Aksi Diam Membela Korban Yang Dibungkam

Tuesday, 11 February 20 | 03:36 WIB

Menjelang International Women’s Day, atau Hari Perempuan Internasional, yang akan dilaksanakan
pada tanggal 8 Maret 2020 nanti, sekelompok perempuan yang mengatasnamakan diri sebagai
Aliansi Gerak Perempuan, melakukan aksi diam di depan Gedung Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud) pada Senin (10/2).

Tampak berbagai atribut berupa poster yang mewakili suara hati mereka. Panas terik tak
menggurangi tekad mereka untuk menyuarakan berbagai tuntutan keadilan mengenai tindakan
pelecehan seksual yang kian masif terjadi terhadap perempuan, terlebih di ranah institusi
pendidikan.

Salah satu contoh kasus pelecehan seksual di institusi pendidikan menimpa Bunga, mahasiswi
Universitas Negeri Padang di awal tahun 2020, yang mana ketika Bunga melaporkan kasusnya ke
kepolisian, pihak kampus malah meminta agar Bunga mencabut laporan dan mengancam akan men-
drop-out dirinya.

Melihat makin banyaknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus dan
ketidakberpihakan pihak berwenang pada korban, Aliansi Gerak Perempuan memberikan tuntutan
pada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, yaitu:

1. Menggunakan wewenang Kemendikbud untuk memecat dosen pelaku kekerasan seksual
2. Merumuskan dan menetapkan aturan bagi kampus di Indonesia untuk memiliki sistem
pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang komprehensif dan berpihak pada
korban
3. Mendirikan lembaga independen yang khusus menindak kasus kekerasan seksual di kampus-
kampus.

Seiring banyaknya kasus-kasus terkait, hal tersebut memantik orang-orang untuk lebih lebih gencar
dan sadar akan pentingnya bertindak tegas dan menyuarakan keadilan dalam penanganan kasus
pelecehan seksual. Salah satunya caranya melalui aksi yang digelar di depan gedung Kemendikbud
tersebut.

“Alasan dari aksi diam ini adalah, korban sudah melapor tapi disuruh diam dan dibungkam, itu
makanya pasti banyak korban yang disuruh diam dan mereka diam,” ucap Lara, salah satu peserta
aksi.

Lara tergerak untuk mengikuti aksi ini atas panggilan hati. Ia mengajak setiap elemen untuk bergerak
dengan berbagai cara demi terciptanya keadilan dan rasa aman untuk para perempuan. “Aku perempuan dan itu bisa terjadi ke aku, aku agak sedikit emosional kalau ngomong kayak gini,
karena ketika itu terjadi sama aku, dan aku diam tidak ada yang menyuarakan itu sendiri, itu ya sedih
kan, apalagi adik aku, saudara aku digituin terus aku bisa apa kalau ga kita bantu seperti ini, kita
support kayak gini,” pungkas Lara.

 

 

Teks: Rifki Eko Wahyudi
Foto: Rifki Eko Wahyudi
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait