Bincang Santai Bersama Direktur Fasilitas UI: Pembangunan Signage, Trotoar, dan Tong Sampah Bambu di UI

Saturday, 14 December 19 | 10:12 WIB

Signage

Signage yang berada di lingkungan Universitas Indonesia.

Belakangan ini, berbagai pembangunan di UI dilakukan dengan gencar oleh Direktur Pengelolaan dan Pemeliharaan Fasilitas UI atau DPPF UI. Pembangunan tersebut tidak hanya bertujuan untuk membuat gedung bagi mahasiswa dan tenaga pengajar saja, melainkan juga pembangunan fasilitas-fasilitas di UI antara lain signage, trotoar, dan tong sampah bambu.

Signage atau yang lebih kenal sebagai plang, dapat ditemukan di berbagai area kampus Universitas Indonesia. Pembangunannya dimulai pada tahun 2013 dengan dibuatnya plang utama yang berukuran besar dan bertujuan untuk menunjukkan nama dan arah fakultas di UI dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Plang utama ini acapkali disebut sebagai free standing oleh pihak DPPF (Direktur Pengelolaan dan Pemeliharaan Fasilitas) UI. Sementara itu, plang dengan model lain dan berukuran lebih kecil dari plang utama diberi nama wayfinding yang baru dibangun pada pertengahan tahun 2019 dengan tujuan untuk menunjukkan lokasi suatu tempat di UI secara mendetail.

Gandjar Kiswanto, Direktur DPPF UI menjelaskan bahwa pihaknya sempat melakukan revisi terhadap signage  yang sudah mereka bangun sebelumnya. Pada awalnya, mereka membuat free standing dengan ukuran besar untuk pengendara kendaraan roda dua. Namun, ketika muncul kebutuhan dari pejalan kaki akan informasi serupa, mereka memutuskan untuk membuat wayfinding. Ternyata, wayfinding yang baru mereka bangun itu terlalu kecil sehingga hanya bermanfaat untuk pejalan kaki saja yang jumlahnya masih terbilang sedikit di area Universitas Indonesia. Akhirnya, DPPF UI membuat wayfinding baru dengan bentuk yang lebih besar untuk mengalokasi dua kebutuhan berbeda, yaitu akses informasi arah dari pejalan kaki yang berada di sekitar plang tersebut dan juga informasi arah untuk pengemudi kendaraan yang berada jauh dari keberadaan plang. Kesalahan lain juga terdapat dalam proyek freestanding  terdahulu oleh DPPF UI. Freestanding tersebut ternyata tidak menggunakan stiker dengan bahan mengilap di malam hari atau scotchlite. Penggunaan bahan stiker mengilap ini sebetulnya adalah model kedua yang dibuat DPPF setelah sebelumnya mereka membuat wayfinding yang hanya diterangi lampu namun tidak efisien karena seringnya penggantian lampu apabila lampu tersebut mati.

Selain signage berupa arah fakultas, gedung, dan tempat lainnya di UI, DPPF UI juga telah memiliki rencana untuk membuat wayfinding serupa yang menunjukkan peta layanan Bis Kuning (Bikun) dan juga Transjakarta. Wayfinding berupa peta layanan ini rencananya akan dipasang di seluruh halte bus di Universitas Indonesia. Legenda yang akan dicantumkan juga cukup lengkap karena akan menampilkan lokasi peta tersebut ditempel, jadwal kedatangan dari setiap bus, warna jalur bus yang bersangkutan (merah atau biru), hingga koridor Bus Transjakarta yang melewati halte tersebut. Jadwal kedatangan dan warna jalur bus menjadi hal yang cukup penting mengingat jadwal dan arah bus di UI pada pagi hari antara pukul 07:00 – 09:00 WIB memiliki perbedaan dengan waktu operasional  normal sehubungan pemberlakukan jalur satu arah di depan Stasiun Universitas Indonesia.

Ketika ditanya mengenai perkembangan aplikasi Bikun yang selama ini sudah mati, Gandjar menyatakan bahwa layanan tersebut sebenarnya telah mati dua kali. Aplikasi deteksi pertama yang bernama Bikun Mania telah mati karena pembuatnya merupakan mahasiswa yang sudah lama lulus dari UI. Sementara itu, aplikasi deteksi kedua yang bernama ManaBikun juga sudah mati karena pihak eksternal yang mengembangkannya sudah berganti model bisnis. Namun, ia berjanji bahwa aplikasi deteksi ini akan dikembangkan lagi dengan fitur yang lebih banyak. Aplikasi tersebut rencananya akan menyerupai aplikasi Tijeku yang merupakan besutan PT. Transportasi Jakarta dengan fitur yang telah dimodifikasi sesuai kebutuhan dari DPPF UI yang hanya menampilkan Bikun dan juga Transjakarta yang hanya melewati UI. Sayangnya, pihak DPPF UI belum memiliki rencana untuk menampilkan informasi kedatangan bus pada layar televisi di halte-halte UI seperti layaknya yang telah dilakukan di halte-halte Transjakarta.

