TikTok: Popularitas dan Kelanjutan Eksistensinya

Tim Litbang, 12 April 2020

Video singkat belakangan ini dijadikan sarana untuk berinteraksi lewat media sosial. Snapchat lebih dulu merintis gaya baru (video) dalam berinteraksi ini pada 2013 lalu. Setelah itu, Instagram menerapkan hal yang sama dan membawa tren interaksi dengan video singkat ke puncak popularitasnya pada 2016. 

Sebagai aplikasi tempat berkumpulnya video-video berdurasi singkat, TikTok tentu mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat yang sudah terbiasa dengan tren ini. Ketenaran TikTok lalu menyebar luas dengan cepat di berbagai belahan dunia, terutama di kota-kota besar seperti Los Angeles, New York, London, Paris, Berlin, Dubai, Mumbai, Singapura, Jakarta, Seoul, dan Tokyo. Siapa pun dapat dengan mudah membuat atau menyaksikan video singkat orang lain yang melakukan lipsync, menari, dan akting.

Awalnya, mayoritas video singkat yang beredar di Indonesia dari aplikasi TikTok adalah video-video hiburan saja. Aplikasi ini bahkan mendapat stigma sebagai aplikasi alay. Namun, saat ini orang-orang yang membuat video singkat di TikTok tidak melulu untuk konten hiburan semata. Tidak jarang dijumpai video-video singkat yang berisi pesan kemanusiaan, bahkan pengenalan organisasi. Perusahaan-perusahaan besar seperti Coca-Cola, Nike, ABC, dan Google bahkan memuat iklannya di Tiktok. Organisasi kesehatan dunia (WHO) juga membuat video singkat terkait pesan menghadapi pandemi Covid-19 melalui aplikasi TikTok. 

Sejarah Singkat TikTok

Pada 2016, perusahaan Tiongkok bernama ByteDance membuat aplikasi Douyin, tetapi belum terkenal. Setahun berikutnya, yaitu 2017, perusahaan tersebut mengakuisisi Musical.ly. Douyin pun bersatu dengan Musical.ly pada 2018 dan mengubah namanya menjadi TikTok untuk memasuki pasar Amerika Serikat. Nama Douyin dan TikTok dibedakan karena keduanya berada di server yang berbeda demi menjalankan hukum sensor Tiongkok. Sejak saat itu, popularitas TikTok melonjak. Pada Oktober di tahun yang sama, ByteDance menjadi salah satu start up paling menjanjikan di dunia. Selanjutnya, pada 2019, bersama dengan Douyin, keduanya telah diunduh sebanyak 1 milyar kali oleh penduduk dunia.

Statistik Negara Pengguna TikTok Terbesar

Semenjak peluncuran TikTok pada 2016, popularitas aplikasi tersebut semakin berkembang. Menurut Datareportal 2019, TikTok memiliki 500 juta pengguna aktif di seluruh dunia. Selain itu, TikTok menjadi salah satu aplikasi yang paling banyak diunduh beberapa tahun belakangan ini. Aplikasi ini telah diunduh sebanyak 614 juta kali terhitung sejak Januari hingga November 2019. 

Berdasarkan statistik yang dirilis oleh SensorTower pada 2019, sebanyak 466.8 juta pengunduh aplikasi TikTok berasal dari India (45% dari total jumlah pengunduh), menjadikan India sebagai negara dengan pengunduh TikTok terbanyak di dunia. Pada posisi kedua ditempati oleh Tiongkok dengan 173.2 juta pengunduh (7.4% dari total jumlah pengunduh) lalu disusul oleh Amerika Serikat yang menempati posisi ketiga dengan 123.8 juta pengunduh (6% dari total jumlah pengunduh).

Respon Mahasiswa UI atas Fenomena Aplikasi TikTok

Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Suara Mahasiswa UI (Suma UI) telah melakukan riset terkait opini mahasiswa UI tentang TikTok dan fenomena video singkat yang menyertainya. Riset tersebut menggunakan metode survei yang disebar melalui Google Form selama 10 hari dan mendapat respon sebanyak 94 mahasiswa dari berbagai fakultas. Hasil survei tidak mewakili seluruh mahasiswa aktif UI.

Dari 94 responden, hanya satu responden yang tidak mengetahui aplikasi TikTok. Selanjutnya, mengenai pandangan mahasiswa terhadap TikTok, jawaban yang diperoleh cukup beragam, mulai dari tidak tahu, menganggap TikTok sebagai sarana menyalurkan kreativitas dan melepaskan penat, hingga yang menganggapnya alay bahkan menyebabkan demoralisasi. Salah satu mahasiswa berpendapat bahwa menurutnya ketika seseorang berusaha untuk mengekspresikan dirinya melalui TikTok adalah hal yang sah-sah saja, asal digunakan dengan bijak. Tambahnya, lebih lagi, saat ini TikTok lebih berfungsi kepada penyaluran bakat, seperti dance, media ekspresi, untuk usaha, dan memviralkan lagu seseorang. Responden lain menyatakan bahwa ia pernah membuat video TikTok saat kelas 1 SMA yang mana aplikasi tersebut belum begitu eksis. Namun, ia menambahkan, “Jika dilihat dari segi moral dan agama, TikTok telah mengubah para penggunanya, di mana tidak ada lagi rasa malu dalam mengekspresikan dan melakukan gerakan-gerakan yang seharusnya tidak dipertontonkan oleh banyak orang.”

Sebanyak 45.7% (43 orang) menyatakan tidak pernah membuat video di aplikasi TikTok, 33% (31 orang) pernah membuat video menggunakan akun TikTok teman, dan 21.3% (20 orang) pernah membuat video menggunakan akun TikTok pribadi mereka. Hal ini menandakan bahwa antusiasme mahasiswa UI untuk membuat video di aplikasi TikTok ketika mereka sendiri tidak terdaftar lebih tinggi daripada mereka yang membuat video di akun pribadi yang terdaftar.

Aplikasi Tiktok tentu memiliki manfaat tersendiri bagi sejumlah 71 responden. “Sebagai media penghibur” menempati pilihan terpopuler bagi para responden, disusul oleh “tempat penyaluran bakat”, “wadah untuk mengikuti tren”, dan “persyaratan kepanitiaan/organisasi”. Selain itu, terdapat pula responden yang menganggap manfaat TikTok sebagai sarana menciptakan penghasilan, sarana observasi perilaku masyarakat Indonesia, sarana mencari referensi musik, hingga tidak merasakan manfaat apa pun. Pada pertanyaan ini, responden dapat memilih lebih dari satu opsi sehingga membuat total jumlah respon yang didapat melebihi jumlah responden yang mengisi.

Pembuatan video TikTok dapat dilakukan kapan saja dan sebanyak apa pun sesuai minat pengguna TikTok. Dari jawaban 33 responden pengguna TikTok, diperoleh sebesar 72.7% (24 orang) menyatakan hanya membuat video menggunakan aplikasi TikTok sebanyak sekali dalam seminggu, 12.1% (empat orang) menyatakan membuatnya sebanyak dua kali dalam seminggu, 9.1% (tiga orang) membuatnya lebih dari dua kali dalam seminggu, dan 6.1% (dua orang) membuatnya setiap hari. Hal ini mengungkapkan bahwa sebagian besar responden jarang membuat video TikTok dalam kurun waktu seminggu.

Pemakaian media sosial secara berlebihan dapat mengganggu produktivitas perkuliahan, begitu juga dengan TikTok. Sebagaimana merujuk dari pernyataan sebelumnya, mengenai jarangnya responden membuat video TikTok, dari 49 responden pengguna TikTok dapat diperoleh data bahwa sebesar 95,9% (47 orang) justru tidak merasa terganggu aktivitas perkuliahannya. Sebaliknya, hanya sebesar 4,1% (2 orang) merasa terganggu aktivitas perkuliahannya dengan membuat video TikTok. 

Kemudian, dari jawaban 94 responden, dapat diperoleh data opini mahasiswa terkait perlu/tidaknya keberadaan aplikasi TikTok. Dari 94 responden, 55.3% (52 orang) berpendapat bahwa keberadaan aplikasi TikTok tidak diperlukan, sedangkan 44.7% (42 orang) sisanya berpendapat bahwa keberadaan aplikasi ini masih diperlukan.

Mengenai alasan seluruh responden terhadap keberadaan TikTok, dapat ditemukan jawaban-jawaban yang cukup menarik. Salah satu responden yang setuju mengatakan bahwa keberadaan aplikasi ini memberikan wadah baru bagi mereka yang mempunyai bakat di bidang entertainment. Mereka bisa membagikan dance terbaru mereka dengan mudah. “Aplikasi ini juga menjadi media penghibur baru. Namun, sesuatu yang berlebihan tentu saja akan berdampak negatif. Untuk itu aplikasi ini bisa digunakan seperlunya,” tambahnya. Di sisi lain, responden yang tidak setuju mengungkapkan bahwa video TikTok memang ada yang menghibur, tetapi tidak baik jika memengaruhi anak-anak sehingga mereka kurang waktu belajar dan menjadi malas. Ia juga menegaskan bahwa membuat video TikTok dapat merugikan orang tua yang sudah susah payah mencari nafkah karena perbuatan tersebut dirasa tidak bermanfaat.

Teks: Tim Litbang Suma UI
Desain: Ika Madina

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas! 

Sumber:
Bhaskara, Ign. L. Adhi. 18 Maret 2019. "TikTok Kuasai Dunia: Ketika Alay Sama dengan Popularitas" - Tirto.ID https://tirto.id/tiktok-kuasai-dunia-ketika-alay-sama-dengan-popularitas-djxg 

Bonfiglio, Nahila. 16 November 2019. "TikTok: Everything You Need To Know About the Video App" - Daily Dot https://www.dailydot.com/unclick/who-created-tiktok/?amp#aoh=15844651630034&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&_tf=From%20%251%24s

Byford, Sam. 26 Oktober 2018. "TikTok owner Bytedance is now the world’s most valuable startup" - The Verge https://www.theverge.com/2018/10/26/18026250/bytedance-china-tiktok-valuation-highest-toutiao##targetText=Bytedance%2C%20the%20owner%20of%20popular,recent%20figure%20of%20%2472%20billion.

Gartenberg, Chaim. 27 Februari 2020. "LinkedIn is testing Snapchat-like stories because that’s the world we live in now" - The Verge https://www.theverge.com/2020/2/27/21156247/linkedin-testing-instagram-stories-feature-social-network-resumes-why

Lee, Dami. 2 Agustus 2018. "The popular Musical.ly app has been rebranded as TikTok" - The Verge https://www.theverge.com/2018/8/2/17644260/musically-rebrand-tiktok-bytedance-douyin

Mohsin, Maryam. 19 Februari 2020. “10 TikTok Statistic That You Need to Know in 2020 [Infographic]” - Oberlo https://www.oberlo.com/blog/tiktokstatistics#8_Nine_Out_of_Ten_TikTok_Users_Use_the_App_Multiple_Times_Daily

Tentang TikTok
https://www.tiktok.com/about?lang=id