Butuh Alat Khusus Untuk Amati Gerhana Matahari

Tuesday, 08 March 16 | 04:36 WIB

Akibat dari Gerhana Mahatahari Total (GMT), ada beberapa hal yang terjadi di alam, diantaranya, langit akan menjadi gelap seperti malam hari, sehingga suhu akan turun secara tiba-tiba.

(Baca: Membaca Siklus Gerhana Matahari)

Menanggapi adanya GMT di Indonesia, Widya Sawitar selaku pembina Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) memaparkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung menyambut GMT dengan gembira, karena dapat menikmati kesempatan langka semacam itu.

“Ini (GMT 2016—red) mengingatkan kita pada gerhana 1983 yang dahulu disambut dengan rasa takut, namun kini sudah berbeda. Bahkan di setiap daerah yang dilalui jalur total, begitu semarak dengan promosi untuk menyaksikan fenomena tersebut,” ungkapnya.

Namun, Widya juga menerangkan bahwa yang menjadi catatan penting adalah, gerhana matahari harus diamati dengan cara-cara yang aman, sehingga tidak merusak mata yang sensitif.

Proyeksi lubang jarum

Proyeksi lubang jarum

Menurut Widya, gerhana matahari parsial atau gerhana yang terjadi sebelum fase total dapat diamati dengan kacamata atau dengan filter khusus matahari.

Filter tersebut harus mampu meredam kecerlangan matahari hingga 100.000 kali lebih redup daripada cahaya tampak, sinar UV, dan inframerah, yaitu dengan menggunakan kotak kamera lubang jarum (pinhole camera), atau proyeksi lubang jarum.

Cara kerja dari kamera atau proyeksi jarum adalah dengan membiarkan cahaya matahari masuk melalui lubang atau sempit dan kemudian di proyeksikan pada sebuah bidang datar.

Proyeksi lubang jarum dapat dibuat sendiri dengan bahan kardus, kertas HVS putih, dan alumunium foil yang telah dilubangi dengan menggunakan jarum.

Kamera lubang jarum (pinhole camera)

Kamera lubang jarum (pinhole camera)

Selain itu, Widya juga menjelaskan bahwa walau gerhana matahari dapat dilihat dengan menggunakan alat-alat tersebut, namun momentum tetap harus diperhitungkan.

“Sepuluh detik menjelang fase totalitas, kacamata atau filter matahari dapat dilepas. Gunakan kembali kacamata atau filter sesaat (sebelum—red) fase totalitas hampir berakhir,” paparnya.

Hal yang Dapat Diamati Saat Gerhana Matahari

Menurut Widya, dalam bidang ilmu fisika, manusia akan mampu mengamati berbagai macam fenomena khas gerhana matahari, seperti efek cincin berlian, adanya manik-manik baily yang muncul akibat permukaan bulan yang tidak merata, lapisan-lapisan luar matahari yang redup seperti kromosfer dan korona, serta aktivitas matahari.

“Bahkan, teori relativitas umum Einstein pun pertama kali dibuktikan saat terjadinya gerhana matahari total karena adanya pembelokan cahaya bintang akibat melengkungnya ruang di sekitar matahari,” ujarnya.

Widya juga memaparkan bahwa ketika terjadi peristiwa gerhana, secara biologis, manusia akan mampu mengamati perilaku hewan yang unik, misalnya pada kelelawar dan hewan-hewan laut.

Terkait dokumentasi fenomena tersebut, Widya berharap bahwa hasil yang didapat akan menjadi lebih presisi dari aspek penelitian karena sudah semakin didukung dengan peralatan yang semakin canggih.

Menurutnya, yang jelas, fenomena alam tersebut akan berdampak pada berbagai aspek ilmu pengetahuan, teknologi, hingga dampak sosial budaya dalam arti seluas-luasnya.

Vanda Situmeang

Gambar: news.detik.com, infoastronomy.org, dan sciencebuddies.org

Editor: Frista Nanda Pratiwi

 

Komentar



Berita Terkait