Analogi Politik pada Kehidupan Binatang

Saturday, 29 October 16 | 04:58 WIB

Judul                    : Mengusir Matahari Fabel-fabel Politk
Pengarang           : Kuntowijoyo
Penerbit               : Pustaka Hidayah
Tebal                    : 301 halaman
Cetakan                : Oktober 1999

“Cerpen hanya dibaca peminat cerita pendek, artikel-artikel politik hanya dibaca peminat analisis politik,” cerita Kuntowijoyo dalam pengantar Mengusir Matahari Fabel-fabel Politik mengenai pendapat yang disampaikan Syafi’i Anwar kepadanya.

Kuntowijoyo mengakui, pernyataan mantan Wakil Pemimpin Redaksi Ummat itu menyentuh pikirannya untuk membuat karya yang bisa menjembatani dua hal tersebut.

Berdasarkan ide itu, terbitlah Mengusir Matahari Fabel-fabel Politik, sebuah karya yang berisi kumpulan fabel bermuatan kebijaksanaan dan sindiran politik. Fabel tersebut dibuat agak berbeda dengan fabel-fabel dalam kebudayaan Melayu dan Jawa yang sebatas berisi kebijakan moral dan etik.

Dari 89 fabel di buku karya penerima SEA Award dari Kerajaan Thailand itu, pembaca tidak akan menemukan kisah seperti fabel kancil dan harimau, ikan gabus dan tupai, buaya dan burung penari, dan sebagainya, yang berisi cerita tentang keharmonisan sahabat, pentingnya kerjasama, dan permusuhan yang merugikan.

Kuntowijoyo tampaknya lebih asyik mengemas fabel sebagai suatu analogi kehidupan politik. Saat membaca fable-fabel itu, pembaca akan merefleksikan riuhnya panggung politik dengan suasana menggelitik.

Tidak seperti tulisan Kuntowijoyo dalam buku-buku ilmiahnya yang sangat panjang dan penuh data, yang bahkan ketebalannya bisa mencapai lebih dari 600 halaman, sehingga membutuhkan kening yang mengkerut saat membacanya, setiap fabel di buku tersebut dikemas singkat-singkat dan mudah dipahami.

Mengusir Matahari Fabel-fabel Politik dapat menjadi hiburan, seperti dongeng sebelum tidur, dapat pula menjadi suatu kajian, seperti yang dilakukan Adib Nur Huda, mahasiswa Universitas Negeri Malang: menjadikannya topik skripsi.

“Alun-alun” Pemikiran Kuntowijoyo

Konteks penulisan buku karya penerima Satyalancana Kebudayaan RI tersebut adalah kehidupan politik pada masa pemerintahan Soeharto. Ia lugas menulis, “Tema umum dari buku ini ialah ‘Mengusir Matahari’, artinya menumbangkan kekuasaan Orde Baru yang sudah ‘membakar hutan’ selama 32 tahun.” Nyinyiran terhadap kondisi politik pada masa itu sangat mewarnai cerita.

Meskipun demikian, kumpulan fabel Kuntowijoyo akan selalu relevan dengan zaman. Sebab, selama praktik-praktik politik berlangsung, selama itu pula “penyakit-penyakit” politik berpotensi, atau malah akan selalu muncul.

Selain sebagai ahli sejarah, Kuntowijoyo memang terkenal sebagai cerpenis serta esais keagamaan dan politik. Lulusan doktoral Universitas Columbia tersebut, selama hidupnya (meninggal 2005 –usia 61), sangat produktif dalam menulis.

Di bidang sastra; Pasar (1972), Khotbah di Atas Bukit (1976), Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1992), Pistol Perdamaian, Laki-laki yang Kawin dengan Peri (1995), Topeng Kayu (2001), Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1996), Impian Amerika (1998), Daun Makrifat, Makrifat Daun (1995), Rumput-rumput Danau Bento (1968), Isyarat (1976), dan puluhan karya lainnya.

Di bidang sejarah, agama, budaya, dan politik; Muslim Tanpa Masjid (2001), Radikalisasi Petani (1994), Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Perubahan Sosial Dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940 (2002), Politik dalam Bingkai Struktualisme Transendental (2001), Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas (2002), Identitas Politik Umat Islam (1997), Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991), Demokrasi dan Budaya Birokrasi (1994), dan sebagainya.

Produktivitas tersebut membuat penerima Asean Award on Culture itu memiliki banyak julukan, mulai dari guru besar, sejarawan, budayawan, sastrawan, aktivis, penulis-kolumnis, intelektual muslim, sampai khatib. Dari keparipurnaan pemikiran dan karya Kuntowijoyo, Mengusir Matahari Fabel-fabel Politik seakan menjadi “alun-alun” kemampuannya: menulis cerita, membaca zaman, memandang pentas riuh politik, dan menyampaikan pesan kemanusiaan.

Bahasa yang disampaikan lugas, tidak bertele-tele, apalagi mendayu-dayu. Fabel yang dikisahkan mengalir, membawa pembaca penasaran akan ujung cerita, layaknya seorang anak yang didengarkan kisah seekor kancil. Pesan yang disampaikan sangat dekat dengan realita politik dan menyentuh tabiat manusia, sehingga benar-benar menjadi tulisan reflektif.

Pencarian “Harta Karun”

Selain “Mengusir Matahari”—menumbangkan Orde Baru, Kuntowijoyo tidak menuliskan lebih lanjut apa maksud fabel-fabel yang ditulisnya. Sebagian mungkin akan menganggap Kuntowijoyo ingin menyatakan, tabiat manusia dan hewan adalah sama.

Sebagian, yang pesimistis, mungkin tidak tanggung-tanggung mengungkapkan, Kuntowijoyo bermaksud menyampaikan, manusia lebih rendah dari hewan.  Karya sastra memang bebas tafsir.

Namun, Kuntowijoyo sayangnya selalu memberikan pepatah, semacam nasihat atau simpulan, pada setiap akhir fabel, yang terpisah dari struktur cerita. Kuntowijoyo tampaknya tidak ingin pesan yang tersimpan dalam setiap fabelnya dimaknai berbeda oleh pembaca.

Tetapi, dengan pepatah tersebut, pembaca akan berusaha merenung, mencari kontekstualisasi fabel dengan realita politik. Perihal itu, Kuntowjioyo memberi klarifikasi, “disediakan ruang untuk merenungkan kebijakan atau sentilan politiknya.

Sehabis setiap cerita selalu ada simpulan, hikmah, atau ibarat apa yang bisa dipetik”. Dari sini, jelas maksud Kuntowijoyo: “memaksa” pembaca untuk mencari kebijaksanaan politik di fabel-fabelnya.

Kuntowijoyo ingin bermain-main dengan pembaca. Layaknya permainan mencari harta karun, meskipun rumit, sebelum menemukan harta karun, para pencarinya akan senang dan penasaran selama proses pencarian itu.

Di tengah jalan, mereka mungkin akan menebak-nebak letak harta karun. Tebakan itu terkadang salah, terkadang benar. Namun, asal terus berjalan sampai titik akhir, harta karun itu akan ditemukan. Begitulah Kuntowijoyo mengemas karyanya ini.

Meskipun topik besarnya adalah politik, Kuntowijoyo membawa pembacanya asyik mencari pesan yang disampaikannya. Pembaca pun akan menebak-nebak pesan fabel. Sampai akhirnya, pesan itu dapat ditemukan di akhir cerita.

“Demokrasi Gajah, Demokrasi Kuda, Demokrasi Anjing”

Konsep yang digunakan Kuntowjioyo sebenarnya mirip dengan konsep Brian Massumi dari Universitas Duke yang mengembankan konsep animal politics dalam karyanya, What Animals Teach Us About Politics.

Hanya saja, Brian mengupasnya dengan multidisiplin ilmu, seperti biologi, filsafat, dan politik. Sedangkan Kuntowijoyo lebih terang-terangan mengisahkan kehidupan manusia dengan lakon-lakon binatang: dengan fabel. Namun, keduanya menyandarkan pemahaman pada konsep animal politics.

Menjadi wajar, beberapa judul fabel menghadapkan istilah politik dengan nama binatang, seperti “Demokrasi Gajah, Demokrasi Kuda, Demokrasi Anjing”. Kederangannya mungkin mengada-ada, namun isinya memiliki sindiran politik yang sangat menyentil.

Pada “Kucing/Harimau”, ia bercerita tentang sekelompok yang dianggap tidak kuat, namun tiba-tiba berubah menjadi kekuatan yang menumbangkan. Tentu saja Kuntowijoyo sedang berbicara tentang kemampuan mahasiswa. Namun di “Sajak-sajak Seekor Kucing”, ia memberikan sindiran kepada mahasiswa, yang hanya pandai membuat gerakan, tetapi tidak untuk menghentikannya, sehingga terjadi kekerasan politik.

Begitulah karya ini dibuat, penuh sarkasme dan asyik dibaca.

Oleh: Savran Billahi

Komentar



Berita Terkait