Bergerak! 4 Mei 1998: “Ini Puncak Jaman Edan”

Monday, 07 May 18 | 01:02 WIB

“Ini Puncak Jaman Edan”

(Permadi, Paranormal)

Sepertinya rakyat Indonesia tengah diberi cobaan yang berat dengan adanya berbagai masalah yang mendera rakyat negeri ini secara beruntun. Mulai dari krisis ekonomi berkepanjangan sampai pada wabah demam berdarah yang kini sudah merenggut ratusan nyawa manusia. Negara kita juga dicerca habis-habisan dalam pergaulan internasional dengan adanya pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam penculikan para aktivis pro reformasi. Mahasiswa di seluruh Indonesia pun beraksi setiap hari untuk menuntut pemerintah agar secepatnya melakukan tindakan konkret untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul sekarang ini. Banyak yang bahkan menuntut pemerintah mundur.

Bagaimanakah kejadian-kejadian tersebut dipandang oleh Permadi, seorang paranormal yang juga merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia? Untuk mengetahui jawabannya ikuti wawancara salah seorang kru bergerak! Dengan Permadi yang ditemui seusai acara Seminar Hardiknas di Balairung UI hari Sabtu (2/3) berikut ini.

Bagaimana tanggapan Pak Permadi tentang penculikan para aktivis pro perubahan di pandang dari sisi hukum dan spiritual?

Kalau ditinjau dari sisi hukum penculikan itu jelas melanggar dasar hukum kita yang paling tinggi yaitu Pancasila terutama sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Selain itu juga melanggar UU yang berlaku seperti menghilangkan nyawa orang dsb. Dari segi spiritual ini merupakan pertanda puncak jaman edan. Joyoboyo pun sudah menggambarkan hal itu. Ia mengatakan bahwa puncak dari jaman edan adalah jika pemerintah telah melakukan kebrutalan-kebrutalan dan pemaksaan yang sangat menyengsarakan rakyat. Nah, kalau sudah sampai tingkat seperti itu Tuhan akan memberikan peringatan berupa bencana alam, kerusuhan, dsb. Orang tua kita jaman dulu juga mengatakan juga mengatakan kalau sampai terjadi wabah penyakit dimana orang yang menderita penyakit itu pagi kena sore mati maka itu pertanda yang sangat dekat sekali Tuhan akan menghancurkan sang angkara murka dan sekarang hal itu sedang terjadi.

Menurut Pak Permadi siapa yang menculik para aktivis tersebut?

Dalam bukunya Pak Harto, yaitu ‘Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’, ada rahasia yang dibuka oleh Pak Harto. Ketika terjadi fenomena petrus (penembak misterius) Benny Murdani yang waktu itu menjadi Panglima Angkatan Bersenjata membantah adanya petrus dengan menyatakan itu dilakukan oleh oknum-oknum pertarungan antar gang dan sebagainya. Tapi Pak Harto mengatakan itu adalah perintah resmi darinya. Saya tidak mau menyamakan karena tentu ada faktor yang berbeda, tapi bisa menjadi sebuah pertimbangan. Kedua yang pasti memiliki sel-sel di bawah tanah (yang dipakai menyekap para aktivis) adalah aparat resmi.

Maksud Pak Permadi pihak militer?

Saya tidak tahu. Silakan indikasikan sendiri.

Dalam aksi-aksi mahasiswa sudah banyak korban yang jatuh. Menurut Pak Permadi apakah korban memang diperlukan dalam pergerakan mahasiswa?

Ya, tergantung pada mahasiswa sendiri. Kalau jaman Bung Karno ketika ia masih mahasiswa, ia berjuang dengan segala risikonya antara lain penjara dan kubur. Sejak semula kritik saya terhadap mahasiswa adalah ingin melakukan perubahan total terhadap pemerintahan dsb, tapi tidak pernah berani mengambil resiko, di DO saja takut. Memang hal ini merupakan hasil depolitisasi yang dilakukan di kampus. Saya terus mengompori para mahasiswa untuk jangan takut. Nah, kalau sekarang jatuhnya korban terjadi maka itu adalah resiko perjuangan. Tergantung para mahasiswa berhenti karena takut atau melanjutkan. Biasanya dalam situasi yang sudah sangat menyangkut jatuhnya korban justru akan memicu perjuangan yang lebih hebat, dan itu saya harapkan.

Apakah memang perlu mahasiswa UI ada yang menjadi korban dalam gerakan mahasiswa?

Ini bukan masalah diperlukan atau tidak. Ini adalah sebuah keharusan. Orang harus berani mengambil resiko.

Komentar



Berita Terkait