Mengenai masalah wayfinding yang selama ini dirasa belum berpihak kepada penyandang disabilitas terutama tunanetra, Gandjar memiliki jawaban tersendiri. Menurutnya, DPPF UI tidak akan membangun wayfinding yang memiliki huruf Braille ataupun tombol yang dapat mengeluarkan suara. Alasannya sederhana, ia mengatakan bahwa pihaknya telah mempunyai solusi lainnya yang lebih optimal. Solusi tersebut sudah dilakukan uji coba di Fakultas Teknik UI dan berjalan sukses. Gandjar mengatakan bahwa pihaknya akan membantu tunanetra di UI dalam mencapai lokasi tujuannya dengan mengandalkan aplikasi Google Maps dan kemampuan pengenalan suara yang dimilikinya. Dengan teknologi ini, tunanetra dapat mencapai lokasi tujuan dengan bantuan suara dan trotoar dengan blok taktil yang sudah tersebar di berbagai lokasi di UI. Ia berharap agar tunanetra dapat menyesuaikan diri dengan era Revolusi 4.0.

Dalam perencanaan dan pembuatan signage ini, DPPF UI tidak bekerja sama dengan Institute for Transportation Development Policy atau ITDP yang merupakan salah satu lembaga non-pemerintah atau NGO dalam bidang perencanaan tata kota. DPPF UI telah melakukan riset di berbagai perguruan tinggi di luar negeri. Riset tersebut mencakup fon dan juga material yang dipakai. Sebagai penutupnya, dengan bangga Gandjar menyatakan, “Kami adalah satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang sudah membuat hal seperti ini. Di Indonesia belum ada loh, we are the only one!


Trotoar dengan Blok Taktil

Fasilitas pejalan kaki berupa jalan atau trotoar yang memiliki permukaan rata dan dilengkapi dengan blok taktil merupakan hal yang baru di Indonesia. Blok taktil sendiri adalah sebuah sarana berbentuk persegi yang berbahan plastik atau keramik dan memiliki tonjolan pada bagian atasnya yang berguna untuk memandu tunanetra yang sedang berjalan. Blok ini biasanya memiliki warna kuning namun juga dapat memiliki warna lainnya seperti abu-abu. Fasilitas pejalan kaki ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan akses berjalan kaki yang aman dan nyaman bagi semua kalangan termasuk lansia, ibu hamil, hingga penyandang disabilitas. Pembangunan fasilitas ini mulai menjadi konsentrasi beberapa pemerintah daerah di Indonesia seperti salah satunya Jakarta. Tidak hanya dibangun oleh pemerintah daerah, fasilitas ini juga banyak dibangun oleh BUMN, BUMD, hingga instansi yang terkait dengan pendidikan. Salah satu instansi pendidikan yang membangun akses jaringan pejalan kaki ini yakni Universitas Indonesia.

Pembangunan fasilitas pejalan kaki dengan blok taktil di Universitas Indonesia belum menjangkau semua area kampus. Berdasarkan penuturan dari Gandjar Kiswanto, pihaknya yaitu DPPF mengalami kekurangan dana untuk meneruskan proyek ini ke seluruh kampus akibat banyaknya proyek yang harus diselesaikan. Belakangan ini, DPPF UI baru saja menyelesaikan pembangunan fasilitas pejalan kaki di area Fakultas Ekonomi hingga ke Fakultas Teknik dan juga di antara Halte Pondok Cina – perlintasan kereta Pondok Cina.

Pembangunan fasilitas pejalan kaki di Fakultas Ekonomi dan Bisnis hingga ke Fakultas Teknik lebih diutamakan dibandingkan fakultas lainnya di UI. Pengutamaan ini didasarkan oleh penelitian yang pernah dilakukan oleh DPPF UI yang menyatakan bahwa mahasiswa yang melewati Fakultas Teknik (FT) bukan hanya mahasiswa fakultas itu sendiri melainkan juga mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) dan juga Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) yang banyak menempati indekos di daerah Kukusan Teknik (Kutek). Banyaknya mahasiswa yang melintas ini pada awalnya harus “berebut jalan” dengan kendaraan bermotor yang akan atau sudah parkir di depan gedung Fakultas Teknik. “Persaingan” ini dianggap DPPF UI sebagai sesuatu yang kurang baik untuk mewujudkan iklim transportasi aktif atau active transportation yang selama ini menjadi panduan DPPF UI untuk membangun UI. Untuk rencana kedepannya, trotoar dengan blok taktil ini akan dilanjutkan ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya setelah sebelumnya hanya sampai di ujung timur dari Jembatan Teknik-Sastra (Teksas).

Sebagai pelengkap dari fasilitas ini, kedepannya DPPF UI juga akan melengkapi jalur pejalan kaki yang sudah dibangun ditambah dengan peneduh, lampu, dan Muka Bangunan Aktif/Active Frontage. Peneduh atau atap akan dibuat untuk menghindarkan pejalan kaki dari sengatan matahari dan juga basah hujan. Dalam hal penambahan lampu, jalur pejalan kaki di dekat Kandang Rusa dan Taman Firdaus (Tamfir) akan mendapat prioritas terlebih dahulu sesuai dengan banyaknya permintaan yang masuk ke DPPF UI berdasarkan aspirasi mahasiswa UI. Selain penambahan lampu, DPPF UI juga sudah memiliki rencana untuk membuat Muka Bangunan Aktif di jalur pejalan kaki di Kandang Rusa. Konsep awalnya akan berupa kafe yang terintegrasi dengan jalur pejalan kaki. Diharapkan dengan adanya kafe ini, pejalan kaki dapat lebih betah.

Salah satu inovasi baru yang akan dilakukan oleh DPPF UI yakni dipasangnya tombol pejalan kaki yang terdapat di penyebrangan yang berada tepat di depan Stasiun Universitas Indonesia. Gandjar berkata bahwa pada awalnya, DPPF UI hanya memasang lampu lalu lintas dan penghitung waktu mundur sebagai pemberitahuan untuk memberhentikan kendaraan bermotor dan untuk mempersilakan pejalan kaki menyebrang. Namun menurut pengakuannya, sistem ini kurang efektif untuk memberhentikan laju kendaraan bermotor di area penyebrangan jalan untuk pejalan kaki. Akhirnya, pihaknya memasang suara yang nyaring dan khas agar pengendara bermotor dapat tergugah untuk berhenti dan mendahulukan pejalan kaki. Sayangnya, Gandjar sendiri menyatakan bahwa pihaknya belum memiliki rencana untuk memperluas penggunaan fitur penyeberangan seperti ini di Halte Teknik dan Halte Pondok Cina meskipun banyak orang yang menyeberang di sekitar halte tersebut.

Mengenai fasilitas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang bernama Aborsi di selatan Stasiun Universitas Indonesia, DPPF UI menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah memperbaiki gradien atau tingkat kemiringan dari jembatan ini meskipun mereka tahu bahwa banyak civitas akademika UI yang menyampaikan komplain kepada mereka. Alasannya didasarkan kepada fakta bahwa jembatan ini bukan dibuat oleh DPPF UI melainkan oleh PT Kereta Api Indonesia selaku pemilik dari stasiun yang bersangkutan, “Walau begitu, DPPF (UI -red) sebenarnya telah memiliki proyek lain untuk membuat jembatan dari Detos (Depok Town Square -red) ke Pocin (Pondok Cina -red). JPO ini insyallah akan dibuat landai dan memiliki desain yang menarik (seperti JPO baru-baru di Jakarta Pusat -red). JPO ini adalah hasil kerja sama antara DPPF, Detos, dan juga Perumnas (Perumahan Nasional -red),” tambah Gandjar.


Tong Sampah Bambu

Tong sampah bambu dan blok taktil di lingkungan Universitas Indonesia.

Selain kedua fasilitas di atas, fasilitas baru lainnya yang disediakan oleh DPPF UI yakni tong sampah. Tong sampah ini berbeda dengan tong sampah lain yang sudah lama berada di UI. Apabila, tong sampah lain mayoritas terbuat dari plastik atau aluminium dalam inovasi terbarunya, DPPF UI menghadirkan tong sampah yang berbahan dasar bambu. Tujuan dari pembuatannya yakni untuk menciptakan konsep UI sebagai kampus yang ramah lingkungan. Bambu sebagai bahan utama pembuatan tong sampah ini didapatkan oleh DPPF UI dari sekitar Danau Agatis dan diperoleh secara gratis.

Pembuatan tong sampah bambu bukan merupakan proyek CSR atau pengabdian masyarakat dari UI karena dalam pembuatannya, UI tidak merekrut tenaga dari penganyam bambu melainkan tim dari DPPF UI sendiri yang membuatnya. Alasannya yakni pembuatan tong sampah ini cukup mudah sehingga tidak dibutuhkan keahlian khusus untuk membuatnya. Meskipun mudah dibuat, tong sampah ini memiliki jarak yang terlalu lebar terutama pada bagian bawahnya sehingga sampah yang berukuran kecil sering lolos dari tong sampah dan mengotori permukaan di bawahnya. Gandjar mengatakan bahwa kerenggangan jarak antara bambu tersebut dapat terjadi karena pembuatan tong sampah tersebut yang mengikuti kecepatan pertumbuhan dari tanaman bambu. Faktor tersebut ditambah dengan faktor lainnya yakni keinginan untuk membuat tong sampah dalam waktu singkat namun dengan jumlah yang banyak. Namun, Gandjar berjanji akan memperbaiki ini karena sebelumnya ia juga sudah mendapatkan komplain atas hal tersebut.

Adapun DPPF UI mengonfirmasi bahwa belum adanya rencana untuk memperbanyak jumlah letak tong sampah berbahan bambun karena pihak DPPF UI pada saat ini hanya akan memasang tong sampah berbahan bambu tersebut pada tempat-tempat utama di UI.

Teks: Adrian Falah
Foto: Adrian Falah
Editor: Kezia Estha

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait