Anies Baswedan: Kita Terlalu Mengagungkan Bhinneka dan Melupakan Tunggal

Sunday, 15 April 18 | 05:34 WIB

Anies Baswedan menyampaikan pentingnya persatuan di tengah masyarakat yang heterogen. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa keberagaman bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia karena sudah tertuang dalam semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Namun, ia menyayangkan masyarakat yang seringkali terlalu mengagungkan keanekaragaman (bhinneka) dan melupakan tentang persatuan (tunggal).

“Keanekaragaman itu memang sudah dari sananya, itu (keanekaragaman -red) adalah fakta kehidupan. Kita tidak usah berjuang untuk hal tersebut, tapi untuk persatuan, itu butuh usaha,” jelas Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (DKI Jakarta).

Selanjutnya, Anies mengatakan bahwa belum adanya persatuan di provinsi yang dipimpinnya disebabkan adanya ketidaksetaraan dalam masyarakat. Isu-isu ketidaksetaraan yang disinggungnya antara lain kemiskinan ekstrem, kesenjangan pendapatan, dan diskriminasi ekonomi yaitu berupa akses terhadap pendanaan dan perbankan yang merupakan permasalahan struktural.

Menurutnya, ketidaksetaraan bukan lagi menjadi topik utama yang dibahas dalam dunia akademis. Universitas-universitas semakin jarang membahas kemiskinan. Ia melihat hal tersebut lebih sering diangkat oleh pemimpin-pemimpin agama.

“Kesetaraan lah yang akan membawa kita kepada persatuan,” ungkapnya di Balai Sidang Universitas Indonesia (24/3) lalu, dalam rangka penutupan 7th Southeast Asian Studies Symposium 2018 .

Berpacu pada hal tersebut, ia sedang menjalankan program-program, seperti OK OCE dan inisiasi air bersih yang menurutnya dapat mengurangi angka ketidaksetaraan tersebut. Ia mengajak masyarakat untuk menjadi co-creator program-program pemerintah.

Acara yang turut dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno ini adalah kolaborasi antara Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Project Southeast Asia Universitas Oxford, dan Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia (Indonesian Environmental Scientists Association). Adapun simposium ini diikuti oleh 400 partisipan dari 95 universitas, yang datang dari 20 negara.

Tak hanya masalah sosial, simposium ini juga berfokus pada permasalahan lingkungan yang terjadi di Asia Tenggara.

Teks: Alexandro Daniel Marthin
Foto: Alexandro Daniel Marthin
Editor: Halimah dan Kezia

Komentar



Berita Terkait

NOTIS Bahas Perbedaan Mahasiswa Program Vokasi dan Sarjana UI
Peneliti INDEF: Uraikan Sejarah hingga Rekomendasi Kebijakan Student Loan
Zico-Josua: UU MD3 Bukan Sekadar Masalah Praktik
Mapres Utama Program Vokasi UI Bantu Kontrol Emosi Anak Dengan Flanasi