Ayu Oktariani, ODHA yang Aktif Terjun ke Masyarakat

Monday, 11 March 13 | 07:37 WIB

Empat tahun sudah Ayu Oktariani hidup dengan HIV yang diidapnya sejak tahun 2009. Hal itu dilatarbelakangi oleh riwayat suaminya yang merupakan seorang pengguna jarum suntik yang kemudian jatuh sakit dan dinyatakan positif HIV.

“Jika dia positif, otomatis pasangan juga diperiksa, dari situ awalnya saya tahu bahwa saya positif dan penularannya lewat hubungan suami istri,”ungkapnya Pada awalnya, Ayu dilanda kebingungan yang luar biasa tanpa tahu harus berbuat apa.

Kondisi suaminya yang saat itu sedang kritis mengharuskan Ayu untuk menginap di rumah sakit selama lima hari. Saat itu, Ayu tidak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diprioritaskan, pengobatan seperti apa yang harus ia jalani.

Hampir ia putus asa. Namun, dukungan besar dari keluarga membuatnya bangkit lagi. Selain itu, dukungan yang sama juga datang dari teman-teman baiknya yang tetap menerimanya. “Hanya ada beberapa teman yang menjauhi saya,”tutur Ayu, “maklum karena memang mereka saat itu belum banyak belajar, sehingga informasi yang didapat mengenai HIV hanya sedikit.”

Alasan lain yang membuat Ayu bersemangat adalah anaknya. Anaknya menjadi penyemangat hari-hari yang ia jalani. Pada saatnya nanti, Ayu akan membeberkan penyakitnya kepada anaknya. Menurut Ayu, menjadi seorang positif HIV bukanlah suatu aib karena penyakit tersebut tidak jauh berbeda dengan penyakit lain.

Selain itu, ia juga masih bisa memelihara kesehatan dan beraktivitas normal sama seperti orang normal lainnya.   ”Yang perlu diberikan pengertian adalah adanya hal-hal yang tentunya anak saya harus siap menerima kondisi bahwa, mungkin suatu hari obat-obat yang saya minum bereaksi dan kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak diinginkan terjadi,”ungkapnya.

Pengertian mengenai hal-hal yang tidak diinginkan memang harus disampaikan karena hal itu memang menjadi sebuah konsekuensi. Ayu selalu berpesan pada anaknya untuk tidak membeda-bedakan seseorang berdasarkan ras atau agama karena pada dasarnya setiap manusia adalah sama.

Sehingga anaknya mulai menerima hal-hal yang sebelumnya belum pernah ia pahami. “Saya rasa dia lebih takut melihat seseorang yang tidak punya organ tubuh dan harus menaiki kursi roda daripada melihat ibunya setiap hari minum obat,”ungkapnya   Kontribusi Ayu sebagai Aktivis HIV

Saat ini, Ayu menempati posisi sebagai Dewan Nasional di IPPI (Ikatan Perempuan Positif Indonesia). Ia dan teman-temannya berjuang untuk perempuan yang hidup dengan HIV dan terdampak HIV. Terdampak HIV adalah terkena HIV negatif atau positif. IPPI saat ini berfokus pada masalah kesehatan seksual dan reproduksi serta memperjuangkan perlindungan perempuan dengan HIV, sebab isu perempuan dengan HIV masih dikesampingkan.

IPPI juga sedang membuat sistem rujukan atas kekerasan yang dialami perempuan dengan HIV.   Ayu juga bekerja di salah satu lembaga AIDS, Indonesia AIDS Fondation, sebagai Media Officer. Lembaga ini memiliki fokus yang lebih luas, yakni advokasi ke pemerintah, serta mendorong transparasi dan akuntabilitas pemerintah terkait respon AIDS.

“Selama ini, isu mengenai HIV/AIDS mendapatkan donor dana yang sangat banyak, tapi tidak ada pos-pos yang bertanggung jawab memonitor. Jadi, kami bergerak bersama untuk itu,”jelasnya. Sampai hari ini, lembaga tersebut banyak bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS, dan PBB beserta badan-badannya.

