Bergerak! 5 Mei 1998: Editorial

Monday, 07 May 18 | 08:40 WIB

Rebut Makna Kekuasaan yang Sesungguhnya!

       

Bahasa adalah seni dan konvensi sosial yang berhubungan dengan struktur. Ada yang diperintah dan ada yang memerintah, ada penerima makna dan ada yang menentukan makna.

Quienn

 

        Pendapat ahli bahasa dan logika dari Prancis itu memang sesuai dengan realita. Dalam keseharian, bahasa merupakan faktor yang sangat menentukan dalam kehidupan manusia. Karena itulah seorang penguasa selalu berkeinginan memanfaatkan bahasa sebagai alat kepentingan politik dan kekuasaan. Bahasa dipakai untuk memaksakan makna tunggal kekuasaan. Sedangkan rakyat adalah obyek makna semata, yang selalu harus menerima apa maunya penguasa.

        Kita bias melihat implementasi dari manipulasi bahasa di negeri ini. Misalnya saja upaya pemerintah dalam mengatasi krisis yang hanya sebatas berkata tanpa diiringi tindakan nyata, dapat dilihat sebagai upaya mempermainkan bahasa rakyat. Bahasa yang menuntut perubahan Rakyat mencerna makna perubahan dengan melihat realitas yang ada terhadap tuntutan perubahan itu sendiri. Sementara penguasa menangkapnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan politis atas kekuasaannya.

        Penguasa menolak melakukan makna perubahan yang dicerna oleh rakyat, karena mereka menganggap hal itu akan mengancam kelangsungan kekuasaannya. Bagi penguasa, kelangsungan kekuasaan lebih utama daripada suara rakyat yang menuntut perubahan. Mereka bersikukuh pada makna perubahan menurut tafsirnya sendiri: “Perubahan secara gradual dan evolutif”. Bahkan perubahan politik sebagai syarat perubahan total ditunda sampai batas waktu kekuasaan “sang pemimpin besar” berakhir: tahun 2003. Sementara di luar sana rakyat sudah semakin menderita merasakan akibat permainan kata-kata penguasa yang hanya omong kosong untuk mengadakan perubahan.

        Pada saat bersamaan, rakyat semakin dibuat bingung dengan pernyataan-pernyataan yang tidak konsisten, kebijakan-kebijakan yang berubah-ubah secara instan, hingga siaran pers yang buru-buru diralat. Ini bukan berarti rakyat tidak mengerti atas apa yang dimaksud penguasa, tetapi menandakan bahwa bahasa penguasa sudah kehilangan makan di hadapan rakyatnya.

        Roda kekuasaan dapat berputar sempurna jika setiap kehendak penguasa mampu ditafsirkan dengan makna yang sama oleh rakyat. Saat mana Lelah tercipta kesenjangan makna antara rakyat dan penguasa, berarti penguasa sudah kehilangan legitimasi yang paling menentukan. Bahasa rakyat memang lugu, tapi ia jujur dan bermakna untuk menyuarakan keinginan zaman. Dari kita harus yakin, proses perubahan tidak akan berhenti hanya sebatas retorika.

Redaksi

 

Komentar



Berita Terkait