Bergerak! 4 Mei 1998: Suara Suharto Berkumandang di UI

Monday, 07 May 18 | 01:31 WIB

“Saudara-saudara sebangsa-setanah air…” lantun suara yang menyentak peserta Seminar Nasional di Balairung Universitas Indonesia hari Sabtu lalu (2/5). “Saya merasa sangat bersyukur dapat berada di tengah-tengah perjuangan rakyat Indonesia. Dari hari ke hari makin menunjukkan kekuatan dan kekritisannya. Hal ini sangat membanggakan. Saya percaya apa yang saudara-saudara lakukan itu tidaklah sia-sia. Sekarang ini saudara-saudara sedang menanam harapan, menanam benih untuk kesejahteraan masa depan bangsa”

Peserta seminar tak kuasa menahan tawa. Ada yang terpingkal-pingkal, terkekeh-kekeh, terbahak-bahak menanggapi suara yang begitu sering didengar rakyat Indonesia. Suara siapa gerangan? Suara siapa lagi kalau bukan suara orang yang selalu memberi petunjuk di layar TV, di pertemuan klompencapir, di mana-mana. Empu suara itu pulalah yang sekarang ini jadi bahan pergunjingan rakyat yang sudah tak percaya padanya. Suara siapa? Suara Suharto!

“Saya mendukung apa yang saudara-saudara lakukan, karena saya percaya bahwa niat saudara-saudara itu tulus tanpa pamrih, yaitu demi kesejahteraan rakyat, membebaskan daripada penderitaan rakyat yang menghantam kehidupannya… Saya percaya perjuangan saudara-saudara itu pasti tak dilandasi keinginan atau ambisi untuk suatu saat nanti menjadi menteri. Kalaupun kelak misalnya mendapat rezeki menjadi menteri anggaplah itu nasib sial, nasib sial yang diharapkan…”

Kembali peserta tak kuat menahan tawa. Mengapa mereka berani? Biasanya suara itu bisa membuat orang tunduk dan diam seribu bahasa. Mereka berani tertawa karena suara Suharto tidak didengungkan oleh Suharto sendiri saat itu, tetapi oleh seniman Butet Kartaredjasa yang dikenal sebagai monolog kawakan asal Yogyakarta.

“Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, namun tidak senasib sepenanggungan… nasib buruk yang melanda bangsa ini diakibatken daripada tindakan yang bersifat hukum yaitu melekatnya budaya kolusi, korupsi, dan nepotisme di dalam pemerintahan sehingga muncul tanggapan dari banyak pihak untuk membenahinya,” lanjut Suharto gadungan yang menjadi tamu istimewa yang tak direncanakan di seminar yang mengumpulkan intelektual dari berbagai perguruan tinggi itu.

“Terus terang saja… Saya kurang setuju hal itu dilakuken, saya lebih setuju kalau korupsi, kolusi, dan nepotisme itu dikuburken dan kelak para pelaku penyimpangan itu ditindak dan diminta pertanggungjawabannya secara hukum, siapakah mereka itu saya tidak tahu… Demikian amanat dari saya terima kasih…”

Bersamaan dengan usainya ‘Suharto’ itu menyelesaikan pidato yang berjudul ‘Amanat Suara Pemilik Bangsa Ini”, seluruh hadirin bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak sampai berlinang air mata. Menertawakan Butet atau malah menertawakan Suharto? Ya ditafsirkan sendirilah.

Komentar



Berita Terkait