Aplikasi RAPOTIVI: Laporkan Tayangan Televisi Tak Sehat

Monday, 23 February 15 | 06:50 WIB

RAPOTIVI merupakan aplikasi Android untuk mengadukan tayangan televisi yang buruk. Aplikasi ini dikelola oleh Remotivi, sebuah lembaga studi dan pemantauan televisi di Indonesia dan disponsori oleh Cipta Media Seluler.

“Asal katanya memang dari kata “raport”, jadi esensinya adalah orang bisa menilai sendiri tayangan televisi yang ditontonnya,” kata Roy Thaniago, Direktur Remotivi yang hadir pada acara peluncuran aplikasi itu pada Sabtu (21/2) di kawasan Cikini, Jakarta.

Menurut Roy, inisiatif pembuatan aplikasi ini didasari pada kenyataan bahwa kebanyakan industri televisi di Indonesia hari ini gagal memenuhi hak warga untuk mendapatkan tayangan televisi yang sehat, benar, dan bermanfaat.

“Orang berharap media, khususnya televisi, bisa membantu publik dalam memperoleh informasi. Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Para pengelola stasiun televisi kebanyakan hanya melayani kepentingan pemodal,” tutur Roy.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Remotivi, banyak pelanggaran yang dilakukan oleh stasiun televisi. Misalnya, peraturan yang membatasi durasi iklan hanya 20% dalam sehari, banyak dilanggar.

“Banyak stasiun TV yang melewati batas ini dan tidak ditindak oleh KPI,” kata Roy.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) adalah lembaga yang dibiayai dari pajak warga untuk mengawasi industri penyiaran. Namun, Roy mengatakan, “Selain kurang dikenal atau dimanfaatkan publik, kinerjanya juga belum maksimal. Sebab itu RAPOTIVI hadir untuk menjembatani publik dengan KPI, agar lembaga ini bekerja lebih cepat, responsif, dan progresif.”

Selain untuk menjembatani KPI, RAPOTIVI juga hadir untuk mengedukasi masyarakat untuk menuntut hak atas frekuensi yang dimilikinya. Sebab, dari survei yang diadakan Remotivi pada tahun 2011, 57 persen responden menilai bahwa frekuensi televisi dimiliki oleh korporat dan hanya delapan persen yang menilai bahwa frekuensi memang dimiliki oleh publik.

Dalam acara peluncuran itu, Roy juga menjelaskan bagaimana aduan yang diterima akan diteruskan ke KPI. Pertama, masyarakat bisa men-download aplikasi RAPOTIVI di Google Play atau mengaksesnya di rapotivi.org. Kemudian, masyarakat melaporkan tayangan televisi yang dirasa buruk dengan mencantumkan namanya. “Jadi, diusahakan tidak ada laporan yang anonim agar gampang diverifikasi,” jelas Roy.

Setelah itu, aduan yang masuk akan diverifikasi oleh Tim Remotivi dengan menggunakan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (SP3SPS) sebagai acuan. “Jika setelah diperiksa dan ditemukan adanya pelanggaran, maka aduan akan diteruskan kepada KPI,” tutur Roy. Namun, jika ternyata aduan yang masuk kurang lengkap, maka Tim Remotivi juga akan memberitahu si pelapor lewat email.

Tim Remotivi juga akan selalu melaporkan status aduan yang disampaikan oleh masyarakat dengan mengawal proses yang ada di KPI. Status kabar aduan ini bertujuan agar masyarakat tahu bahwa aduannya memiliki dampak. Roy juga menjelaskan, “Kita akan membuat tabulasi datanya, mana acara yang paling sering diadukan oleh masyarakat, stasiun televisi mana yang paling sering menyiarkan acara buruk.”

Turut hadir dalam acara peluncuran aplikasi RAPOTIVI, Menteri Kominfo Rudiantara mengatakan, “Saya appreciate aplikasi RAPOTIVI. Ini merupakan feedback terhadap regulasi.” Rudi juga mengatakan bahwa Kominfo akan meningkatkan kerja sama dengan KPI dalam memperkuat konten.

“Saya tidak mengurusi soal konten, kewenangan itu ada di KPI. Kominfo itu mengurusi regulasi. Namun, laporan atas konten itu bisa kita gunakan untuk pertimbangan mengurus izin siarran dan regulasi lain,” jelas Rudi. Dalam pertemuan itu, Rudi juga berpesan agar Remotivi benar-benar independen dan tidak terafiliasi dengan penyiaran mana pun.”

Di akhir acara, terdapat  penandatanganan nota kesepahaman antara Menteri Kominfo Rudiantara,  dan Direktur Remotivi Roy Thaniago. Isinya berupa komitmen kedua lembaga untuk saling bersinergi untuk menjamin hak warga negara atas tayangan televisi yang sehat, benar, dan bermanfaat.

Namun, Menkominfo belum menandatangi nota kesepahaman itu dengan alasan adanya masalah redaksional di salah satu poin nota kesepahaman. “Saya bukan tidak mau menandatangani, tetapi ada kalimat yang masih harus diubah dalam nota itu. Namun, saya akan mempertimbangkan setiap rekomendasi yang akan diberikan oleh Remotivi nantinya,” ujar Rudi.

Dara Adinda Kesuma Nasution

Foto: Cindy Andika Fiona

Komentar



Berita Terkait