Aksesibilitas Sulit, Tim Relawan Asmat BEM Se-UI Ubah Tujuan Distrik

Monday, 26 February 18 | 09:29 WIB

Beberapa hari yang lalu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-UI memberangkatkan tim ke Kabupaten Asmat, Papua, sebagai aksi nyata dalam melakukan Gerakan Asmat Bebas Gizi Buruk (Gabruk). Terdapat dua tim yang dikirim ke Asmat yaitu tim pertama yang berangkat pada Senin (12/2/2018) dan tim kedua yang menyusul tiga hari kemudian pada Kamis (15/2/2018).

Bersama lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT), keempat mahasiswa yang tergabung dalam tim pertama tidak pergi ke distrik yang sesuai dengan rencana awal, yaitu distrik Siret melainkan ke distrik Akat dan Agats, Kabupaten Asmat, Papua dikarenakan aksesbilitas yang sulit. Akses untuk ke distrik Siret harus menempuh perjalanan 3 jam dengan menggunakan speed boat.

​Selanjutnya untuk tim pertama yang berangkat ke Asmat, yaitu Idmand Perdina selaku Wakil Ketua BEM UI, Diana selaku Pemimpin Umum Suara Mahasiswa UI, Muhammad Faizal Haq selaku Ketua BEM Vokasi dan Aulia Fitriani selaku Wakadep Eksternal Sosmas BEM Vokasi.

Sedangkan, tim kedua bekerja sama dengan UI Peduli yang terdiri dari civitas akademika se-UI baik dari pihak birokrat kampus, dosen, maupun mahasiswa UI yaitu Made Desna dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Ade Putra dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Camar dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB), dan Ibadurrahman dari Fakultas Teknik (FT). Berbeda dengan tim pertama, tim kedua pergi ke Distrik Fayit, Kabupaten Asmat, Papua.

Kemudian Idmand Perdina mengatakan bahwa sebenarnya BEM Se-UI sempat menghubungi beberapa LSM untuk diajak kerja sama dalam gerakan ini. Namun, pilihan mereka akhirnya jatuh kepada ACT karena beberapa pertimbangan seperti lembaga tersebut yang sudah beberapa kali turun lapangan serta lokasinya di Jakarta sehingga memudahkan koordinasi.

​Selain ACT dan UI Peduli, BEM Se-UI juga bekerja sama dengan kitabisa.com untuk menghimpun donasi dari masyarakat.
​“Kita kan rekanannya sama kitabisa, nah ternyata kitabisa ini juga sudah banyak kerjasama dengan ACT. Jadi circle-nya enak, segitiganya tuh enak, segitiga koordinasinya. Itu faktor yang menentukan juga,” tutur Idmand Perdina.

​Hingga hari terakhir penggalangan dana, tim BEM Se-UI berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp241.279.269 dari target Rp50.000.000. Dana tersebut dialokasikan untuk bantuan pangan, sedangkan yang Rp20.000.000 diberikan kepada tim UI Peduli.

​Sebagai salah satu bentuk bantuan jangka panjang, tim relawan dari BEM UI telah membekali trauma healing kepada anak-anak di Asmat yang lebih mengarah kepada kondisi psikologis mereka.


​“Nah yang tadi itu trauma healing jadi kayak aku mengasih energi positif gitu kan ke mereka. Kalau dari pengalaman aku selama ini di sosmasling, sering tuh kayak anak-anak yang pertama kali dibutuhin itu semangat karena masih polos gitu dan menurut aku itu jangka panjangnya yang bisa,” ucap Aulia Fitriani.

​Idmand Perdina menambahkan bahwa yang lebih banyak memiliki rencana jangka panjang yaitu dari ACT dan UI Peduli. “Nah itu alasan kita mau kerjasama sama mereka,” jelas Idmand.

​Berbeda tanggapan dengan Aulia Fitriani dan Idmand Perdina, Muhammad Faizal Haq melihat bahwa jangka panjang yang lebih konkret dari gerakan ini akan dibicarakan lagi nanti. “Kalau dari gue pribadi jangka panjangnya sih bakal kita omongin lagi dan gak bisa dirundingin saat ini juga, jadi lihat kondisi dan kita pasti balik ada rapat karena menurut gue isu ini bakal menjadi salah satu isu jangka panjang sosmasling,” tuturnya.

​Selain itu, setelah melihat langsung keadaan serta medan di Asmat, tim BEM Se-UI memiliki kesan yang berbeda. Seperti Muhammad Faizal Haq yang biasa dipanggil Monox melihat fakta bahwa anak-anak di sana benar-benar kekurangan gizi serta terkena campak dan malaria.

​Senada dengan Monox, Idmand Perdina menambahkan bahwa kebutuhan utama yang diperlukan masyarakat Asmat adalah edukasi tentang bagaimana cara hidup sehat serta masalah utamanya ada pada air bersih.

“Bagaimana merancang ketersediaan air bersih agar mencukupi itu (merupakan -red) tantangan tersendiri karena kan di sini serba keterbatasan kalau mau pakai teknologi yang tinggi, listriknya terbatas, nanti belum maintenance-nya, terus apakah SDM mampu untuk mengelola teknologi tersebut, mengoperasikan, merawat, membersihkan. Terus kalau mau nyuling air, airnya kan air payau terus mau gali sumur gak bisa, jadi gak ada di air bersih kalau dari air hujan aja ga cukup,” jelas Idmand.

Tidak hanya itu, selama mereka turun langsung ke lapangan, terdapat kesan yang dirasakan. “Paling berkesan yaitu motor listrik karena ya hebat gitu satu pusat kota ini semuanya bisa menerapkan pakai motor listrik,” kesan Idmand Perdina

Melihat keadaan Asmat, Aulia Fitriani memberikan pesan untuk tidak memandang Asmat dengan sebelah mata. “Pesannya jangan memandang Asmat sebelah mata karena Asmat gak seburuk yang kalian bayangkan itu. Terus ya kalau misalkan mau ngasih bantuan ke sini, dari sudut pandang aku menyarankan lebih baik melakukan pendekatan dulu ke mereka, jangan langsung kasih sesuatu yang bener-bener mereka gak tau apa dan tiba-tiba kalian ngajarin dengan cara kalian,” tuntasnya.

 

 

Teks: Ramadhana Afida Rachman

Foto: Diana

Editor: Halimah Ratna Rusyidah

Komentar



Berita Terkait