BEM se-UI Kawal Penggusuran Paksa di Kukusan

Monday, 17 December 18 | 07:14 WIB

Rabu (12/12) pagi telah dilakukan penggusuran paksa warga Kukusan, Beji, Depok. Meski berlangsung secara damai, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan beberapa BEM Fakultas yang tergabung dalam aliansi Kukusan Berjuang tetap melakukan pengawalan demi menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan. “Ya, selain itu kita di sini juga ingin kasih support buat warga,” jelas Zaadit selaku Ketua BEM UI.

Menurut Zaadit, gabungan aliansi BEM UI dan beberapa BEM Fakultas ini tidak hanya melakukan pengawalan selama proses eksekusi penggusuran, tetapi juga telah melakukan pendampingan untuk warga sejak beberapa bulan lalu. “Sebenarnya, kita sudah melakukan pendampingan dari September. Sifatnya itu lebih ke bantuan karena sebenarnya warga sudah punya pengacara sendiri dan sudah melakukan konsolidasi sendiri,” ujar Zaadit.

Selanjutnya pendampingan dan pengawasan eksekusi penggusuran tersebut diakui Zaadit juga dilakukan atas permintaan warga setempat. Zaadit menuturkan bahwa sehari sebelum dilakukannya eksekusi, warga mengajak mahasiswa untuk turut datang. “Ayo dong dateng, mahasiswa,” pinta warga.
Hasilnya, BEM UI dan tiga BEM tingkat fakultas seperti FMIPA, FISIP, dan FIA hadir pada proses eksekusi penggusuran. “Sekarang baru ada FMIPA, FISIP, FIA, dan BEM UI karena agak mendadak, tapi gak tahu nanti,” kata Zaadit saat diwawancarai oleh Suara Mahasiswa.

Kemudian Zaadit berharap agar proses eksekusi penggusuran tetap dapat berlangsung secara damai sampai selesai, meskipun nanti ada pertambahan massa.
“Ya, sebenarnya sejauh ini aman. Warga kan nggak melakukan perlawanan terhadap petugas yang mengeksekusi rumah mereka,” ungkap Zaadit.

“Itu karena warga sendiri memang pada dasarnya tidak menolak adanya jalan tol. Mereka siap untuk pindah, cuma mereka mau ada proses negosiasi karena sebelumnya nggak ada proses itu,” tambah Zaadit.

Sedangkan, menurut warga yang menolak penggusuran, eksekusi ini cacat hukum karena proses banding yang dilakukan warga terhadap keputusan pengadilan masih belum final.
“Ini lagi proses banding, belum ada kekuatan hukum (untuk penggusuran -red),” jelas Pak Syam, koordinator warga Kukusan yang menolak penggusuran.

Warga juga tidak memiliki niatan untuk melakukan aksi pemblokiran atau perlawanan fisik lainnya.
“Nggak bisa kita melawan, nanti kita yang salah. Melawan petugas, nanti anarkis, kena lagi pasal,” ujar Pak Syam. Namun, ia menyatakan jika perlawanan warga akan dilanjutkan melalui jalur hukum. “Tetap kita akan kita lakukan (perlawanan -red) secara hukum.”

Lalu, mengenai usaha untuk memfasilitasi negosiasi antara warga dan pengembang sebenarnya telah dilakukan oleh pihak Polres setempat. Namun, negosiasi tersebut gagal dilakukan dan tidak menemui kesepakatan.
“Ya, itu karena ternyata ketika sudah difasilitasi, Polres datang, dan warga datang, pengembangnya yang datang cuma bawahan,” kata Zaadit.

“Padahal kalau misalnya pihak pengembang serius datang dan bisa ngobrol, masalah selesai,” tutup ketua BEM UI 2018 tersebut.

Teks: Fergie Virginia dan Muhammad Insan Fadhil

Foto: Ahmad Helmy Kusuma

Editor: Halimah dan Kezia

Pers Suara Mahasiswa UI 2018

Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Pagelaran Budaya Sulsel, Sapa Makara Art Center
Wacana Keterlibatan TNI dalam Ranah Sipil dan Politik, BEM UI dan Aliansi Tanyakan Urgensi
BEM se-UI Mengecam Aksi Teror Anti Pemberantasan Korupsi
Dapoer Bang Jali: Resto Khas Nusantara, Harga Sesuai Kantong Mahasiswa