Tuhan Tidak Perlu Dibela: Manifestasi Pemikiran Gus Dur dalam Merefleksikan Islam

Dian Insan, 02 October 2020

Judul: Tuhan Tidak Perlu Dibela
Pengarang: Abdurrahman wahid
Genre: Non-fiksi
Tebal: 44 + 312 halaman
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Tahun terbit: 1999

 “Tuhan tidak perlu dibela, walaupun tidak juga menolak untuk dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.”

Boleh jadi pandangan dan penafsiran mengenai Tuhan seringkali didikotomikan sehingga menjadi persoalan dalam kehidupan umat beragama. Kekerasan pun tak jarang menjadi citra yang sering dikaitkan dengan agama, apalagi jika sudah merambah urusan politik kekuasaan. Tidak cukup mengherankan, urusan politik dengan membawa nama Tuhan dapat menjadi kepentingan terselubung yang diperjualbelikan. Tuhan tidak perlu dibela, begitulah narasi argumentatif yang ditulis oleh Abdurrahman wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur.

Membaca Tuhan Tidak Perlu Dibela semacam menjadi jendela bagi para pembaca. Ruang untuk mengenal sisi lain dari sosok Gus Dur. Tulisan-tulisan yang terkumpul dalam buku ini diambil dari kolom-kolom Gus Dur di majalah Tempo sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an. Buku ini membahas persoalan yang bersinggungan dengan kehidupan umat beragama, terutama umat Islam. Persoalan tersebut menyangkut fenomena kebudayaan, kenegaraan, dan konsep keislaman itu sendiri. Buku ini terbagi menjadi tiga bagian: bagian pertama, berisikan 27 tulisan bertema “Refleksi Kritis Pemikiran Islam”; bagian kedua bertema “Intensitas Kebangsaan dan Kebudayaan”; serta bagian ketiga bertema “Demokrasi, Ideologi, dan Politik”. Dari beberapa tulisannya, Gus Dur memvisualisasikan paradoks seputar pemikiran Islam dan juga isu sosial politik lainnya terutama di Indonesia.

Gagasan dalam tulisan Gus Dur masih cukup relevan untuk dibaca dan dipahami hingga saat ini. Dalam Tuhan Tidak Perlu Dibela, wilayah yang disengketakan sebenarnya sangat umum ditemui pada masa sekarang, yakni wawasan ideal kaum muslimin dan tuntunan modernisasi. Sengketa tersebut diceritakannya lewat diksi “ekspresi kemarahan” seorang muslim yang tercermin dalam majalah, pidato, ataupun khotbah Jumat. Menurutnya, kemarahan tadi tidak perlu diselesaikan dengan tindakan represif, melainkan cukup mendudukkan persoalan secara dewasa dan membangun saja. Dalam tulisan lain, “Moralitas: Keutuhan & Keterlibatan”, Gus Dur menyinggung jika umat muslim senantiasa mementingkan ritus agama dan bersikap masa bodoh terhadap penegakan HAM. Hal inilah yang membuat tertundanya proses perataan kemakmuran. Dalam hemat kata, tulisan Gus Dur adalah refleksi atas permasalahan umum umat Islam di dunia dan Indonesia. Tulisannya ini juga didukung argumen kritis sehingga pembaca dapat memvisualisasikan permasalahan yang ada.

Mengikuti jalan pikiran Gus Dur, pembaca dapat merefleksikan pemikiran Islam dalam berbagai konteks dengan lebih luas dan “segar”. Pembaca rasanya akan mendapatkan pandangan yang lebih konstruktif dalam menilai Islam. Beberapa tulisan juga secara emosional dapat memberikan kesan untuk lebih menghargai kemanusiaan karena agama tidak pernah mengajarkan kekerasan. Selain itu, pembaca juga akan banyak mendapat kesempatan menemukan sepenggal kalimat yang menakjubkan (mind-blowing), seperti kesadaran beragama dapat mengambil bermacam bentuk, tidak selalu harus bersifat syariat. Berdasar teknik penulisan, banyak gagasan yang menggunakan perumpamaan dan kadang disuguhi juga dengan anekdot. Meskipun setiap tulisan dijelaskan dalam bahasan ringkas, gagasan tersebut tetap menyentuh inti permasalahan yang ada.

Secara keseluruhan, dengan sangat beragamnya bahasan dalam buku ini, Tuhan Tidak Perlu Dibela adalah karya yang layak dibaca. Berangkat dari pengalaman Gus Dur nyantri di negeri orang, manifestasi pemikirannya mengenai Islam sangat beragam dan menarik untuk dibaca. Kemungkinan memahami satu tulisan ke tulisan lain cukup menantang karena diksi yang dipilih cukup ruwet. Alias membaca buku ini ada gampang-gampang susahnya juga. Terlepas dari bahasan yang tergolong “berat”, buku ini pantas berada dalam lemari rak buku Anda karena setiap gagasan dalam buku ini mampu memperlebar ruang toleransi, nilai demokrasi, dan pluralisme sebagai umat beragama di Indonesia.

 

Teks: Dian Insan
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas!