Aktivis Semar UI Paparkan Tiga Gelombang Feminisme

Saturday, 23 April 16 | 07:22 WIB

Feminisme bukanlah paham yang baru dibicarakan masyarakat. Bergulir pada 1837, kemudian eksis pada kisaran 1990-an, feminisme sampai sekarang menjadi bahan diskusi berbagai kalangan. Perjalanan panjang itu pun turut mengembangkan perspektif feminisme.

(Baca: Feminisme Masuk Dunia Pesantren)

Dalam diskusi “Emansipasi Wanita Menghadapi Budaya Modern” pada Selasa (19/4) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI, Perdana Putri, yang aktif di Serikat Mahasiswa Progresif (Semar) UI, memaparkan terdapat tiga gelombang feminisme.

Gelombang pertama, yakni saat perempuan mulai meminta hak-hak dasar mereka dalam mengakses ekonomi, berpartisipasi dalam politik, mendapat hak reproduksi, dan mendapat kesempatan kerja

Gelombang kedua mencuat pasca-Perang Dunia II. Pada masa itu, jumlah laki-laki sedikit sehingga perempuan ditarik secara paksa ke ranah publik .

Namun menurutnya, “Di sinilah keuntungan bagi perempuan karena mereka dapat bekerja. Pada masa itu pula mulai muncul isu pemerkosaan dan kekerasan terhadap perempuan.”

Sementara, gelombang ketiga terjadi saat media mulai berperan besar. “Media membuat kecenderungan baru yang menjadikan perempuan ditindas,” ujar Perdana Putri.

“Penindasan ini (dilakukan—red) melalui pornografi yang membuat perempuan terkesan tidak berdaya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Perdana Putri memaparkan konsep umum feminisme. Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas Cangkir Putih itu, Perdana Putri menjelaskan bahwa perempuan menjadi pokok pembicaraan. “Selama ini derajat perempuan dianggap lebih rendah dibanding laki-laki,” tuturnya.

“Dalam pandangan feminisme, perempuan perlu disetarakan karena merupakan sentral. Mereka memiliki rahim yang dapat melahirkan pekerja, namun, mereka memiliki akses terbatas,” tambahnya.

Teks dan foto: Kumara Anggita

Editor: Nurhikmah Octaviani

 

Komentar



Berita Terkait