Bergerak! 4 Mei 1998: Sembilan Ikatan Alumni Pertegas Tuntutan Reformasi

Monday, 07 May 18 | 11:31 WIB

Gerakan untuk reformasi sekarang ini sudah meluas hingga ke berbagai kalangan baik itu kaum intelektual maupun golongan masyarakat lain.

 

Pada hari Sabtu, 2 Mei 1998  Iluni UI menyelenggarakan seminar dengan melibatkan BKS-IKAPTISI (Badan Kerja Sama Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia) yang bertema “Menegakkan Kembali Jati Diri dan Harga Diri Bangsa Melalui Pendidikan Nasional” di Balairung UI Depok.

Seminar yang dimulai pukul 15.30 WIB ini mengangkat agenda reformasi dari ikatan alumni perguruan tinggi se-Indonesia. Secara umum, seluruh peserta seminar yang terdiri dari sembilan Ikatan alumni mempersoalkan perlunya reformasi di bidang pendidikan dari usaha yang sungguh-sungguh dari pemerintah untuk menangani krisis ekonomi.

Tampaknya seminar ini banyak diminati oleh alumni-alumni UI pada khususnya dan alumni yang tergabung dalam BKS-IKAPTISI pada umumnya. Terlihat bayak cendekiawan seperti Prof. Dr. Sri Edi Swasono, Dr. T. Mulya Lubis, Prof. dr. M.K Tajudin, dan Permadi yang dengan antusias mengikuti acara seminar sampai selesai.

Karena seminar ini ditujukan untuk menggagas ide, maka masing-masing perwakilan Iluni menyampaikan orasinya dengan dimoderatori oleh Wimar Witoelar penyaji mantan acara Perspektif.

Ir. Syarifuddin Harahap, Ketua Iluni Universitas Sriwijaya mendapat kesempatan pertama untuk mengemukakan orasinya. Dia mengatakan bahwa reformasi bidang ekonomi didasarkan pada tiga hal kemandirian, nasionalisme, dan pembagian pendapatan yang merata. Sementara ini, Anton Reinhart yang mewakili Iluni Universitas Kristen Indonesia menekankan pada perlunya pengembalian kedaulatan kepada rakyat. “Kembalikan sekarang juga kedaulatan rakyat yang telah dirampas oleh sekelompok manusia Indonesia untuk menghindari timbulnya hak perlawanan rakyat secara nasional”, ucap  Anton Reinhart dengan bersemangat yang disambut tepukan meriah peserta.

Prof. Kunto Wibisono ketua Kagama (Keluarga Gajah Mada) dan Prof Marsetio Donosepoetro dari Universitas Airlangga menyerukan bahwa reformasi sudah mendesak untuk segera dilakukan untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan yang merupakan tema sentral dari seminar mendapat perhatian khusus dari Iluni ITB, IPB, UKI, UI, dan Unair. Pendidikan merupakan persoalan masyarakat yang tidak boleh dimonopoli oleh siapa pun dengan cara membungkam pihak lain yang mempunyai suara yang berbeda. Pendidikan yang terbakukan dan terseragamkan menafikan kondisi ontologis manusia sebagai makhluk yang menyadari bahwa ia sadar dan bisa mempertanyakan dunia. “Namun sekarang dari Depdikbud melalui kebijakan terpusatnya, yang menentukan semua kebijakan yang menyangkut pendidikan,” Kata Dr. Karlina Leksono yang mewakili Iluni ITB.

Tepukan tangan lima ratus peserta seminar membahana ketika Ketua Jurusan Hubungan Internasional FISIP UI Dra. Ani Soetjipto, MA yang mewakili staf pengajar UI membacakan Pernyataan Keprihatinannya. Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa seluruh staf pengajar UI mendukung aksi mahasiswa di seluruh Indonesia dan menyerukan kepada para menteri untuk melaksanakan fungsinya secara lebih terkoordinasi.

Tuntutan terhadap menteri Kabinet Pembangunan VII mewarnai seminar Hardiknas. Ada dua Iluni UI yang menuntut secara jelas terhadap menteri-menteri yang dianggap belum sungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya. Prof. Dr. Saparinah Sadli (FPsi UI) yang mewakili Iluni UI berkata “Kami mendesak Mendagri dan Menhankam untuk mengatasi masalah orang atau mahasiswa yang hilang secepatnya,”. Selain itu Iluni Unair menyarankan Mendikbud untuk menumbuhkan lagi rasa tanggung jawab yang sudah hampir hilang dari masyarakat Indonesia.

Acara seminar memperingati Hari Pendidikan Nasional ini merupakan langkah awal untuk menyatukan agenda-agenda reformasi dari para alumni perguruan tinggi Indonesia yang tergabung dalam BKS-IKAPTISI. Kelanjutan seminar ini ditegaskan oleh Ketua Iluni UI, Hariadi Darmawan menyatakan kelanjutannya acara akan diadakan lagi tanggal 20 Mei 1998 bertepatan dengan hari bersejarah Hari Kebangkitan Nasional.

Sampai akhir acara para peserta tidak beranjak dari tempat duduknya, mungkin karena acara seminar yang dikemas dengan menarik dan diselingi pula oleh banyolan dari Wahyu Sardono yang bertindak sebagai MC.

Setidaknya seminar ini telah mempererat ikatan kerja sama antara sembilan Universitas yang ditandai dengan pembacaan Pernyataan Keprihatinan dari Alumni sembilan PT di Indonesia di akhir acara. Semoga saja pernyataan keprihatinan itu dapat menggugah semangat mahasiswa untuk terus berjuang karena sekarang mereka telah didukung oleh para alumninya.

Komentar



Berita Terkait