Berdonasi Tanpa Uang

Friday, 11 January 19 | 04:57 WIB

Donasi uang tanpa mengeluarkan uang? Mungkin terdengar mustahil. Namun, ide mustahil ini berhasil direalisasikan oleh ketiga mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yaitu M. Radhiyan Pasopati Pribadi (FISIP UI 2014), Luthfi Abdurrahim (Fasilkom UI 2014), dan Mutsla Qanitah Thahadi (FISIP UI 2014). Dalam grand launching peresmian kerja sama yang diadakan di kantor Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Wisma Sirca, Jakarta (04/01/2019) silam, Radhiyan selaku CEO memaparkan awal mula ia menginisiasi startup donasi bertajuk gotongroyong.in ini.

“Berangkat dari ide sederhana, bagaimana orang-orang yang nggak punya uang sekalipun bisa berdonasi. Melihat kalangan mahasiswa rekeningnya sering nol (punya kekuatan finansial yang tidak banyak -red), tapi di sisi lain mereka punya kepedulian sosial yang tinggi,” ungkap mahasiswa Ilmu Politik UI. Selain itu, Radhiyan menuturkan bahwa salah satu tujuan ia meluncurkan website ini adalah untuk menunjukkan bukti nyata kepada masyarakat kalau mahasiswa bisa menemukan solusi yang nyata untuk kehidupan masyarakat.

Hasil survei dan riset yang mereka adakan sebelumnya menunjukkan bahwa ada tiga alasan utama mengapa orang-orang tidak bisa berdonasi: 1) Tidak percaya dengan aliran dana yang didonasikan, 2) Tidak punya uang, 3) Merasa penyalur donasi kurang transparan. Platform ini mencoba menjawab dan menyelesaikan ketiga permasalahan tersebut. Salah satunya dengan menyiarkan iklan-iklan dari perusahaan mitra untuk ditonton sebagai modal utama para donatur untuk berdonasi, serta bekerja sama dengan BAZNAS sebagai penyalur donasi yang terpercaya.

Ternyata, gagasan ini ini diwujudkan pertama kali pada lomba yang diselenggarakan oleh World Bank, yang diikuti oleh Radhiyan. Tidak keluar sebagai pemenang, Radhiyan tidak patah semangat dan justru ia merealisasikan platform revolusioner ini dengan menggandeng dua koleganya tersebut. Pada 29 Agustus 2018, ketiga mahasiswa ini mulai membuat website dan sukses secara resmi meluncurkannya kepada publik pada 28 Oktober 2018. Di bawah naungan RSE (Reliable Software Engineering) Lab Fasilkom UI dan binaan dosen Fasilkom UI, Ade Azurat, menyebabkan perwujudan platform ini lebih dimudahkan. Namun ke depannya, mereka berambisi agar gotongroyong.in menjadi platform yang independen.

“Harapannya untuk setahun ke depan, gotongroyong.in dapat menjangkau skala nasional, merambah ke isu-isu lain seperti kesehatan, membuat aplikasi mobile, serta dari sisi bisnis, kami juga ingin memperluas jasa pembuatan iklan. Untuk lima tahun ke depan, kami ingin menjangkau seluruh Asia Tenggara,” lanjut Radhiyan.
Grand launching ini turut dihadiri oleh Luthfi selaku rekan kerja Radhiyan, serta Direktur Utama BAZNAS yaitu M. Arifin Purwakananta. Hari itu, terdapat pemutaran video pengenalan dan penjelasan secara teknis program gotongroyong.in. Arifin sendiri sangat berterima kasih dan mengapresiasi usaha tim gotongroyong.in dalam mengajukan proposal kerja sama kepada BAZNAS.

“Program ini memungkinkan masyarakat bisa berdonasi tanpa harus mengeluarkan dana, hanya dengan menonton iklan. Saya mengapresiasi dan menyambut baik program ini. Menariknya, teman-teman ini sambil nge-launch, sekaligus memberi sumbangannya kepada BAZNAS,” ujar Arifin.

“Saya berharap ini bisa segera dikenalkan ke masyarakat, dan juga bisa menginspirasi dan melahirkan gagasan-gagasan baru yang lebih unik lagi untuk menolong sesama. Kita memang punya mimpi untuk memenuhi ruang komunikasi filantropi, dimaksudkan untuk mengajak kebaikan dan mendorong kedermawanan sosial,” pungkas Direktur Utama BAZNAS.

Cara berdonasi lewat website gotongroyong.in ini sangatlah mudah. Pengunjung website hanya perlu untuk log in dengan akun Facebook atau Google lalu menonton iklan berdurasi 10 detik setelahnya. Hasil pembayaran pemasangan iklan dari perusahaan-perusahaan inilah yang nantinya akan menjadi bentuk dari donasi kita. Untuk saat ini, tidak ada pembatasan bagi satu akun untuk menonton tayangan iklan berkali-kali.

Radhiyan kemudian mengungkapkan strategi pemasaran dari gotongroyong.in yang mencoba mengajak komunitas-komunitas legal beserta public figure untuk bekerjasama. “Kuncinya sebenarnya hanya satu, community engagement. Kami ingin sesering mungkin turun dan berinteraksi secara nyata kepada masyarakat, tidak hanya lewat online saja, karena kami ingin membuktikan bahwa gotongroyong.in ada untuk masyarakat,” jelas Radhiyan.

Selain itu, Radhiyan mengakui adanya rencana untuk bekerja sama secara terbuka dengan lembaga-lembaga resmi atau terpercaya lain seperti Dompet Dhuafa, BEM UI, maupun institusi lain yang mungkin ingin membuat iklan atau campaign di gotongroyong.in.
Tim gotongroyong.in sendiri hingga saat ini telah menggalakkan dua campaign dan turun langsung pada 30 Desember 2018 di Lampung dan Banten dengan campaign “1001 Susu Gratis dari Netizen Indonesia” serta “1001 Sabun Gratis untuk Palu dan Donggala”.

Teks: Zakia Shafira

Foto: Izdihar Safira

Editor: Grace Elizabeth

Pers Suara Mahasiswa UI 2019

Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Kampung Digital : Program Melek Teknologi di Masyarakat
Perubahan KAMABA 2019
Inklusivitas Ragam Kelompok dalam Pergerakan Perempuan
Paradigma Kekerasan Seksual di Area Kampus