Bergerak! 5 Mei 1998: Awan Hitam di Kampus IKIP Jakarta

Monday, 07 May 18 | 08:29 WIB

Awan Hitam di Kampus IKIP Jakarta

Kampus IKIP Jakarta berkabung atas jatuhnya korban mahasiswa dalam Aksi Hardiknas Sabtu yang lalu. Tetapi mereka tidak akan mundur dari perjuangan.

Kampus Institut Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta kemarin (3/4) diselimuti warna hitam tanda seluruh civitasnya ikut berduka cita atas jatuhnya korban dalam aksi keprihatinan Sabtu 2 Mei 1998.

Pada aksi Hari Pendidikan Nasional Sabtu yang lalu (2/5) di kampus tempat calon-calon guru yang nantinya harusnya digugu dan ditiru terjadi peristiwa ‘pembantaian berdarah’ sehingga lebih dari 100 orang yang berdiri dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi dan masyarakat sekitarnya jadi korban tindakan brutal aparat.

“Kami mendengar sendiri tembakan sebagai tanda untuk menyerang kami,” kata seorang aktivis yang ditemui bergerak!.

“Kami juga mendengar teriakan aparat untuk memukuli mahasiswa agar mahasiswa kapok,” lanjutnya

Apapun yang telah berjatuhan baik dari mahasiswa, penduduk dan juga aparat.

Pada saat pimpinan ABRI menjamin tidak akan ada lagi perlakuan brutal karena kecaman dan berbagai pihak ternyata seruan itu hanya ‘ditampung saja’ oleh anak buahnya. Tindakan-tindakan tersebut sangat disesalkan apalagi di Hari Pendidikan Nasional. Aparat yang seharusnya memberi Pendidikan yang baik justru berlaku brutal di kampus calon-calon pendidik tersebut.

Untuk lebih mengetahui peristiwa itu lebih dalam, bergerak! Mewawancarai Ketua Senat Mahasiswa IKIP Jakarta, Hanri Basel di ruang kerjanya.

Setelah korban jatuh bagaimana tanggapan anda?

        Kami sangat menyesalkan kejadian tersebut, tindakan aparat saat itu sangat brutal dengan langsung menembaki kami dalam jarak dekat, memukuli kami sehingga teman kami ada yang patah tulang belikatnya. Pokoknya saat itu pembantaian dilakukan oleh aparat kepada kami.

Anda menyebutnya pembantaian?

        Ya, karena mereka menembaki dan memukuli kami. Kalau anda lihat foto di Sinar Pagi anda akan melihat hal tersebut, memang ada seorang polisi yang menolong. Dari ketua tim advokasi kami saudara Ibno yang melihat seorang polisi melindungi teman kami dari pukulan teman-temannya. Kami sangat berterima kasih dan menghargai tindakan beliau. Tapi sebagian besar dari mereka berlaku brutal bahkan mereka melempari gas air mata ke dalam kampus kami, malahan ada juga alumni kami yang dipukul dengan popor senjata.

Apakah itu akan menghentikan aksi mahasiswa IKIP?

        Tidak. Justru karena peristiwa kemarin menimbulkan emosi kami semua mahasiswa IKIP. Nah emosi yang mengambang itu harus diarahkan. Caranya kami mengadakan peringatan berkabung dengan panitia mahasiswa baru peserta LDMK hal ini dikaitkan juga dengan banyaknya korban dari angkatan baru tersebut. Selain itu pada Hari Sabtu itu pada pukul 16.00 kami langsung melakukan koordinasi dengan KM-Sejabotabek bahwa aksi kami akan terus berlangsung, bahkan dalam aksi-aksi ke depan kami akan melibatkan semua elemen masyarakat seperti buruh dan tokoh agama dengan pertimbangan bahwa merekalah yang memiliki massa.

Dari aksi-aksi yang telah dilakukan hingga saat ini baik di lingkungan IKIP sendiri maupun mahasiswa umumnya, apa yang dapat anda amati atau pelajaran apa yang anda dapat, berkaitan dengan aksi-aksi selanjutnya?

        Yang pertama adalah saya pribadi menjadi tahu opini masyarakat, khususnya yang di sekitar IKIP, mereka jelas-jelas mahasiswa. Terbukti dari aksi hari Sabtu kemarin. Ketika aparat membantai kami, masyarakat sekitar membantu memberikan perlindungan teman-teman kami yang lari dari kejaran aparat, maupun untuk keperluan seperti cuci muka dan lainnya. Bahkan mereka ada yang berani merebut pistol seorang petugas. Yang kedua saya mengamati bahwa aksi-aksi kami dan teman-teman di kampus lain cenderung mengarah pada gerakan mahasiswa Prancis ketika hendak menurunkan De Gaule yaitu aksi turun ke jalan itu dianggap sebagai aksi puncak sehingga mereka dengan mudah dipatahkan oleh De Gaule waktu itu.

Untuk menghindari hal itu terjadi, kira-kira langkah apa menurut anda yang harus dilakukan?

        Menurut saya kita harus mempersiapkan benar-benar kalau hendak aksi turun ke jalan. Yang terutama kita harus benar-benar mempersiapkan teman-teman paling depan yang harus siap dipukul oleh aparat. Karena dari peristiwa kemarin, begitu mendengar tembakan teman-teman kami langsung menjadi kacau balau. Mereka berebutan melarikan diri menghindar dari pentungan dan tembakan petugas sehingga semuanya menjadi tidak terkoordinasi.

Anda dari tadi menyebutkan adanya penembakan. Ada buktinya?

        Mereka menembak dengan pistol air dan peluru karet. Kami menemukan bukti selongsongan yang luput dari sisiran petugas, tetapi sekarang sedang dibawa Komnas HAM sebagai bukti.

Bagaimana tanggapan Rektorat selama ini?

        Sampai sejauh ini tanggapan mereka positif. Bahkan tanggal 1 Mei kemarin Rektor kamipun ikut berdemo. Begitu juga dalam aksi terakhir pihak rektorat ikut membantu perawatan pertama korban dan menanggung biaya lebih dari 20 teman-teman kami yang harus dirawat di rumah sakit.

 

Komentar



Berita Terkait