Hal lain yang juga ia lakukan bersama teman-temannya adalah menguak isu-isu yang tidak pernah terpikirkan seperti hak paten obat. Selama ini, orang-orang hanya tahu mendapatkan obat yang gratis, tanpa tahu bagaimana obat itu bisa menjadi gratis karena pemerintah tidak mendata siapa yang memegang hak paten itu.

Banyak juga kebijakan-kebijakan dan Peraturan Daerah di Indonesia yang mereka soroti. Tidak adanya peraturan yang jelas mengenai kasus-kasus terkait Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) jelas sangat merugikan pihak yang terkait. Seperti kasus dimana banyak perusahaan yang menolak orang dengan HIV untuk bekerja, penolakan anak dengan HIV untuk bersekolah, baik karena status HIV anak itu sendiri maupun karena status HIV orang tuanya

Keprihatinan terhadap minimnya informasi yang didapat oleh masyarakat mengenai HIV/AIDS membuatnya aktif mengampanyekan informasi terkait HIV kepada publik melalui ODHA Berhak Sehat (OBS) yang juga merupakan salah satu inisiatif Indonesia AIDS Foundation.

Forum mengenai isu HIV di Internet ini merupakan gerakan yang berusaha mendekatkan masyarakat kepada isu-isu terkait HIV dan membuat pengidap HIV menjadi lebih akrab dan diterima oleh masyarakat.

Ia ingin agar masyarakat memiliki kesadaran akan pentingnya informasi mengenai HIV, sehingga mereka dapat melakukan pencegahan terhadap diri mereka sendiri dan lingkungannya, serta menjadikan ODHA tetap bersemangat dalam menjalani hidupnya, seperti yang selama ini ia lakukan.

Galang Dana untuk Kesehatan Pribadi dan Keluarga   Anak dan keluarga merupakan motivasi terbesarnya menjalani hidup. Pada awalnya, ia berpikir bahwa ia harus mencari uang demi pengobatannya dan demi anaknya, sehingga ia harus terus sehat. Ia bekerja di kantor dan menjadi aktivis, serta hidup di dalam lingkaran komunitas.

Hal itu membawanya kepada banyak keberuntungan. Dari komunitas-komunitas tersebut, ia tahu sejauh mana perkembangan isu-isu terkait dengan HIV/AIDS. Dari sana pula ia mendapatkan penghasilan untuk pengobatannya dan membiayai keluarganya. “Saat ini, di lingkungan HIV ada istilah OHKA (Orang yang Hidup Karena AIDS), jadi orang-orang yang bukan ODHA terjun ke dunia HIV dan mendapatkan penghasilan dari sana,”katanya

Harapan terbesarnya saat ini adalah mengajak masyarakat dan pemerintah untuk lebih peduli dengan isu anak dengan HIV karena sampai saat ini tidak ada lembaga khusus yang besar dan fokus untuk mengayomi mereka secara menyeluruh.

Organisasi-organisasi yang membicarakan anak dengan HIV hanya sedikit dan terfokus pada setiap provinsi saja. Ia ingin merangkul teman-temannya untuk mulai membicarakan hal ini daripada menunggu respon dari Komisi Perlindungan Anak yang pada dasarnya belum memiliki kapasitas untuk melindungi anak dengan HIV tersebut.

Ia ingin terus terjun ke masyarakat untuk menyebarkan informasi mengenai HIV/AIDS agar masyarakat dapat memiliki kesadaran dan informasi yang memadai sehingga dapat melakukan pencegahan serta dapat memperlakukan ODHA dengan seharusnya.

“Saya pribadi belum tahu sampai kapan, tapi selama saya masih bisa memberikan yang terbaik dan berdedikasi untuk isu ini (HIV/AIDS), saya akan berusaha semampu saya,”ungkapnya mengakhiri .

Rifki Darmawan, Faizah

Komentar



Berita Terkait

Youtubers: Salurkan Ekspresi Lewat Video
Berobat di Klinik Satelit dan RSPTN UI, Mahasiswa UI Dipungut Biaya
Tidak Boleh Ada Diskriminasi dalam Pelayanan Kesehatan Klinik Satelit UI
Dua Bulan Jaminan Kesehatan Nasional, Masih Dapat Nilai D