UI Resmikan PLTS Terapung Bifacial Pertama di Indonesia

M. Sbastian Rai, 15 March 2020

Universitas Indonesia kembali menoreh pencapaian terbaru dalam pengembangan teknologi energi terbarukan. Pasalnya, pada Selasa (25/2), Tropical Renewable Energy Centre (TREC) UI meresmikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Terapung Bifacial sehingga menjadikannya PLTS Terapung Bifacial pertama di Indonesia. Proyek ini merupakan bentuk kerja sama TREC dengan penyedia layanan pembangkit listrik tenaga surya PT Sky Energi Indonesia dan PT Quint Solar Indonesia. PLTS ini membentang di atas Danau Mahoni dengan luas sekitar 130 meter persegi.

PLTS Terapung Bifacial memiliki dua sisi untuk menyerap energi. Sisi pertama berupa panel surya untuk menyerap sinar matahari, sementara panel di baliknya digunakan untuk menyerap pantulan sinar matahari tersebut. Oleh karenanya, pembangkit ini dapat menerima lebih banyak energi.

TREC UI melalui direktur research-nya, Eko Adhi Setiawan, mengungkapkan bahwa pembangunan pembangkit ini sebagai manifestasi fungsi TREC itu sendiri. “Kami dari TREC memang punya fungsi, fungsinya adalah bagaimana mempunyai kedekatan hubungan kerja sama kolaborasi dengan semua elemen, baik itu sesama perguruan tinggi, industri, masyarakat, atau nongovernmental organization (NGO),” jelasnya.

PLTS Terapung Bifacial ini diklaim oleh Eko mampu menekan biaya atau modal awal karena tidak memerlukan bidang tanah ataupun bangunan. Ia mengakui floater, bagian untuk menahan panel surya agar terjaga di permukaan air, merupakan komponen yang mahal karena masih belum dikembangkan di Indonesia. Namun, jika pengerjaan proyek pembangkit serupa diperbanyak, biaya untuk floater ke depannya akan dapat ditekan.

Pembangunan PLTS ini dimulai pada 13 Januari 2020 dan membutuhkan dua minggu pengerjaan. Walaupun baru, pembangkit ini memiliki kapasitas 10.000 watt dan dapat menghasilkan rata-rata 28 kWh dalam satu hari saat kondisi cerah. Energi yang dihasilkan pembangkit ini sudah dialirkan untuk penggunaan listrik di kantin dan musholla.

Selain itu, pemantauan pembangkit ini dapat dilakukan melalui browser dan aplikasi Sunny Portal. Aplikasi tersebut menampilkan berbagai data, mulai dari jumlah daya, status PLTS, jumlah energi, hingga keadaan cuaca.

Proses pengerjaan proyek ini melibatkan peran aktif dari mahasiswa. Semua mahasiswa Fakultas Teknik boleh ikut terlibat pengerjaan proyek-proyek TREC. TREC sendiri mewadahi partisipasi tersebut dengan membentuk JuniorResearch Programme.

Selain itu, pembangunan PLTS Terapung Bifacial ini juga diharapkan meningkatkan gairah pengembangan teknologi untuk membangun daerah-daerah di Indonesia, “Ujung daripada teknologi adalah bagaimana masyarakat bisa menjadi lebih sejahtera, bukan sekadar dipaksakan atau diterapkan tetapi tidak membawa kesejahteraan,” ucapnya. Eko juga menyadari akan ada banyak pertanyaan tentang dampak pembangkit ini terhadap ekosistem danau. Menurutnya, belum ada riset tentang hal itu, yang kemudian diharapkan menjadi bahan riset mereka kedepan.

Ikhsan Hernanda, seorang asisten riset TREC yang juga membantu dalam pembangunan proyek ini, juga berharap pengembangan energi terbarukan ini memberi lebih banyak manfaat. “Harapannya kalau bisa banyak menghasilkan proposal, jurnal-jurnal, dan menjadi contoh untuk baik instansi, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat, bahwa panel surya ini dapat diterapkan di mana saja, tidak hanya di darat,” tutupnya.

 

Teks: M. Sbastian Rai
Kontributor: Zuhairah Syarag
Foto: Istimewa
Editor: M.I. Fadhil

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas!