Tren Kamera Analog di Era Serba Digital

Rahayu, Fila Kamilah, 24 August 2020

Kamera jenis analog tengah menjadi tren saat ini. Sejak beberapa tahun ke belakang, hashtag #35mm atau #indo35mm banyak ditemukan di media sosial, khususnya Instagram. Penggunaan hashtag ini mengacu kepada ukuran film yang digunakan. Salah satu pengguna kamera analog yang juga berprofesi sebagai fotografer, Andry Dilindra, berbagi pengalamannya dalam menggunakan analog. Andry sendiri mulai menggunakan kamera analog sejak tahun 1999, alasannya, saat itu belum ada kamera digital di pasaran.

Tidak bisa dipungkiri, kamera analog memiliki treatment khusus dan membutuhkan kesabaran dalam penggunaannya. Tidak jarang ditemukan masalah dalam penggunaannya, seperti rol film yang terbakar atau kesulitan dalam mengoperasikannya. Untuk mengatasi hal tersebut, menurut Andry, pengguna perlu mempelajari dasar-dasar fotografi. “Belajar basic photography dulu, memahami konsep memotret yang benar, cari tau cara memasang rol film yang baik, memahami karakter film, belajar rumus segitiga exposure dan rumus sunny 16, serta cara menggunakan light meter,” ujarnya.

Tren kamera analog juga digandrungi oleh para mahasiswa. Salah satunya penghobinya adalah Fira Mariah, mahasiswi jurusan Geofisika FMIPA UI angkatan 2017. Menariknya, saat ini telah ada komunitas analog di departemen Fira. “Pertama kali pake analog dari (tahun -red) 2018, awalnya gara-gara ada satu temen, dia main analog kan, terus kaya seru gitu ngeliatnya. Terus dia ngeracunin gitu lah ceritanya, (akhirnya kita-red) main, kita hunting. Terus tergiur. Kebetulan kan juga emang suka banget gitu main kamera, dulu digital sih. Terus beralih ke analog karena seru aja, kaya vintage gitu dan ada tone color yang ga bisa kita dapet kalo main di digital. Bisa (pakai tone color tersebut -red), tapi kan butuh editan gitu ya,” katanya.

Mengenai cara yang dilakukan agar mendapatkan hasil foto yang bagus, Fira mengaku tidak ada cara khusus yang ia lakukan. “Ga ada tips dan trik sih kalo gue, yang penting yakin. Cuma kalo mainnya pake rangefinder harus ngeliatin light meter gitu-gitu buat ngatur cahayanya biar hasilnya ga gelap.”

Semakin banyaknya pengguna kamera analog juga menyebabkan penyedia jasa develop and scan, atau proses mencuci rol film hingga menjadi gambar, pun bermunculan. Salah satu penyedia jasa develop and scan adalah Hungry For Film. Awalnya, Hungry For Film hanya beroperasi secara daring pada tahun 2018 sebelum vakum selama satu tahun dan akhirnya membuka lab dan store fisik di Kelapa Gading pada tahun 2019.

Chef, atau pemilik dari Hungry For Film, mengatakan, “Awalnya tidak ada rencana untuk membuka jasa develop and scan, saya sendiri pernah menjadi seorang pelanggan dari lab lain. Tapi karena beberapa kali saya merasa mendapat pelayanan kurang baik dari lab-lab tersebut, akhirnya saya termotivasi untuk membuka lab dengan aturan yang lebih customer friendly. Selain itu banyak juga pelanggan setia HFF (Hungry For Film -red) yang mengharapkan HFF untuk segera membuka jasa develop and scan. Dorongan ini menjadi motivasi tambahan untuk membuka jasa develop and scan.”

Hungry For Film masih menyediakan jasa develop and scan di tengah maraknya berbagai jenis kamera digital yang lebih canggih. Hal ini disebabkan oleh banyaknya anak muda yang penasaran menggunakan kamera analog. Rasa penasaran para anak muda inilah yang membuat Hungry For Film berkembang pesat hingga saat ini.

Walaupun begitu, jasa develop and scan memang agak sulit ditemukan. “Jasa develop and scan merupakan bisnis zaman lama. Banyak orang pasti berpikir, ‘kenapa mau menghidupkan kembali bisnis yang sudah mati?'. Tapi kenyataannya, dunia analog photography hanya mati suri. Semakin hari, semakin banyak pengguna baru dan demand semakin tinggi,” ujarnya.

Bagaimana, apakah kamu juga tertarik untuk mencoba kamera analog?