meningkat jika manusia merasa ketakutan. Melalui ide yang unik ini, Sputnik pun mengajak penonton untuk menjadi berani.

Kisah Sputnik tampak tak asing dalam dunia perfilman fiksi ilmiah bertema luar angkasa. Alien (1979), film fiksi ilmiah terkenal yang disutradarai Ridley Scott, juga menceritakan tentang astronaut yang kehilangan ingatan dan menyimpan alien dalam tubuhnya. Namun, keberadaan alien pemakan hormon kortisol dalam Sputnik berhasil membuatnya cukup berbeda.

Salah satu kekuatan film ini terletak pada keberhasilan Abramenko beserta tim dalam menciptakan sosok alien yang unik dan orisinil. Dalam wawancaranya dengan IndieWire, Abramenko menjelaskan bahwa penciptaan karakter itu dilakukan untuk memukau penonton. Demi mewujudkannya, mereka pun memilih ular—hewan yang paling umum ditakuti manusia—untuk dikombinasikan dengan komodo dalam desain sang alien. Ide-ide mereka itu pun dieksekusi dengan baik melalui teknologi Computer-generated imagery (CGI). Tak tanggung-tanggung, Abramenko beserta tim juga ahli mencetuskan ide tentang penggunaan hormon kortisol untuk menambah keunikan dan orisinalitas sang alien.

Selain dalam penciptaan aliennya, film ini juga memiliki beberapa keunggulan lain. Pada teknik pengambilan gambar, Abramenko dan timnya berhasil memberikan angle dan pergerakan kamera yang baik. Selain itu, perpaduan efek suara yang merinci dan akting yang baik juga memberikan nilai tambah tersendiri.

Sayangnya, Sputnik kekurangan nilai emosional. Mengingat lajunya yang lambat, kekurangan nilai ini membuatnya menjadi terasa kurang “hidup” dan membosankan. Abramenko memang sempat berusaha memasukkan nilai emosional dalam film debutnya ini, tetapi belum cukup. Ia menyia-nyiakan kesempatan untuk menghidupkan Sputnik melalui ikatan antartokoh yang sudah ada.

Upaya Sputnik menggambarkan Komandan Semiradov sebagai perwira militer yang totaliter tampaknya tidak asing. Hal ini terlihat melalui aksinya dalam mengisolasi, memanfaatkan, dan menindas hak pribadi Konstantin. Sayang sekali, penggambaran seperti ini juga sempat dimunculkan pada film-film pendahulu Sputnik. Sebut saja film raksasa hijau dari Marvel yang dikejar-kejar tentara militer karena kekuatan supernya, The Incredible Hulk (2008).

Pada akhirnya, kehadiran Sputnik adalah fenomena spesial. Perilisannya menandai debut Egor Abramenko dan langsung mendapatkan banyak perhatian, baik dari dalam Rusia maupun seluruh dunia. Padahal, Sputnik belum mampu membayar antusiasme yang diperoleh dengan setimpal. Keunggulannya yang mayoritas ada pada sajian visual tidak diimbangi dengan upaya menghidupkan film berlaju lambat ini. Mengingat kisahnya yang mirip dengan film-film terdahulu, Sputnik juga seharusnya mampu memberikan perbedaan yang benar-benar berkesan.

Teks: Novia Sarifa Az-zahra
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas!