AEC 2015: Mampukah Kesehatan Indonesia Bersaing?

Thursday, 06 November 14 | 05:01 WIB

Oleh Ayu Khoirotul Umaroh*

Dunia kesehatan selalu menjadi topik yang asyik dibicarakan. Mulai dari perkembangan teori, praktek, alat-alat medis, dan juga sumber daya manusia. Tidak terbatas pada pembahasan hal-hal tersebut, namun juga akan melebar ke  peraturan-peraturan dalam pelaksanaan kegiatan bidang kesehatan. Tingkat kesehatan penduduk menjadi salah satu penilaian dunia untuk sebuah negara yang sejahtera. Negara berkembang memiliki tantangan yang lebih kompleks untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam bidang kesehatan. Tidak dapat dipungkiri, hal ini disebabkan karena negara berkembang masih dalam proses perbaikan sistem maupun manajerial kenegaraan.

Sebagai contoh adalah sepuluh negara di Asia Tenggara yang menamai organisasinya sebagai ASEAN (Association of South East Asian Nation). Katakanlah Indonesia, derajat kesehatan yang dimiliki masih dalam proses mencapai target nasional. Padahal tahun 2015 menjadi tahun final untuk mencapai kesejahteraan bidang kesehatan. Namun dalam kenyataannya, proses yang dilakukan masih sangat jauh dari harapan. Hal yang sama pun barangkali terjadi pada negara-negara ASEAN lainnya, kecuali Malaysia dan Singapura yang telah memiliki sistem kenegaraan lebih baik daripada negara ASEAN lainnya.

Organisasi ASEAN menjadi tempat di mana masing-masing negara di Asia Tenggara bertukar informasi dan menguatkan perkembangan negaranya. Selain itu, ASEAN juga memiliki beberapa bertujuan. Seperti, mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, serta pengembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara, meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional, meningkatkan kerjasama yang aktif serta saling membantu satu sama lain dalam masalah ekonomi-sosial-budaya-teknik-ilmu pengetahuan-administrasi, saling memberi bantuan dalam bentuk sarana dan prasarana latihan dan penelitian dalam bidang-bidang pendidikan, profesional, teknik, dan administrasi, bekerja sama dengan lebih efektif dalam meningkatkan penggunaan pertanian serta industri, perluasan perdagangan komoditi internasional, perbaikan sarana pengangkutan dan komunikasi serta peningkatan taraf hidup rakyat, meningkatkan studi-studi tentang Asia Tenggara, dan memelihara kerjasama yang erat dan berguna bagi organisasi-organisasi internasional dan regional yang ada dan bertujuan serupa.

Dalam rangka mewujudkan keberlangsungan tujuan-tujuan mulia tersebut, maka negara yang terkumpul dalam ASEAN (Indonesia, Brunei Darussalam, Thailand, Malaysia, Singapura, Myanmar, Filipina, Kamboja, Vietnam, dan Laos) selalu mengagendakan untuk melaksanakan deklarasi setiap tahunnya. Hal ini bertujuan untuk memonitoring perkembangan negara yang tergabung. Pada tahun 2015, akan diresmikan salah satu hajat terbesar negara-negara ASEAN yakni AEC (ASEAN Economic Community).

AEC ini bermula dari KTT ASEAN ke-12 pada bulan Januari 2007, para pemimpin menegaskan komitmen mereka yang kuat untuk mempercepat pembentukan ASEAN Community pada tahun 2015 yang diusulkan di ASEAN Visi 2020 dan ASEAN Concord II, dan menandatangani Deklarasi Cebu tentang Percepatan Pembentukan ASEAN Community pada tahun 2015. Secara khusus, para pemimpin sepakat untuk mempercepat pembentukan ASEAN Economic Community pada tahun 2015 dan mengubah ASEAN menjadi daerah dengan pergerakan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas.  Salah satu kegiatan yang sesuai dengan tujuan ASEAN dalam meningkatkan kerjasama yang aktif dalam berbagai bidang dan memberi bantuan dalam sarana prasarana di bidang pendidikan adalah program AEC 2015 yaitu Asean Free Trade Area (AFTA).

