Buku Fotokopi Perpustakaan UI: Antara Kebutuhan dan Hak Cipta

Wednesday, 17 May 17 | 07:40 WIB

Perpustakaan Pusat (Perpusat) UI adalah salah satu unit pendukung utama kegiatan akademik. Di dalamnya terdapat sekitar 1,5 juta koleksi. Banyaknya koleksi itu belum mencukupi kebutuhan mahasiswa dalam meminjam buku. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya buku fotokopi di Perpusat.

Ketika disinggung mengenai buku fotokopi di Perpusat pada November lalu, Mariyah selaku Koordinator Layanan Perpustakaan UI bercerita bahwa buku-buku yang ada adalah gabungan buku perpustakaan fakultas, pembelian baru, tukar-menukar, dan hibah.

“Sebelumnya, perpustakaan di Universitas Indonesia dulunya terpencar. Beberapa fakultas seperti FT, FMIPA, FIB, FIK, FH, dan fakultas lainnya bergabung menjadi satu memberikan sebagian bukunya ke Perpusat,” ujar Mariyah.

Mariyah menyatakan bahwa regulasi pengadaan koleksi perpustakaan idealnya tidak boleh memiiki koleksi fotokopi ataupun buku bekas. Namun ia juga mengakui terkadang hal tersebut dilanggar karena keterbatasan anggaran sedangkan kebutuhan akan buku-buku harus dipenuhi walaupun sebenarnya hal ini tidak dapat dibenarkan.

Adanya human error seperti ketidakcermatan petugas saat menangani pengembalian buku oleh mahasiswa yang menghilangkan juga menjadi sebab hadirnya buku fotokopi di Perpusat. “Kebijakan di perpustakaan fakultas memperbolehkan adanya buku-buku fotokopi meskipun hal ini tidak sejalan dengan peraturan Perpusat yang tidak memperbolehkan pengadaan koleksi buku fotokopi,” jelas Mariyah.

Sementara itu, Ketua Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi UI, Tamara Adriani Salim menyatakan bahwa pada dasarnya buku memang tidak boleh difotokopi. Semua buku di perpustakaan harus buku yang orisinal meskipun batas orisinalitas itu sangat relatif.

Salah satu buku Fotokopi yang ada di Perpustakaan UI

“Dalam dunia pendidikan, ada aturan bahwa suatu buku tidak boleh difotokopi seluruhnya. Namun jika suatu buku diperlukan dan tidak untuk tujuan komersialisasi, maka untuk alasan pendidikan, hal tersebut diperbolehkan,”

Selain itu, Dosen yang telah mengajar sejak tahun 1992 itu berpendapat bahwa alasan banyaknya buku fotokopi karena penugasan mata kuliah yang mengharuskan tiap mahasiswa membaca buku yang sama, sehingga pihak perpustakaan terpaksa memfotokopi.

“Menurut saya, salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah pihak universitas mengajukan pembelian hak cipta kepada penulis dan penerbit agar mahasiswa bisa memperbanyak buku tersebut dengan taat hukum dan tetap berpegang pada penghargaan hak cipta,” ujar Tamara.

Jika berdasarkan pada hukum yang berlaku, perlindungan atas hak cipta telah dilindungi dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014.

Tamara juga mengatakan bahwa jika penulis sudah mendapatkan copyright dan buku telah mendapatkan nomor ISBN resmi, penulis memiliki kekuatan secara hukum yang valid atas dasar Hak Atas Kekayaaan Intelektual (HAKI) untuk mengajukan tuntutan jika ada pihak yang memperbanyak bukunya atas dasar apapun.

Meskipun begitu, menurut Tamara, perpustakaan mendapatkan justifikasi untuk memperbanyak buku hanya untuk alasan preservasi seperti buku yang sangat langka keberadaannya yang mengharuskan buku asli tersebut disimpan dan boleh difotokopi secara legal.

Bagi Tamara, pihak-pihak universitas seharusnya mulai meninggalkan kebiasaan yang sudah terinternalisasi ini. Buku fotokopi selain merugikan pencipta, juga dapat berdampak kepada pembaca.

Contohnya buku-buku sains seperti buku biologi dan kedokteran yang membutuhkan halaman dengan cetakan berwarna untuk memperjelas ilmu dalam buku itu, jika buku tersebut difotokopi maka warna halaman hanya akan menjadi hitam putih sehingga pengetahuan tidak bisa didapatkan secara seutuhnya.

Ketika ditanya mengenai langkah yang telah dilakukan, Mariyah mengungkapkan adanya kebijakan pengadaan koleksi yang diperketat supaya tidak ada buku fotokopi atau bajakan yang masuk. Tambahnya, ada juga peninjauan buku-buku fotokopi lama yang sedang dalam proses dikeluarkan untuk memberikan ruangan bagi buku-buku baru yang terjamin orisinalitasnya.

 

Teks: Alexandro Daniel Marthin dan Elsa Manora
Foto: Diana
Editor: Eri Tri Anggini

Komentar



Berita Terkait