Akulturasi Budaya di Pusat Kota Batavia Lama

Monday, 25 February 19 | 03:29 WIB

Sabtu lalu, Bank Indonesia atau akrab disapa BI mengadakan sebuah seminar yang berlokasi di Museum Bank Indonesia di Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Pusat. Seminar itu bertema, “Akulturasi Budaya dalam Bingkai Old Town Batavia”.

Acara ini diawali dengan pementasan seni dari Popo Cici Jakarta, sebuah etnis Tiongkok yang sudah lama tinggal dan menghasilkan budaya di Jakarta. Kemudian, dilanjutkan dengan pementasan seni dari komunitas lain, Keroncong Tugu yang personilnya merupakan Betawi asli. Keroncong Tugu menampilkan beberapa lagu yang pernah menjadi idola kawula muda di masanya. Beberapa lagu tersebut antara lain Geef Mij Maar Nasi Goreng dan Soerabaja.

Sedangkan waktu ishoma pada pukul tiga sore dimanfaatkan untuk menikmati kudapan-kudapan yang disediakan oleh pihak panitia yakni makanan dan minuman asli Betawi yang bisa diambil secara cuma-cuma.

Kemudian, acara inti yakni diskusi diantara para pakar kota Batavia yang dimoderatori oleh Junanto Herdiawan selaku Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia dan narasumbernya Mona Lohanda selaku Ahli Arsip Batavia, Nadia Purwestri selaku Direktur Pusat Dokumentasi Arsitektur, dan Candrian Attahiyat selaku Arkeolog dan Tim Ahli Cagar Budaya Nasional.

Adapun salah satu narasumber yaitu Candriyan memaparkan bahwa ternyata daerah Glodok dinamakan demikian karena suatu alasan yang unik, berasal dari suara pancuran air yang dahulu berada disana dan bersuara “glodok-glodok”.

Dilanjut dengan pemaparan dari Mona Lohanda yang lebih menyoroti permasalahan asal-usul suku Betawi dan aneka pajak yang pernah diterapkan di sana. Suku Betawi sendiri berasal dari campuran berbagai etnis, mulai dari Belanda, Portugis, Tionghoa, Arab, Jawa, hingga Sunda. Adapun budak-budak di Batavia berasal dari daerah Indonesia timur seperti Bali, Flores, dan Manggarai.

Pajak yang merupakan sumber terbesar dari pemasukan kota tersebut diterapkan di berbagai bidang, dari yang umum sampai yang rada “nyeleneh”. Pajak yang masih bisa ditoleransi antara lain pajak dagang, konsumsi, hiburan, dan tanah. Pajak konsumsi diterapkan pada tembakau, minuman keras, dan lilin sementara pajak hiburan diterapkan pada pertunjukkan wayang, judi, dan sabung ayam. Diluar itu, pajak “nyeleneh” yang diterapkan seperti pajak kepang rambut pada orang Tiongkok.

Terakhir, Nadia Purwestri menguraikan mengenai sejarah di bidang arsitektur., terutama paduan desain yang terdapat pada gedung Museum BI (Bank Indonesia). Salah satunya desain kacanya yang menampilkan dewa-dewi Yunani dan teras atau serambi yang terinspirasi dari rumah-rumah tradisional di Hinda Belanda.

Para seminar inipun diterangkan bahwa Batavia merupakan kota yang terdiri dari berbagai etnis dan bahasa, tetapi rakyat sebagai bagian dari komponen wilayah tersebut tetap saling menghargai dan menghormati. Perbedaan yang ada bukanlah sebagai dinding pemisah melainkan sebagai pemersatu diantara mereka. Kemudian, dengan adanya interaksi tersebut, lahirlah kebudayaan baru sebagai hasil percampuran dari budaya-budaya yang ada di masyarakat.

Penulis: Adrian Falah D. 
Foto: Adrian Falah D.
Editor: Grace Elizabeth

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Keberagamaan adalah Keseimbangan
Les Desireux & Les Desirables