Pada tahun 2015 mendatang ASEAN akan mempercepat perdagangan di bidang jasa dan ini fokus pada peningkatan tenaga terampil. Artinya yang bagi kita berada pada bidang jasa khususnya kesehatan, harus mampu melihat peluang tersebut. Untuk meningkatkan tenaga kesehatan yang terampil itulah, seperti dikatakan Hargianti dalam kuliah umum bertajuk Peran Tenaga Kesehatan dalam AEC 2015, setidaknya ASEAN saat ini telah membuka kesempatan untuk membangun dan melatih para tenaga medis khususnya dokter di kawasan ASEAN, mempromosikan praktik kedokteran sesuai standar dan kualifikasi, memfasilitasi mobilitas para dokter dan pertukaran informasi.

Kegiatan yang akan berlangsung pada tahun 2015 ini menjadi perhatian massa. Hal ini dikarenakan banyak sekali tantangan dahsyat yang akan menimpa setiap warga negara di wilayah ASEAN. Meskipun maksud awal dari pembentukan AEC ini adalah untuk mengoptimalkan kerjasama, namun ketika masyarakat dalam suatu negara tidak memiliki kesiapan yang baik, maka monopoli oleh negara yang siap dan kuat mungkin saja akan terjadi.

Indonesia merupakan salah satu anggota ASEAN yang harus melaksanakan akselerasi diri dalam hal perkembangan ilmu kesehatan. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut. Pertama, ketersediaan sumber daya manusia bidang kesehatan yang baik dan berkualitas belum memenuhi kebutuhan. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih banyaknya masyarakat yang mengaku dirinya sebagai professional kesehatan di berbagai daerah padahal belum tersertifikasi, sehingga menjadi sebuah keraguan dalam menerima pelayanan daripadanya.

Selain itu juga, keterampilan tenaga professional kesehatan yang belum mampu secakap dan seikhlas tenaga medis luar negeri dalam pelayanan. Tak lupa dengan hal yang terpenting adalah kemampuan berbahasa internasional (bahasa Inggris) serta pemahaman isu-isu terhangat di dunia kesehatan masih rendah.

Pemikiran yang sempit juga masih terlihat pada mayoritas penduduk Indonesia. Mampukah Anda membayangkan, apabila mindset masyarakat Indonesia masih semacam itu, maka seberapa kuat negeri ini mampu bersaing. Sedangkan penetapan AEC tentunya akan menimbulkan persaingan ketat tenaga kerja dalam hal mendapat pekerjaan. Apabila tenaga kerja Indonesia tidak mempunyai kualifikasi keahlian yang dibutuhkan oleh perusahaan pencari kerja, maka dapat dipastikan perusahaan akan mengganti orang tersebut dengan tenaga kerja yang lebih ahli. Tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan tersebut juga akan menerima tenaga kerja asing yang rela dibayar dengan gaji cukup murah dan mempunyai keahlian yang lebih bagus. Hal ini dapat berakibat pada meningkatnya angka pengangguran dan munculnya sejumlah masalah dalam bidang sosial dan ekonomi.

Kedua, ketersediaan alat-alat kesehatan yang berstandar internasional belum semuanya terpenuhi. Sehingga, kemungkinan barang-barang atau alat-alat kesehatan dari luar negeri akan lebih mudah dikonsumsi oleh pelayanan kesehatan di negeri ini. Bahkan bisa jadi semuanya akan digantungkan pada buatan luar negeri.  Lalu kapan, anak-anak bangsa akan diberikan kepercayaan untuk memproduksi barang atau alat kesehatan berkualitas kalau pada akhirnya ada produk lain yang sudah bisa digantungkan. Selain itu juga, pembiayaan yang harus ditanggung ketika transaksi dengan negara ASEAN lainnya akan mengalami penurunan harga dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.

Ketiga, masih sulitnya akses dan pelaksanaan pelayaan kesehatan yang masih terkait dengan isu politik. Isu politik masih mendominasi negeri ini. Betapa tidak? “siapa yang kuat, maka dialah yang menang” begitu juga politik. Sampai beberapa waktu lalu sempat terbit buku berjudul “Orang Miskin Dilarang Sakit”. Hal ini menunjukan bahwa mahalnya biaya kesehatan di Indonesia dipengaruhi oleh aspek politik yang berazaskan keuntungan individu atau kelompok bukan rakyat. Meskipun telah muncul program BPJS, namun pelaksanaannya juga dimulai baru awal tahun 2014. Sehingga progres kesehatan belum terlihat signifikan.

Masih Ada Waktu untuk Persiapan 

Meskipun hanya sekitar 3 bulan menjelang tahun 2015, masyarakat masih dapat mempersipkan diri untuk bersaing di kancah AEC sebelum penduduk negeri lain bertamu di Indonesia. Peluang yang dapat dimanfatkan oleh tenaga kesehatan terlatih atau barang-barang adalah dapat keluar masuk luar negeri yang tergabung di ASEAN dengan beberapa hal yang dapat dipersiapkan.

Yang perlu di persiapkan pemerintah antara lain, memberikan banyak pelatihan yang berkesinambungan dan berkualitas (bahkan perlu disertifikasi pelatihan tersebut) untuk pengembangan kemampuan tenaga kesehatan Indonesia, menjalin hubungan yang bagus terhadap instansi negeri maupun swasta yang berpotensial menjadi investor di bidang kesehatan, membuat peraturan yang lebih ketat lagi untuk instansi atau institusi yang bergerak di bidang kesehatan dalam menerima tenaga kerja baru atau mahasiswa baru, membuat peraturan tegas tentang berlangsungnya AFTA bidang jasa kesehatan di tempat kerja (puskesmas, rumah sakit, klinik, dll).

Dalam hal ini akademisi terkhusus mahasiswa juga perlu menyiapkan beberapa hal yaitu, membantu pemerintah dalam mensosialisasikan program AFTA 2015 dan AEC 2015 kepada masyarakat agar mereka paham sebelum diberlakukannya program ini, mempersiapkan diri sebaik mungkin sebagai mahasiswa agar mampu bersaing dengan orang asing ketika telah lulus nanti (terkhusus untuk berkomunikasi dan presentasi dalam Bahasa Inggris), perbaikan budi pekerti individu, karena budi pekerti adalah modal utama dalam mendapatkan kepercayaan dalam bekerja apalagi di bidang kesehatan.

Terakhir yang perlu disiapkan oleh masyarakat umum adalah, mereka diharapkan lebih aktif dalam pengembangan kesehatan berbasis wirausaha (seperti nurseprenuership)., turut andil dalam pengawalan program AEC 2015, ACEC 2015, arus memulai membangun relasi dengan banyak pihak.

Semua yang telah terjabarkan di atas harus dihadapi di tahun 2015, sehingga mau tidak mau, bisa tidak bisa, masyarakat Indonesia harus familiar dan paham bagaimana cara untuk mengahdapi AEC 2015 (bidang kesehatan). Dengan lihai dan jeli melihat peluang yang akan didapatkan, maka masyarakat dapat memanfaatkan hal tersebut sebagai motivasi persiapan bersaing di AFTA.

*Manajer Umum Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta

Komentar



Berita Terkait

Pemerintah Rencanakan Susun Kamus Bahasa Isyarat Terbaru
MEA 2015: Ajang Kompetisi Kualitas Tenaga Kerja
Persepsi Keliru Soal MEA 2015
Standardisasi Tenaga Kerja Terampil Indonesia Menuju AEC 2015